Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 September 2024 | 16.19 WIB

Apakah Gula Artifisial dan Alternatif Aman bagi Kesehatan? Simak dan Pahami Informasi Berikut!

Ilustrasi gula putih (freepik/jcomp) - Image

Ilustrasi gula putih (freepik/jcomp)

JawaPos.com – Gula merupakan pemanis yang sudah dipakai sejak berabad-abad yang lalu. Namun, gula sebagai pemanis makanan dan minuman perlahan mulai dikurangi bahkan ditinggalkan pemakaiannya.

Di balik rasa manis gula, disebut tersimpan ancaman penyakit yang mengintai dan menampakan diri pada usia senja. Akibatnya, pamor gula sebagai penambah rasa manis dalam minuman atau makanan ringan mulai turun dan ditinggalkan oleh masyarakat.

Menyikapi situasi tersebut, produsen atau industri minuman mulai meluncurkan produk gula alternatif dan artifisial sebagai jalan tengah atau solusi bag para penikmat rasa manis yang takut atau sudah sakit karena gula konvensional.

Produk gula pengganti ini adalah solusi bagi masyarakat agar tetap bisa mengkonsumsi makanan atau minuman dengan rasa manis tetapi aman dari ancaman penyakit, contohnya diabetes. Solusi industrial ini cukup marak di tengah konsumen atau penikmat rasa manis.

Gula artifisial dan alternatif lahir dari rasa takut hingga intimidasi terhadap gula konvensional atau gula pasir. Seolah gula pasir adalah momok yang mengancam kesehatan manusia. Dampaknya, setiap makanan atau minuman yang tersedia di atas meja makan kita mengandung gula solutif ini.

Dari minuman ringan hingga campuran serbat dan dari bubuk protein hingga chyawanprash (suplemen kesehatan), asupan apa pun yang mengaku rendah kalori atau ramah diabetes ditambahkan dengan salah satu atau beberapa pengganti gula. Pemanis buatan memiliki kekhasan rasa manis ekstra, tetapi memiliki kalori yang rendah.

Ada enam pemanis buatan yang telah diafirmasi oleh Badan pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat, dilansir dari timesofindia.com, pada Sabtu, (21/9), berikut analisa mendalam terhadap gula artifisial dan alternatif tersebut:

Gula Artifisial

Aspartam

Rasa manisnya 200 kali lebih manis dari gula. Pertama kali ditemukan pada 1965 oleh M. Schlatter ketika ia sedang meriset obat anti-maag. Dalam waktu yang lama, aspartam berada di bawah pengawasan. Aspartam disinyalir sebagai penyebab tumor otak, baru pada 1981 senyawa ini mendapat persetujuan. Aspartam dibuat dari dua asam amino alami dengan sedikit dimodifikasi. Aspartam dijual dengan merek seperti Sugar free dan Equal. FDA, WHO, dan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) memandang aspartam aman dikonsumsi selama dalam takaran wajar. Namun, menurut riset Kohort NutriNet-Sante (Prancis), menyimpulkan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi aspartam dalam jumlah yang lebih tinggi, memiliki peluang lebih tinggi terkena kanker dibandingkan yang lain.

Sukralosa

Gula alternatif ini 600 kali lebih manis daripada gula biasa. Pada 1976, para ilmuwan menciptakan sukralosa dengan mengikat molekul sukrosa dengan klorin. Ini adalah senyawa buatan yang secara kimiawi berasal dari gula. Senyawa ini diperdagangkan dengan merek Splenda. Riset pada 2022 dalam jurnal ilmiah Microorganisms menunjukkan bahwa pemanis ini dapat berdampak buruk pada fauna usus. Selain itu, ada juga riset lain yang mengindikasikan potensinya untuk menyebabkan kerusakan DNA dan memicu kanker. Tampaknya, National Cancer Institute (NCI) masih menunggu lebih banyak bukti untuk mengaitkannya dengan kanker pada manusia. Sehubungan dengan sikap WHO yang baru saja mengatakan aspartam sebagai karsinogen Kelas B, NCI sedang meninjau data yang ada tentang pemanis buatan dan risiko kanker.

Sakarin

adalah pemanis buatan paling tua dan paling sederhana, serta masih digunakan hingga sekarang di kalangan umum. 400 kali lebih manis dari gula, namun memiliki rasa pahit. Ditemukan pada 1879 oleh Constantin Fahlberg, yang meneliti produk sampingan tar batu bara. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan kanker pada tikus. Sempat dilarang oleh pemerintah AS pada 1970-an. Namun, karena intervensi Kongres (parlemen AS), maka produk ini tersedia lagi dengan label peringatan.

Acesulfame Potassium

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore