Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Januari 2025 | 22.19 WIB

Orang yang Mengira Dirinya Baik tapi Sebenarnya Tidak, Biasanya Punya 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi, Apa Saja?

Perilaku orang yang mengira dirinya baik menurut Psikologi. (Freepik/ stockking) - Image

Perilaku orang yang mengira dirinya baik menurut Psikologi. (Freepik/ stockking)

JawaPos.com – Dalam psikologi, persepsi diri sering kali berbeda dengan kenyataan, termasuk dalam hal merasa diri baik. Ada individu yang mengira dirinya memiliki sifat yang positif, tetapi perilakunya menunjukkan sebaliknya.

Beberapa perilaku ini mungkin tersembunyi di balik niat yang tampak positif, namun sebenarnya berkebalikan atas kenyataan. Memahami pola-pola tindakan seperti ini dapat membantu mengidentifikasi dan memperbaiki aspek yang kurang selaras dengan nilai kebaikan yang sejati.

Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (5/1), diterangkan bahwa terdapat delapan perilaku orang yang mengira dirinya baik namun sebenarnya justru kebalikannya menurut Psikologi.

  1. Seberapa cepat melabeli diri baik

Orang-orang yang menganggap dirinya baik hati sering terjebak dalam perilaku mengiklankan kebaikannya sendiri. Mereka kerap menyampaikan kepada orang lain tentang tindakan baik yang telah mereka lakukan, seolah mencari validasi dan pengakuan.

Motivasi utama di balik tindakan baik mereka sebenarnya lebih didorong oleh keinginan untuk dipandang sebagai orang yang murah hati, bukan ketulusan untuk membantu sesama. Pada dasarnya, kebaikan sejati tidak memerlukan pengakuan atau penonton karena sifatnya yang tulus dan tanpa pamrih.

  1. Efek halo yang menipu

Fenomena efek halo sering kali menjebak seseorang dalam persepsi yang keliru tentang dirinya sendiri. Ketika seseorang melakukan beberapa tindakan baik, mereka cenderung menganggap bahwa seluruh perilaku mereka pasti juga baik dan dapat dibenarkan.

Padahal kenyataannya, seseorang bisa saja melakukan kebaikan di satu situasi namun bertindak tidak baik di situasi lainnya. Pemahaman bahwa kepribadian manusia itu kompleks dan tidak selalu konsisten menjadi kunci untuk menghindari jebakan efek halo ini.

  1. Kesulitan menerima kritik

Orang yang terlalu yakin dengan kebaikan dirinya seringkali menunjukkan resistensi tinggi terhadap masukan dari orang lain. Ketika mendapat kritik, mereka cenderung defensif dan sulit menerima karena sudah terlanjur membangun citra diri yang sempurna.

Padahal kemampuan menerima kritik justru menunjukkan kematangan dan ketulusan seseorang dalam berbuat baik. Keterbukaan terhadap masukan merupakan tanda bahwa seseorang benar-benar ingin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

  1. Lemah dalam mendengarkan

Mereka yang mengklaim diri baik hati namun sebenarnya tidak, sering menunjukkan ketidakmampuan dalam menjadi pendengar yang baik. Kebiasaan memotong pembicaraan, memberikan saran yang tidak diminta, atau mengalihkan topik ke pengalaman pribadi menjadi ciri khas mereka dalam berkomunikasi.

Ketidakmampuan mendengarkan ini membuat lawan bicara merasa tidak dihargai dan tidak penting. Yang membuat situasi lebih buruk, mereka sering tidak menyadari bahwa perilaku tersebut justru bertentangan dengan konsep kebaikan yang mereka yakini.

  1. Kebaikan yang selektif

Ada fenomena menarik di mana seseorang hanya menunjukkan kebaikan kepada kelompok tertentu yang menguntungkan mereka. Perilaku ini terlihat jelas ketika mereka harus memilih antara membantu teman dekat atau kenalan biasa yang sama-sama membutuhkan bantuan.

Selektivitas dalam berbuat baik ini menunjukkan bahwa kebaikan mereka sebenarnya didasari oleh kepentingan pribadi, bukan ketulusan. Sikap diskriminatif dalam berbuat baik ini bertentangan dengan esensi kebaikan sejati yang seharusnya universal dan konsisten.

  1. Kurangnya empati

Empati menjadi komponen crucial dalam menunjukkan kebaikan sejati, namun sayangnya tidak semua orang mampu mengembangkannya. Banyak orang yang mengaku baik hati ternyata kesulitan untuk benar-benar memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain.

Ketidakmampuan berempati ini seringkali tertutupi oleh tindakan-tindakan baik yang superfisial atau dangkal. Meski demikian, empati bukanlah kemampuan bawaan yang tetap, melainkan keterampilan yang bisa dilatih dan dikembangkan seiring waktu.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore