Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Februari 2025 | 18.44 WIB

Cinta atau Manipulasi? Kenali 7 Cara Pasangan Toxic Merusak Kepercayaan Dirimu secara Perlahan

Ilustrasi: Pasangan bertengkar. (Pexels/Alena Darmel) - Image

Ilustrasi: Pasangan bertengkar. (Pexels/Alena Darmel)

JawaPos.com – Dalam hubungan yang sehat, cinta seharusnya memberikan rasa aman, dukungan, dan kepercayaan diri. Namun, dalam hubungan toxic, kata “cinta” sering kali disalahgunakan untuk menyembunyikan manipulasi dan kontrol.

Pasangan yang toxic sering kali mengklaim bahwa tindakan atau kata-kata mereka adalah bentuk cinta, tetapi kenyataannya, mereka justru merusak kepercayaan diri korban dengan cara yang halus dan destruktif.

Mereka menciptakan ketergantungan emosional yang mengikis rasa percaya diri, sehingga korban merasa tak berdaya dan tidak bisa hidup tanpa mereka.

Melansir dari laman Geediting, Rabu (26/2), dalam artikel ini akan membahas 7 cara pasangan toxic secara perlahan merusak kepercayaan diri korban dengan menggunakan “cinta” sebagai alat untuk mengontrol korban.

  1. Membuat korban meragukan penilaiannya sendiri

Pasangan yang toxic menggunakan manipulasi emosional untuk meremehkan perasaan pasangannya, dengan cara membuat mereka merasa terlalu sensitif atau dramatis setiap kali menyuarakan perasaan atau ketidaknyamanan terhadap pasangan.

Hal ini menyebabkan korban meragukan diri sendiri dan menekan perasaan mereka, yang pada akhirnya mengurangi kepercayaan diri mereka.

Tujuannya adalah untuk mempertahankan kontrol atas pasangannya dan memastikan bahwa tindakan mereka tidak dipertanyakan atau diprotes.

  1. Membuat korban merasa tidak pernah cukup

Pasangan yang toxic membuat korbannya merasa tidak cukup, meskipun korban sudah berusaha keras untuk memberikan segalanya.

Mereka terus-menerus mengkritik dan mencari alasan untuk membuat korban merasa gagal, sehingga korban terus berusaha mencari persetujuan atau validasi mereka.

  1. Selalu menyalahkan korban apapun masalahnya

Dalam hubungan yang toxic, pasangan selalu memusatkan penyebab masalah pada korban, membuat korban merasa bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi, baik itu suasana hati buruk, kelupaan sesuatu, atau kemarahan mereka.

Meskipun korban berusaha sangat hati-hati agar tidak menyinggung pasangannya, masalah tetap tidak akan berubah karena pasangan hanya mencari seseorang untuk disalahkan, yaitu korban.

  1. Membuat korban takut untuk berbicara

Dalam hubungan yang toksik, korban cenderung memilih untuk diam dan menahan perasaannya karena mengungkapkan perasaan justru sering berujung pada pertengkaran.

Pasangan memanipulasi situasi dengan memutarbalikkan kata-kata dan membuat korban merasa dia yang salah, sehingga merasa tidak ada gunanya berbicara dan pada akhirnya korban meminta maaf, meski dia tidak bersalah.

Akibatnya, korban mulai menekan perasaannya untuk menghindari konsekuensi negatif, meskipun perasaan tersebut seharusnya sah untuk diungkapkan.

  1. Membuat korban merasa bersalah karena menginginkan lebih

Dalam hubungan yang toksik, korban mulai meragukan kebutuhan dan harapan mereka. Mereka ingin dihargai dan didengarkan, tetapi setiap kali mengungkapkan keinginan, pasangan membuat mereka merasa keinginannya itu egois.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore