
Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. (pexels.com)
JawaPos.com - Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak adalah bagian penting dalam membesarkan mereka agar siap menghadapi dunia.
Saat anak merasa percaya diri, mereka lebih mudah berkembang, lebih berani menghadapi tantangan, dan lebih mampu menghargai diri sendiri.
Namun tanpa disadari, beberapa kebiasaan orang tua justru bisa melemahkan rasa percaya diri anak.
Dilansir dari laman Hack Spirit pada Rabu (13/11), berikut ini beberapa kebiasaan yang perlu dihindari, disertai tips parenting yang bisa Anda terapkan sebagai cara menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Kritik yang konstruktif memang diperlukan untuk mengajarkan anak agar belajar dari kesalahan. Namun, terlalu sering mengkritik bisa membuat anak merasa tidak pernah cukup baik, dan ini akan merusak rasa percaya dirinya.
Sebagai gantinya, cobalah lebih banyak memberi pujian atas usaha yang mereka lakukan, bukan hanya hasilnya. Ketika anak merasa usahanya dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk terus mencoba dan tidak takut gagal.
Sering kali, tanpa sadar, orang tua membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya dengan harapan bisa memotivasi mereka. Namun, membandingkan hanya akan membuat anak merasa rendah diri dan tidak cukup baik.
Lebih baik, fokuslah pada keunikan dan potensi yang dimiliki anak. Setiap anak itu spesial dengan kemampuannya masing-masing, dan sebagai orang tua, tugas kita adalah mendukung perkembangan tersebut, bukan membandingkannya dengan anak lain.
Sikap overprotektif adalah salah satu kebiasaan orang tua yang dapat membatasi eksplorasi anak. Tentu, semua orang tua ingin melindungi anaknya dari bahaya, namun terlalu protektif malah bisa membuat anak tidak percaya pada kemampuannya sendiri.
Biarkan mereka belajar mandiri, mencoba hal-hal baru, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka. Tentu saja, tetap perhatikan keselamatan mereka, tetapi beri ruang agar anak dapat tumbuh dengan keberanian yang seimbang.
Mengabaikan atau tidak memberikan apresiasi atas usaha anak bisa membuat mereka merasa tidak dihargai. Setiap kali anak melakukan sesuatu yang baik, cobalah memberikan pujian atau pengakuan atas pencapaian tersebut.
Apresiasi sederhana, seperti “Kamu hebat sekali!” atau “Ayah dan Ibu bangga padamu!” dapat meningkatkan kepercayaan diri anak secara signifikan. Ingat, apresiasi dari orang tua adalah dorongan yang sangat berharga bagi perkembangan anak.
Mengabaikan pendapat atau perasaan anak dapat membuat mereka merasa tidak dihargai, yang berujung pada rendahnya rasa percaya diri. Sebaliknya, cobalah untuk mendengarkan mereka, walaupun ide atau pemikiran mereka terlihat sepele.
Saat anak merasa didengar, mereka belajar bahwa pendapat mereka berharga dan bahwa mereka bisa berbicara tanpa takut diabaikan. Ini adalah cara menumbuhkan rasa percaya diri anak yang sangat sederhana namun sangat efektif.
Kebiasaan memberi label negatif, seperti “anak malas,” “nakal,” atau “bodoh,” bisa sangat merusak. Label negatif ini bisa tertanam di benak anak dan membuat mereka percaya bahwa mereka memang seperti itu.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
