
Perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi. (Pexels/ Thnh Phng)
JawaPos.com – Menurut Psikologi, latar belakang keluarga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku seseorang saat dewasa. Orang yang dibesarkan di rumah yang tidak harmonis seringkali menunjukkan tingkah lalu tertentu yang mencerminkan pengalaman masa kecil mereka.
Psikologi mengungkapkan bahwa ruang tidak harmonis dalam keluarga dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam, memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain ketika dewasa. Perilaku ini bisa berupa kesulitan dalam membangun hubungan, kecenderungan untuk menarik diri, atau bahkan respons emosional yang tidak stabil.
Keluarga yang tidak harmonis sering kali menciptakan lingkungan yang penuh tekanan, dan hal ini tercermin dalam perilaku individu di masa dewasa. Beberapa tingkah laku yang biasanya ditunjukkan oleh orang yang dibesarkan di keluarga demikian dapat diidentifikasi menurut psikologi.
Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (30/8), dijelaskan ada delapan perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi.
Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga disfungsional sering mengembangkan kemampuan luar biasa untuk membaca emosi orang lain. Kepekaan ini terbentuk sebagai mekanisme pertahanan sejak dini, memungkinkan mereka mengantisipasi potensi konflik.
Meski berguna, keterampilan ini dapat memicu kecemasan berlebih dan kecenderungan selalu berhati-hati dalam interaksi. Mengenali akar dari perilaku ini penting agar bisa dikelola lebih efektif di masa dewasa.
Membangun kepercayaan menjadi tantangan besar bagi mereka yang dibesarkan dalam keluarga disfungsional. Pengalaman masa kecil yang dipenuhi janji kosong dan ketidakpastian sering meninggalkan bekas mendalam, membuat mereka meragukan motif dan ketulusan orang lain.
Sikap skeptis ini dapat menimbulkan ketegangan dalam hubungan. Meski sulit, menyadari adanya masalah kepercayaan adalah langkah awal menuju penyembuhan, meski prosesnya membutuhkan waktu dan kesabaran.
Tumbuh dalam lingkungan tidak stabil sering mendorong seseorang mengembangkan kebutuhan kuat akan kontrol. Pengasuhan yang tidak konsisten dapat menyebabkan tingginya tingkat perilaku mengontrol di masa dewasa.
Kebutuhan kontrol ini muncul dalam berbagai bentuk, dari kecenderungan mengatur orang lain secara berlebihan hingga kesulitan menghadapi perubahan atau ketidakpastian. Memahami akar dari perilaku ini dapat membantu seseorang mengelola hubungan dan pertumbuhan pribadi dengan lebih baik.
Anak-anak dalam keluarga disfungsional sering dipaksa mengambil peran dan tanggung jawab orang dewasa sejak dini. Ini bisa mengakibatkan rasa tanggung jawab berlebihan yang terbawa hingga dewasa, membuat mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan atau masalah orang lain.
Meski sikap peduli dan bertanggung jawab patut diapresiasi, penting untuk mengenali batas-batas dan tidak mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
