
Seseorang sedang mempermainkan rasa bersalah dari temannya.
JawaPos.com – Sebagai individu, setiap orang tentu mendambakan pengertian dan perlakuan yang adil dari orang lain.
Namun, dalam menjalin hubungan dengan orang lain ini terkadang diliputi dengan kesalahan yang pernah diperbuat.
Bahkan, beberapa orang justru menggunakan perasaan bersalah sebagai alat manipulatif untuk mengendalikan orang lain atau biasa disebut playing victim.
Sebenarnya, perilaku ini akan menjadikan hubungan menjadi toxic seiring berjalannya waktu.
Dilansir dari Small Biz Technology, perilaku-perilaku ini harus diketahui untuk memahami bahwa seseorang sedang menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikan orang lain.
1. Selalu Berperan sebagai Korban
Berpura-pura menjadi korban merupakan cara klasik yang digunakan oleh seseorang untuk memanipulasi orang lain dengan rasa bersalah.
Perilaku ini dilakukan dengan tujuan untuk memunculkan rasa simpati dan kasihan dari orang lain.
Bahkan mereka tidak segan untuk memutarbalikkan narasi perselisihan atau konflik dengan orang lain, sehingga seolah-olah dirinya yang tersakiti.
2. Sering Mengungkit Kesalahan Masa Lalu
Semua orang pernah melakukan kesalahan. Namun, jika seseorang selalu mengungkit kesalahan orang lain di masa lalu, bisa jadi mereka punya sifat playing victim.
Misalnya, ketika sedang berselisih, mereka mungkin mengatakan “Ingatkah saat kamu…” dan menggunakannya sebagai senjata untuk membuat orang lain merasa bersalah.
Bahkan perilaku itu juga dilakukan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dihadapi.
3. Merendahkan Harga Diri Orang Lain
Orang yang menggunakan rasa bersalah untuk memanipulasi biasanya dilakukan dengan merendahkan harga diri orang lain.
