
seseorang yang jarang dikunjungi dan ditelpon oleh anak-anaknya / foto: Magnific/Lifestylememory
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak berubah seiring waktu. Saat anak masih kecil, orang tua menjadi pusat dunia mereka. Namun ketika mereka tumbuh dewasa, memiliki pekerjaan sendiri, pasangan sendiri, dan kehidupan yang semakin kompleks, hubungan itu ikut berubah bentuk.
Banyak orang tua merasa sedih ketika anak-anak mereka mulai jarang menelepon, jarang berkunjung, atau terlihat menjaga jarak secara emosional. Reaksi pertama biasanya adalah menyalahkan kesibukan, pasangan anak, teknologi, atau perubahan generasi. Memang, semua faktor itu bisa berpengaruh. Tetapi psikologi hubungan keluarga menunjukkan bahwa terkadang ada pola perilaku tertentu dari orang tua yang secara tidak sadar membuat anak dewasa merasa tidak nyaman untuk dekat.
Hal yang penting dipahami adalah: sebagian besar orang tua tidak berniat menyakiti anak-anak mereka. Banyak perilaku ini muncul dari rasa sayang, kekhawatiran, pengalaman hidup yang keras, atau kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.
Jika anak-anak Anda yang sudah dewasa mulai menjaga jarak, mungkin inilah saatnya melihat hubungan itu dengan lebih jujur dan reflektif.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (15/5), terdapat delapan perilaku yang menurut psikologi sering membuat anak dewasa enggan sering menghubungi orang tuanya.
1. Terlalu Sering Mengkritik, Bahkan dalam Hal Kecil
Banyak orang tua merasa mereka hanya “memberi masukan”. Tetapi bagi anak dewasa, komentar yang terus-menerus bisa terasa seperti penolakan.
Contohnya:
“Rumahmu berantakan sekali.”
“Kamu tambah gemuk ya.”
“Cara mendidik anakmu kurang tepat.”
“Kenapa pekerjaanmu tidak cari yang lebih stabil?”
Komentar seperti ini mungkin terdengar sepele bagi orang tua, tetapi jika terjadi terus-menerus, anak akan mulai mengasosiasikan kunjungan atau telepon dengan rasa tidak nyaman.
Dalam psikologi, kritik yang konstan dapat menciptakan hubungan defensif. Anak dewasa merasa mereka harus selalu menjaga diri, menjelaskan keputusan mereka, atau membuktikan bahwa mereka cukup baik.
Akhirnya, menjaga jarak terasa lebih aman daripada terus merasa dihakimi.
Yang menarik, banyak orang tua bahkan tidak sadar bahwa mereka terlalu kritis karena mereka menganggap itu bentuk perhatian.
Padahal perhatian yang sehat biasanya membuat seseorang merasa didukung, bukan diperkecil.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
