Semangkuk jajangmyeon (Dok. Gastro Tour Seoul)
JawaPos.com - Jajangmyeon, mie dengan saus kacang hitam yang kini lekat dengan kuliner Korea Selatan, ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang sebagai hasil percampuran budaya. Hidangan ini dibawa oleh para pendatang dari wilayah Shandong, Tiongkok, yang bermukim di Incheon pada awal 1900-an. Melansir dari SKDesu, jajangmyeon pertama kali disajikan di restoran Gonghwachun pada tahun 1905 dan kemudian berkembang menjadi salah satu menu favorit di Korea.
Seiring berkembangnya waktu, cita rasa jajangmyeon pun ikut berubah. Jika versi aslinya dari Tiongkok cenderung gurih dan asin, adaptasi Korea menjadikannya lebih manis dan berwarna lebih gelap berkat tambahan karamel. Gastrotour Seoul mencatat bahwa perubahan rasa ini dilakukan agar hidangan tersebut lebih cocok dengan selera masyarakat Korea yang menyukai kombinasi gurih-manis dalam masakan sehari-hari.
Perubahan jajangmyeon bukan hanya soal rasa, tetapi juga menyangkut identitas budaya. Sebuah kajian akademik di Korea Journal yang dimuat oleh Accesson Korea menunjukkan bahwa jajangmyeon menjadi contoh proses "lokalisasi budaya", yakni bagaimana makanan imigran perlahan diterima dan diintegrasikan menjadi bagian dari identitas kuliner nasional. Studi juga menyoroti perkembangan jajangmyeon yang bermula dari komunitas Tionghoa hingga menjadi makanan populer di Korea sejak era 1950-an.
Secara visual dan tekstur, jajangmyeon identik dengan mi tebal yang kenyal serta saus hitam pekat berbahan dasar chunjang, yaitu pasta kacang hitam fermentasi. Korean Culture Blog menambahkan bahwa hidangan ini umumnya disantap bersama danmuji atau acar lobak kuning, yang berfungsi menyeimbangkan rasa saus yang kuat dan berminyak.
Kepopuleran jajangmyeon juga didukung oleh kehadirannya dalam budaya pop Korea. Menu ini kerap muncul di drama Korea dan erat kaitannya dengan perayaan Black Day setiap 14 April, ketika para lajang menikmati mie hitam tersebut sebagai simbol kebersamaan dalam kesendirian.
Saat ini, jajangmyeon hadir dalam banyak variasi mulai dari ganjajang (saus lebih kering), jaengbanjajang (disajikan di wajan besar), samseonjajang (ditambah aneka seafood), hingga jajangbap (sausnya disajikan di atas nasi). Keberagaman ini mencerminkan kreativitas para koki serta respon pasar yang terus berkembang.
Jajangmyeon juga berkembang menjadi simbol perjalanan sosial komunitas Tionghoa-Korea di Korea Selatan. Temuan Accesson Korea menunjukkan bahwa jajangmyeon mewakili proses panjang integrasi budaya, di mana makanan berperan sebagai jembatan antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Dari hidangan sederhana yang tumbuh di lingkungan imigran, jajangmyeon kini menjelma menjadi elemen penting dalam identitas kuliner Korea Selatan Sebuah bukti bahwa makanan dapat menjadi sarana pemersatu budaya sekaligus pembentuk tradisi baru.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022