Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Juli 2024 | 04.46 WIB

Gen Z Tidak Tertarik Menikah, Salah Satu Alasanya Faktor Finansial

Ilustrasi Kedua Pasangan Sedang melangsungkan Pernikahan (Freepik) - Image

Ilustrasi Kedua Pasangan Sedang melangsungkan Pernikahan (Freepik)

JawaPos.com - Fenomena malas menikah terjadi secara global. Indonesia bukan satu-satunya negara yang penduduknya semakin malas menikah. Entah itu menunda atau bahkan tidak ingin menikah sama sekali.

Negara lain seperti Korea Selatan dan Tiongkok juga mengalami fenomena yang sama. Belum lama ini, badan statistik Korea merilis penelitian yang menemukan bahwa hanya 27,5 persen perempuan muda berusia 20-an tahun yang mau menikah.

Artinya hanya ada satu dari empat perempuan muda Korea Selatan yang mau menikah. Fenomena yang sama juga terjadi di Tiongkok. Di sana gaya hidup lajang semakin meluas di kalangan masyarakat setempat.

Di Indonesia konsep pernikahan semakin dipertanyakan terutama oleh generasi muda. Generasi Z yang dikenal dengan semangat dan keberaniannya untuk menantang norma-norma sosial, sedang mendefinisikan ulang konsep sebuah hubungan.

Mereka tidak mengikuti jalur yang sudah ada, melainkan menciptakan aturan mereka sendiri. Banyak dari mereka menyatakan bahwa pernikahan bukanlah pilihan yang menarik.

Pandangan tentang pernikahan sebagai komitmen seumur hidup antara dua orang telah bergeser ke pemahaman yang lebih fleksibel tentang sebuah hubungan. Menurut laporan yang dikutip dari Chanel YouTube @EsensiTV, ada beberapa alasan Gen Z tidak tertarik untuk menikah.

1. Bukan prioritas utama

Gen Z lebih menghargai penemuan jati diri dan seringkali melihat pernikahan sebagai penghalang daripada batu loncatan. Gagasan untuk terikat secara hukum dengan satu orang seumur hidup mungkin terasa membatasi di dunia yang menghargai kebebasan dan otonomi pribadi.

2. Faktor finansial

Gen Z tumbuh di era perubahan ekonomi dan sosial yang signifikan. Mereka telah melihat tekanan finansial dan dampak emosional dari perceraian. Tidak hanya di komunitas mereka, tetapi juga dalam keluarga sendiri.

Tingginya angka perceraian dan perselisihan hukum yang sering terjadi membuat mereka skeptis terhadap janji cinta abadi dan kebahagiaan yang sering dikaitkan dengan pernikahan. Kemandirian finansial juga menjadi faktor penting.

3. Ketakutan dan terlalu hati-hati

Keberagaman hubungan juga menunjukkan perubahan zaman. Hubungan terbuka, percintaan jarak jauh, dan hidup bersama tanpa menikah menjadi lebih umum. Aturan ini mencerminkan pergeseran ke arah mendefinisikan hubungan sesuai keinginan mereka sendiri daripada mengikuti harapan masyarakat.

Pernikahan bagi banyak kalangan Gen Z hanyalah salah satu dari banyak pilihan. Belum tentu merupakan pilihan yang paling menarik. Data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bukti bahwa semakin banyak warga Indonesia yang malas menikah.

  • Tahun 2018: 2.016.171
  • Tahun 2019: 1.968.878
  • Tahun 2020: 1.792.548
  • Tahun 2021: 1.742.049
  • Tahun 2022: 1.705.348
  • Tahun 2023: 1.577.255

Menurut Laporan Statistik Indonesia 2024, ada tren penurunan jumlah perkawinan yang cukup signifikan dalam enam tahun terakhir. Penurunan paling drastis terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore