Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 November 2024 | 21.37 WIB

Jika Ingin Memberi Efek Positif untuk Tumbuh Kembang Anak, Tinggalkan 8 Kebiasaan Buruk Ini Menurut Psikologi

INDIKATOR: Afi (kanan) dan Memey membandingkan tinggi badan mereka kemarin. Tinggi badan sering dijadikan patokan tumbuh kembang anak-anak yang sebaya. Mereka yang stunting pertumbuhan fisiknya lebih lambat. (IMAM HUSEIN/JAWA POS) - Image

INDIKATOR: Afi (kanan) dan Memey membandingkan tinggi badan mereka kemarin. Tinggi badan sering dijadikan patokan tumbuh kembang anak-anak yang sebaya. Mereka yang stunting pertumbuhan fisiknya lebih lambat. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

JawaPos.com - Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Memberi efek positif pada tiap tumbuh kembang anak adalah prestasi yang dimau semua orang tua.

Namun, kenyataannya masalah mengasuh anak tak semudah mengucap dan membayangkannya. Ada banyak faktor yang membuat kita jadi kadang lepas kontrol dalam mendidik mereka.
 
Meski begitu, mau tak mau Anda harus mulai meninggalkan kebiasaan buruk dalam mendidik anak bila ingin memberi efek positif pada mereka seiring bertambahnya usia.
 
Dikutip dari Blog Herald, ini 8 kebiasaan buruk yang harus Anda tinggalkan jika ingin memberi efek positif pada tumbuh kembang anak. 
 
 
1) Meneriaki mereka
 
Berteriak kepada anak tidak membantu apapun meski kita sudah kepalang kesal. Malah, hal itu dapat lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaatnya.
 
Penelitian menunjukkan bahwa berteriak dapat menimbulkan rasa takut dan cemas pada anak, sehingga berdampak pada perkembangan emosional mereka.
 
Alih-alih berkomunikasi secara efektif, berteriak sering kali memperburuk situasi dan mengajarkan anak Anda bahwa perilaku seperti itu dapat diterima.
 
Oleh karena itu, cobalah komunikasi yang tenang dan jelas. Kadang-kadang mungkin terasa sulit, tetapi tetap tenang dan menjelaskan sudut pandang Anda dapat menghasilkan hasil yang jauh lebih positif.
 
2) Terlalu kritis
 
Faktanya, bersikap terlalu kritis dapat merusak harga diri dan kepercayaan diri anak. Anda tak bisa melakukannya terus-menerus saat mereka tak seusai ekspektasi.
 
Hal itu dapat membuat mereka merasa seperti mereka selalu gagal memenuhi harapan. Padahal itu bukanlah perasaan yang kita inginkan untuk anak-anak kita bawa hingga mereka dewasa.
 
Jadi sekarang, cobalah menahan diri sebelum tergelincir ke mode kritis itu. Mulak memberikan masukan yang membangun, dengan fokus pada apa yang dilakukan anak saya dengan benar dan bagaimana ia dapat memperbaikinya, dan bukan hanya sekadar menunjuk kesalahannya.
 
3) Mengabaikan perasaan mereka
 
Salah satu cara terbaik untuk menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak Anda adalah dengan mengakui perasaan mereka.
 
Mengabaikan atau mengabaikan emosi anak Anda – entah itu kegembiraan, ketakutan, kesedihan, atau kemarahan – dapat menyebabkan mereka menekan perasaannya.
 
 
Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk memproses emosi dan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
 
Sebagai orang tua, kita perlu mengakui perasaan anak-anak kita. Ini tidak berarti kita harus selalu setuju dengan mereka, tetapi penting untuk menunjukkan kepada mereka bahwa perasaan mereka didengar dan dihormati.
 
Lain kali anak Anda kesal, alih-alih mengatakan, “Kamu baik-baik saja,” cobalah mengatakan, “Ibu lihat kamu kesal. Bisakah kamu ceritakan lebih lanjut?”
 
Respons semacam ini tidak hanya memvalidasi perasaan mereka, tetapi juga mendorong mereka untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan kecerdasan emosional.
 
4) Kurangnya konsistensi
 
Jika kita tidak konsisten dengan aturan atau konsekuensi yang kita berikan, hal itu akan memberikan sinyal yang membingungkan kepada anak-anak kita. Suatu hari, mereka diizinkan untuk begadang, dan hari berikutnya mereka dihukum karenanya.
 
Ketidakkonsistenan semacam ini dapat membingungkan dan dapat menimbulkan masalah perilaku.
 
Menjaga konsistensi tidak hanya membantu anak Anda memahami apa yang diharapkan dari mereka, tetapi juga membantu membangun kepercayaan.
 
Ketika kata-kata Anda sesuai dengan tindakan Anda secara konsisten, anak Anda belajar bahwa mereka dapat mengandalkan Anda dan ini memperkuat pengaruh Anda sebagai orang tua.
 
Jadi, jika Anda menetapkan aturan atau konsekuensi, patuhi aturan atau konsekuensi tersebut. Namun, perlu diingat, bersikap konsisten bukan berarti tidak fleksibel.
 
5) Tidak mengakui kesalahan sendiri
 
Tidak ada satu pun dari kita yang sempurna, termasuk kita sebagai orang tua. Kita melakukan kesalahan, kita kehilangan kesabaran, kita mengatakan hal-hal yang tidak kita maksudkan. Dan itu tidak apa-apa, selama kita mengakuinya.
 
Bila kita menolak mengakui kesalahan, kita justru mengajarkan anak-anak kita bahwa berbuat salah itu saklek tidak baik. Padahal, membuat kesalahan adalah bagian penting dari pembelajaran dan pertumbuhan.
 
Mengakui kesalahan dan meminta maaf saat kita salah menunjukkan kepada anak-anak kita bahwa melakukan kesalahan itu wajar. Hal ini mendorong mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan belajar dari kesalahan mereka.
 
6) Mengabaikan perawatan diri sendiri
 
 
Merawat diri sendiri secara fisik, emosional, dan mental bukanlah hal yang egois. Itu perlu. Saat kita dalam kondisi terbaik, kita dapat memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita. Kita menjadi pendengar yang lebih baik, pemandu yang lebih baik, dan panutan yang lebih baik.
 
Jadi jangan merasa bersalah untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri .
 
Baik itu secangkir kopi di pagi hari, sesi olahraga, atau sekadar waktu untuk membaca atau bersantai – Anda membutuhkan dan pantas mendapatkannya. Anak Anda akan mendapatkan manfaat dari Anda yang lebih bahagia dan lebih sehat.
 
7) Terlalu melindungi mereka
 
Kita sebagai orang tua tentu ingin melindungi anak dari setiap benturan dan memar, setiap tantangan dan kekecewaan. Namun, dengan melakukan itu, kita mungkin merugikan mereka.
 
Hidup ini penuh dengan pasang surut, dan bagian dari tumbuh kembang adalah belajar bagaimana menghadapinya. Bila kita terus-menerus turun tangan untuk memecahkan masalah anak kita, kita mengabaikan kesempatan mereka untuk mempelajari keterampilan penting dalam memecahkan masalah.
 
Alih-alih terburu-buru menolong mereka setiap saat, berikan anak Anda ruang untuk menangani masalah mereka. Tawarkan bimbingan dan dukungan, tetapi biarkan mereka yang memimpin. Ini akan membantu membangun kepercayaan diri, ketahanan, dan kemandirian mereka.
 
8) Gagal menunjukkan cinta tanpa syarat
 
 
Anak perlu tahu bahwa cinta Anda kepada mereka tidak pernah goyah, apa pun yang terjadi. Mereka perlu merasa dicintai bukan karena prestasi atau perilaku mereka, tetapi karena siapa mereka.
 
Anak-anak yang merasa dicintai tanpa syarat cenderung lebih aman, tangguh, dan sukses dalam hidup. Mereka cenderung mengembangkan harga diri yang sehat dan memiliki hubungan yang lebih kuat.
 
Jadi, pastikan anak Anda tahu bahwa cinta Anda kepada mereka tidak terikat pada nilai, perilaku, atau prestasi mereka. Beri tahu mereka bahwa Anda mencintai mereka apa adanya – unik, luar biasa, dan tak tergantikan.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore