Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juli 2024 | 21.17 WIB

Orang yang Tumbuh dalam Keluarga Broken Home dan Tidak Harmonis, Seringkali Menunjukkan 7 Sifat Ini saat Dewasa

Ilustrasi keluarga broken home (Freepik) - Image

Ilustrasi keluarga broken home (Freepik)

JawaPos.com - Tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home dapat meninggalkan bekas.

Bekas itulah yang membentuk jati dirimu, cara berpikirmu, dan cara kamu dalam berperilaku di kemudian hari.

Ciri-ciri ini tidak selalu negatif, beberapa bahkan bisa positif. Namun, penting untuk memahaminya dan mengenalinya, karena ciri-ciri ini dapat memainkan peran besar dalam hubungan dan interaksimu sebagai orang dewasa.

Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Ideapod, Selasa (23/7), terkait sifat-sifat dan perilaku yang sering muncul pada orang-orang yang tumbuh dalam situasi keluarga yang kurang ideal atau broken home.

1. Tanggung jawab yang berlebihan

Bukan hal yang aneh bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis untuk mengembangkan rasa tanggung jawab yang berlebihan. Sifat ini muncul karena kebutuhan.

Dalam lingkungan keluarga yang kacau, seseorang harus maju dan mengambil alih semua tugas, meskipun mereka masih anak-anak. Ini bisa berarti mengurus adik-adik, membersihkan rumah, atau bahkan mengelola keuangan keluarga.

2. Keterpisahan secara emosional

Individu yang tumbuh dalam keluarga disfungsional seringkali mengembangkan bakat untuk melepaskan diri secara emosional. Di tengah kekacauan keluarga, emosi bisa jadi berbahaya.

Emosi dapat memperparah konflik, dan beberapa orang mungkin akan belajar untuk mematikan diri dan menjauhkan diri secara emosional dari apa yang terjadi di sekitar mereka.

Di masa dewasa, keterasingan emosional ini dapat menyulitkan mereka untuk menjalin hubungan yang dekat dan intim. Ini juga dapat menyulitkan mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka atau memahami emosi orang lain.

3. Codependency relationship atau kebergantungan

Codependency adalah perilaku yang dapat dipelajari dan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ini adalah jenis ketergantungan emosional yang tidak sehat, di mana seseorang terlalu bergantung pada orang lain untuk kesejahteraan emosional atau psikologisnya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore