Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Maret 2025 | 20.45 WIB

Bitcoin Melonjak 3 Persen Tapi Ethereum Tertinggal, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi kripto. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pasar kripto, Rabu (13/3) kembali bergerak setelah laporan inflasi Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih baik dari ekspektasi. Bitcoin (BTC) langsung naik 3%, mempertahankan level support utamanya.

Namun, Ethereum (ETH) tertinggal jauh dengan kenaikan hanya 0,5%, menurut data dari CoinGecko. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa Ethereum tertinggal dari Bitcoin?

Dilansir dari Decrypt, salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan Ethereum adalah proses pengembangan upgrade Pectra yang masih berlangsung.

Menurut Tracy Jin, Wakil Presiden bursa kripto MEXC, jika upgrade ini berhasil, maka Ethereum bisa mengalami lonjakan permintaan yang signifikan karena peningkatan efisiensi jaringan dan pengurangan biaya transaksi.

"Jika semua berjalan lancar, Ethereum berpotensi mencapai USD 6.000 hingga USD 7.000 (sekitar Rp 97,2 juta hingga Rp 113,4 juta) tahun ini," kata Jin.

Namun, Jin juga mengingatkan bahwa setiap pembaruan besar Ethereum selalu diiringi dengan tantangan teknis dan potensi penundaan. Ia memperkirakan bahwa dalam 3-6 bulan ke depan, Ethereum masih akan menghadapi volatilitas tinggi karena ketidakpastian dalam implementasi Pectra.

Upgrade Pectra: Solusi atau Tantangan Baru?

Upgrade Pectra bertujuan untuk meningkatkan throughput jaringan Ethereum serta menekan biaya transaksi. Sehari sebelumnya, tim pengembang Ethereum berhasil menyelesaikan finalitas pada testnet Holesky, yang memberikan harapan bahwa peluncuran Pectra tidak akan mengalami penundaan lebih lama.

Meski begitu, Jin menilai bahwa ketidakpastian makroekonomi masih bisa menghambat pergerakan Ethereum. “Dalam kondisi tidak pasti, investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS, sehingga minat terhadap aset berisiko seperti kripto cenderung menurun,” ujarnya.

Meskipun Bitcoin dan Ethereum masih bertahan di level support utama, investor institusi justru menarik dana dari pasar kripto. Data dari Farside Investors menunjukkan bahwa Bitcoin ETF mengalami outflow sebesar USD 371 juta (sekitar Rp 6 triliun), sementara Ethereum ETF mencatat penarikan USD 22 juta (sekitar Rp 356,4 miliar).

Menurut analis BRN, Valentin Fournier, tren ini mencerminkan kelemahan aset berisiko secara keseluruhan, di mana pasar masih menunggu pemicu likuiditas baru untuk kembali bergerak naik.

"Di jangka pendek, kebijakan yang diambil oleh pemerintah AS bisa menjadi faktor utama yang mendorong Bitcoin kembali ke level all-time high sebelumnya," ujar Fournier.

Meski pergerakan Ethereum masih tertinggal, data inflasi terbaru AS memberikan harapan bahwa The Fed mungkin akan menurunkan suku bunga di pertengahan 2025. Menurut alat pemantau CME FedWatch, saat ini ada 55% probabilitas bahwa pemangkasan suku bunga pertama akan terjadi pada bulan Juni.

Jika inflasi terus menunjukkan tren penurunan, maka kebijakan moneter yang lebih longgar dari The Fed bisa menjadi katalis bagi pasar kripto. Seperti yang terjadi sebelumnya, penurunan suku bunga cenderung menjadi sinyal bullish bagi Bitcoin dan Ethereum, karena investor mulai mencari aset dengan imbal hasil lebih tinggi.

Namun, dengan Ethereum masih dalam fase pengembangan Pectra dan aliran dana institusional yang masih negatif, pasar tampaknya masih akan menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum ETH bisa mengejar kenaikan Bitcoin.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore