Ilustrasi seseorang yang membandingkan dirinya dengan orang lain. (Unsplash.com/DannyG)
JawaPos.com - Membandingkan diri sendiri dengan orang lain atau disebut dengan social comparison ini, sering terjadi pada setiap manusia dengan tujuan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dilansir dari laman Artikel Very Well Mind, membandingkan diri sendiri dengan orang lain tertuang dalam teori psikologi untuk mengevaluasi tindakan, pencapaian, dan opini mereka dibandingkan dengan orang lain.
Psikolog Leon Festinger percaya bahwa seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain adalah untuk menetapkan tolok ukur yang digunakan untuk membuat evaluasi agar lebih akurat.
Jenis perbandingan sosial ini ada 2 yakni pertama, perbandingan ke atas yaitu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serta status kehidupan saat ini.
Kemudian yang kedua, perbandingan ke bawah yaitu ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain bertujuan untuk lebih bersyukur dan mengetahui adanya orang yang lebih terpuruk darinya. .
Dikutip dari laman Artikel Stekom, alasan seseorang membandingkan diri dengan orang lain yang sering terjadi pada fase usia 20-an adalah untuk memotivasi diri agar lebih baik.
Namun pada kenyataannya sebagian orang malah membuat hal itu menjadi pandangan negatif, sehingga akan menimbulkan sikap insecure baik dari penampilan, pekerjaan, dan tingkat pendidikan.
Fase usia 20-an memang fase awal kehidupan seseorang untuk membangun karier, pendidikan, bisnis, atau kehidupan pernikahannya. Kemudian selalu ada trigger untuk terburu-buru mencapai semuanya.
Oleh karena itu setiap orang yang ada di fase usia 20-an juga sering merasa lemah dari orang lain, lalu saling berlomba dalam pencapaian prestasi dan memiliki ambisius yang tinggi.
Jika hal ini terus menerus dilakukan maka akan timbul sikap ketidakpercayaan pada diri sendiri dan meragukan kemampuan yang ada.
Memfokuskan kemampuan diri tentunya akan lebih baik daripada selalu membandingkan diri dengan orang lain yang pada akhirnya kita akan selalu merasa gagal pada setiap proses yang dijalani.
Padahal kita tidak mengetahui proses orang lain untuk menggapai kesuksesan tersebut, karena yang kita lihat hanya hasilnya.
Jika seseorang ingin membandingkan dirinya dengan orang lain maka harus harus melihat dengan pandangan positif, maka tujuan untuk mengevaluasi diri itu tetap tertanam dalam diri sendiri.
Untuk memiliki pandangan positif tersebut, tentunya harus lebih fokus pada kemampuan diri sendiri, konsisten memandang kesuksesan orang lain dengan cara baik, serta berpikir bahwa jalan kesuksesan setiap orang itu berbeda.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
