Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Desember 2025 | 14.21 WIB

Orang yang Mengalami Kesulitan dalam Memproses Konsep Abstrak Sering Menunjukkan 7 Perilaku Sehari-hari Berikut Ini Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan memahami konsep abstrak. (Freepik/sodawhiskey) - Image

seseorang yang kesulitan memahami konsep abstrak. (Freepik/sodawhiskey)


JawaPos.com - Tidak semua orang memproses dunia dengan cara yang sama. Ada individu yang sangat nyaman berbicara tentang ide besar, makna hidup, metafora, atau kemungkinan masa depan.
 
Namun, ada pula yang justru merasa kebingungan, tidak nyaman, atau bahkan frustrasi ketika harus berhadapan dengan konsep-konsep abstrak. Dalam psikologi kognitif, kemampuan memproses konsep abstrak berkaitan erat dengan cara otak mengelola simbol, makna tersirat, dan hubungan yang tidak kasatmata.

Kesulitan dalam berpikir abstrak bukanlah tanda rendahnya kecerdasan. Banyak orang dengan kemampuan praktis yang sangat baik justru lebih kuat dalam berpikir konkret. Namun, pola ini sering memunculkan perilaku-perilaku tertentu dalam kehidupan sehari-hari yang, jika diperhatikan dengan saksama, memiliki benang merah yang jelas. 
 
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh perilaku yang kerap muncul menurut sudut pandang psikologi.

1. Lebih Nyaman dengan Instruksi yang Sangat Spesifik dan Jelas


Orang yang kesulitan memproses konsep abstrak biasanya sangat mengandalkan instruksi yang konkret. Mereka merasa lebih tenang ketika diberi langkah-langkah rinci seperti “lakukan A, lalu B, kemudian C,” dibandingkan arahan umum seperti “gunakan kreativitasmu” atau “sesuaikan dengan situasi”.

Dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari, mereka sering meminta penjelasan tambahan bukan karena tidak mau berusaha, melainkan karena otak mereka membutuhkan kejelasan bentuk, batas, dan contoh nyata. Tanpa itu, mereka mudah merasa tersesat atau ragu mengambil keputusan.

2. Sulit Memahami Makna Kiasan, Metafora, atau Sindiran Halus


Bahasa abstrak seperti perumpamaan, analogi, atau sindiran sering menjadi tantangan. Ketika seseorang berkata, “Dia sedang berada di titik terendah hidupnya,” orang dengan kesulitan berpikir abstrak bisa saja menafsirkannya secara harfiah atau membutuhkan penjelasan lanjutan.

Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan pemrosesan makna simbolik. Mereka cenderung menafsirkan bahasa secara literal. Akibatnya, mereka bisa terlihat “tidak nyambung” dalam percakapan santai, padahal sebenarnya hanya memproses bahasa dengan cara yang berbeda.

3. Lebih Fokus pada Fakta Nyata daripada Kemungkinan atau Hipotesis


Ketika diajak berdiskusi tentang “bagaimana jika” atau skenario masa depan yang masih bersifat spekulatif, orang-orang ini sering tampak tidak tertarik atau cepat menghentikan pembicaraan. Mereka lebih nyaman membahas apa yang sudah terjadi, apa yang terlihat, dan apa yang bisa dibuktikan secara langsung.

Menurut psikologi kognitif, berpikir abstrak membutuhkan kemampuan memisahkan diri dari realitas saat ini. Jika kemampuan ini terbatas, otak akan secara alami kembali pada data konkret sebagai jangkar utama.

4. Kesulitan Memahami Emosi Kompleks pada Orang Lain


Bukan berarti mereka tidak empatik, tetapi emosi yang bersifat campuran atau ambigu—seperti rasa bersalah yang bercampur cinta, atau bahagia yang disertai kecemasan—sering sulit dipahami. Mereka lebih mudah mengenali emosi dasar seperti marah, sedih, atau senang.

Dalam interaksi sosial, hal ini bisa membuat mereka terlihat kaku atau kurang peka, padahal sebenarnya mereka hanya kesulitan membaca makna emosional yang tidak diekspresikan secara eksplisit.

5. Cenderung Menghindari Diskusi Filosofis atau Konseptual


Topik seperti makna hidup, nilai moral, identitas diri, atau pertanyaan eksistensial sering dianggap membingungkan atau “tidak ada gunanya”. Orang dengan kesulitan berpikir abstrak lebih memilih pembicaraan yang memiliki tujuan praktis dan hasil nyata.

Psikologi melihat ini sebagai mekanisme perlindungan kognitif. Menghindari topik abstrak membantu mereka mengurangi beban mental dan rasa tidak nyaman yang muncul saat harus memproses sesuatu yang tidak bisa “dipegang”.

6. Membutuhkan Contoh Nyata untuk Memahami Sebuah Ide


Ketika diajarkan konsep baru, mereka hampir selalu bertanya, “Contohnya seperti apa?” Tanpa ilustrasi konkret, konsep tersebut terasa menggantung dan sulit dipahami. Buku, pelatihan, atau penjelasan yang penuh teori tanpa praktik sering terasa melelahkan bagi mereka.

Ini menunjukkan bahwa jalur pembelajaran mereka lebih efektif melalui pengalaman langsung, visualisasi nyata, dan simulasi dibandingkan penjelasan konseptual semata.

7. Sering Dianggap Kaku atau Kurang Fleksibel dalam Berpikir


Karena berpikir abstrak berkaitan erat dengan fleksibilitas kognitif, kesulitannya dapat membuat seseorang tampak keras kepala atau sulit menerima sudut pandang lain. Mereka cenderung berpegang pada aturan, kebiasaan, atau cara yang sudah terbukti berhasil.

Padahal, dari sudut pandang mereka, konsistensi dan kejelasan adalah bentuk keamanan mental. Perubahan yang terlalu konseptual atau tidak jelas justru memicu kecemasan.

Kesimpulan: Bukan Kekurangan, Melainkan Pola Berpikir yang Berbeda

Kesulitan dalam memproses konsep abstrak bukanlah kelemahan yang harus dicap negatif. Psikologi modern menekankan bahwa setiap orang memiliki gaya kognitif yang unik. Mereka yang kurang nyaman dengan abstraksi sering kali justru unggul dalam hal ketelitian, konsistensi, dan penerapan nyata.

Memahami tujuh perilaku ini membantu kita menjadi lebih bijak—baik dalam memahami diri sendiri maupun orang lain. Dengan pendekatan yang tepat, komunikasi yang lebih konkret, dan lingkungan yang mendukung, setiap gaya berpikir dapat berkembang secara optimal. Pada akhirnya, dunia membutuhkan keseimbangan antara pemikir abstrak dan pemikir konkret agar dapat berjalan dengan selaras.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore