Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Januari 2025 | 23.55 WIB

8 Ciri Orang yang Kurang Keterampilan Berpikir Kritis Dasar Menurut Psikologi, Apa Saja?

Ciri kurang keterampilan berpikir kritis menurut psikologi. (Freepik/ katemangostar)

JawaPos.com – Kemampuan berpikir kritis adalah salah satu keterampilan dasar yang penting untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan ini dengan baik.

Dalam psikologi, terdapat sejumlah ciri yang menunjukkan seseorang kurang keterampilan berpikir kritis dasar. Hal ini bisa berdampak pada cara mereka membuat keputusan, memproses informasi, hingga menghadapi masalah.

Dilansir dari Hack Spirit pada Selasa (14/1), diterangkan bahwa terdapat delapan ciri orang yang kurang memiliki keterampilan berpikir kritis dasar menurut Psikologi.

  1. Mengambil kesimpulan terlalu cepat

Salah satu kebiasaan yang sering kita temui adalah kecenderungan seseorang untuk langsung membuat keputusan tanpa mempertimbangkan seluruh fakta yang ada. Kebiasaan ini seringkali muncul ketika seseorang membentuk opini atau mengambil keputusan secara terburu-buru, tanpa mengambil waktu untuk mengevaluasi semua informasi yang relevan.

Hal ini bukan tentang menjadi spontan atau impulsif, melainkan tentang situasi di mana pemikiran dan pertimbangan yang cermat seharusnya dilakukan namun diabaikan demi mendapatkan jawaban yang cepat dan mudah.

Sebagai contoh, ketika mendengar rumor tentang rekan kerja, orang dengan kebiasaan ini akan langsung mempercayainya tanpa mempertanyakan sumber atau kebenaran informasi tersebut.

  1. Terlalu mengandalkan perasaan

Meski penting untuk mendengarkan emosi, terlalu bergantung pada perasaan dengan mengesampingkan penalaran logis bisa menjadi tanda kurangnya kemampuan berpikir kritis. Orang-orang yang terlalu mengandalkan emosi dalam mengambil keputusan cenderung mengabaikan fakta, data, dan argumentasi logis yang ada di hadapan mereka.

Mereka lebih sering membuat pilihan berdasarkan apa yang “terasa benar” dibandingkan dengan apa yang secara objektif merupakan tindakan terbaik.

Misalnya, seseorang memilih pekerjaan hanya karena memiliki “perasaan bagus” tentang perusahaan tersebut, meskipun gaji, tunjangan, dan kondisi kerjanya secara objektif lebih buruk dari tawaran lain.

  1. Ketidakmampuan melihat perspektif berbeda

Saat seseorang cenderung berpegang teguh pada sudut pandangnya sendiri tanpa mempertimbangkan ide-ide alternatif, ini menunjukkan keterbatasan dalam berpikir kritis. Berpikir kritis seharusnya melibatkan keterbukaan pikiran yang memungkinkan kita menantang keyakinan sendiri dan mempertimbangkan bukti-bukti baru sebelum membuat kesimpulan.

Misalnya dalam debat tentang perubahan iklim, seseorang yang kurang kemampuan berpikir kritisnya akan tetap berpegang pada gagasan awal mereka tanpa mempertimbangkan bukti ilmiah yang disajikan oleh pihak lain.

Sikap keengganan atau ketidakmampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang alternatif ini dapat mengarah pada keyakinan dan keputusan yang keliru.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore