Ilustrasi platform kripto Binance. (Binance)
JawaPos.com – Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, resmi mengumumkan pembayaran kompensasi senilai USD 283 juta atau sekitar Rp 4,6 triliun kepada para penggunanya setelah terjadi gelombang likuidasi besar-besaran di pasar Kripto.
Langkah ini dilakukan usai volatilitas ekstrem mengguncang pasar global pada Jumat malam (10/10) waktu Amerika Serikat, yang setara Sabtu dini hari WIB.
Dikutip dari news.bitcoin, Selasa (14/10), Binance menyebut peristiwa itu terjadi antara pukul 20.50 hingga 22.00 UTC atau sekitar 03.50–05.00 WIB.
Dalam kurun waktu tersebut, baik investor ritel maupun institusional melakukan aksi jual besar-besaran hingga memicu penurunan tajam harga berbagai aset digital.
Binance menegaskan, gejolak itu disebabkan oleh guncangan ekonomi global, bukan karena kegagalan sistem internal.
“Binance telah melakukan peninjauan menyeluruh dan dapat memastikan bahwa selama peristiwa tersebut, mesin pencocokan utama untuk perdagangan futures, spot, dan API tetap berfungsi normal,” ujar Binance dikutip JawaPos.com.
Menurut data internal, volume likuidasi paksa di platform Binance relatif kecil dibanding total volume perdagangan global. Hal itu menunjukkan bahwa kejatuhan harga disebabkan oleh kondisi pasar secara umum, bukan karena gangguan sistem di bursa tersebut.
Meski demikian, Binance mengakui adanya masalah teknis sementara di beberapa modul platform setelah pukul 21.18 UTC (sekitar 04.18 WIB).
Gangguan tersebut menyebabkan beberapa aset seperti USDE, BNSOL, dan WBETH kehilangan nilai patokannya (de-pegging). Ketiga token ini merupakan bagian dari produk Binance Earn yang terpengaruh oleh fluktuasi pasar ekstrem.
“Peristiwa de-pegging itu terjadi setelah penurunan pasar paling tajam, dan karenanya bukan penyebab utama aksi jual besar-besaran,” kata Binance. “Kami telah menyelesaikan kompensasi bagi pengguna yang terdampak dalam waktu 24 jam setelah kejadian.”
Bursa itu juga menegaskan telah menanggung penuh kerugian pengguna yang posisinya terlikuidasi karena menjaminkan aset yang mengalami de-pegging. “Kompensasi telah didistribusikan dalam dua tahap dengan total sekitar 283 juta USD,” ungkap Binance. Dengan kurs USD 1 senilai Rp 16.500, total kompensasi itu mencapai Rp 4,67 triliun.
Binance juga mencatat adanya anomali pada beberapa pasangan spot akibat pesanan batas jangka panjang serta gangguan antarmuka pengguna. Perusahaan menyatakan akan meningkatkan akurasi tampilan sistem dan memperkuat kontrol risiko agar insiden serupa tidak terulang.
Dalam keterangannya, Binance menegaskan komitmen untuk terus memperbarui komunitas pengguna terkait proses kompensasi dan peningkatan sistem yang sedang berlangsung. Langkah ini dilakukan demi memulihkan kepercayaan investor yang sempat terguncang akibat gejolak pasar kripto tersebut.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
