Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Mei 2026 | 01.36 WIB

Jika Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Jarang Berkunjung atau Menelepon, Kemungkinan Anda Menunjukkan 8 Perilaku Ini Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

seseorang yang jarang dikunjungi dan ditelpon oleh anak-anaknya / foto: Magnific/Lifestylememory - Image

seseorang yang jarang dikunjungi dan ditelpon oleh anak-anaknya / foto: Magnific/Lifestylememory

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak berubah seiring waktu. Saat anak masih kecil, orang tua menjadi pusat dunia mereka. Namun ketika mereka tumbuh dewasa, memiliki pekerjaan sendiri, pasangan sendiri, dan kehidupan yang semakin kompleks, hubungan itu ikut berubah bentuk.

Banyak orang tua merasa sedih ketika anak-anak mereka mulai jarang menelepon, jarang berkunjung, atau terlihat menjaga jarak secara emosional. Reaksi pertama biasanya adalah menyalahkan kesibukan, pasangan anak, teknologi, atau perubahan generasi. Memang, semua faktor itu bisa berpengaruh. Tetapi psikologi hubungan keluarga menunjukkan bahwa terkadang ada pola perilaku tertentu dari orang tua yang secara tidak sadar membuat anak dewasa merasa tidak nyaman untuk dekat.

Hal yang penting dipahami adalah: sebagian besar orang tua tidak berniat menyakiti anak-anak mereka. Banyak perilaku ini muncul dari rasa sayang, kekhawatiran, pengalaman hidup yang keras, atau kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.

Jika anak-anak Anda yang sudah dewasa mulai menjaga jarak, mungkin inilah saatnya melihat hubungan itu dengan lebih jujur dan reflektif.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (15/5), terdapat delapan perilaku yang menurut psikologi sering membuat anak dewasa enggan sering menghubungi orang tuanya.

1. Terlalu Sering Mengkritik, Bahkan dalam Hal Kecil

Banyak orang tua merasa mereka hanya “memberi masukan”. Tetapi bagi anak dewasa, komentar yang terus-menerus bisa terasa seperti penolakan.

Contohnya:

“Rumahmu berantakan sekali.”
“Kamu tambah gemuk ya.”
“Cara mendidik anakmu kurang tepat.”
“Kenapa pekerjaanmu tidak cari yang lebih stabil?”

Komentar seperti ini mungkin terdengar sepele bagi orang tua, tetapi jika terjadi terus-menerus, anak akan mulai mengasosiasikan kunjungan atau telepon dengan rasa tidak nyaman.

Dalam psikologi, kritik yang konstan dapat menciptakan hubungan defensif. Anak dewasa merasa mereka harus selalu menjaga diri, menjelaskan keputusan mereka, atau membuktikan bahwa mereka cukup baik.

Akhirnya, menjaga jarak terasa lebih aman daripada terus merasa dihakimi.

Yang menarik, banyak orang tua bahkan tidak sadar bahwa mereka terlalu kritis karena mereka menganggap itu bentuk perhatian.

Padahal perhatian yang sehat biasanya membuat seseorang merasa didukung, bukan diperkecil.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore