
Ilustrasi seorang wanita yang merasakan gatal pada mata karena polusi
JawaPos.com - Penderita diabetes perlu lebih berhati-hati ketika menjalankan ibadah puasa agar kondisi penyakitnya tidak memburuk. Tantangannya adalah gula darah harus stabil. Tak boleh drop ataupun melonjak. Jika tidak, akan berdampak pada matanya dan gangguan penglihatan.
Komplikasi tersebut adalah retinopati diabetik, menjadi salah satu komplikasi yang berpotensi menyebabkan kebutaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut retinopati diabetik sebagai lima besar penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah/diobati. Kondisi ini menyerang 3,9 juta orang di seluruh dunia.
Dalam webinar bersama para ahli JEC Eye Hospitals and Clinics lewat JEC Eye Talks, membahas 'Pengaruh Puasa Ramadan pada Kesehatan Mata dan Pengidap Diabetes'. Medical Retina, Vitreo-Retina, and Cataract Specialist, JEC Eye Hospitals and Clinics dr. Martin Hertanto, SpM, mengatakan secara umum, puasa tidak memberikan pengaruh signifikan pada organ mata manusia. Namun, penderita diabetes perlu tetap waspada terhadap potensi gangguan mata akibat komplikasinya.
Baca Juga: Penderita Diabetes Tetap Boleh Puasa Ramadan, Ini Panduannya
Apabila tidak terdeteksi sejak dini, retinopati diabetik bisa menyebabkan pendarahan dan robekan pada retina. Sehingga menimbulkan gangguan pandangan, seperti berbayang atau munculnya bercak hitam, bahkan sampai kebutaan.
"Karenanya, sangat penting bagi pengidap diabetes untuk tetap mampu menjaga kadar gulanya selama berpuasa, dan melakukan pemeriksaan retina secara berkala minimal setahun sekali, tergantung derajat keparahan penyakit,” paparnya dalam webinar, Selasa (27/4).
Retinopati diabetik adalah salah satu penyebab kebutaan terbanyak di kalangan usia produktif. Penyakit ini terjadi akibat tingginya kadar gula dalam tubuh yang tidak terkontrol secara berkepanjangan sehingga merusak pembuluh darah pada retina dan jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya.
Penyakit ini terbagi menjadi dua tipe yakni pertama, nonproliferative diabetic retinopathy (NPDR). Adalah tahapan awal, terjadi sedikit kebocoran pada pembuluh darah. Kedua, proliferative diabetic retinopathy (PDR) adalah tahapan lebih lanjut, mulai tumbuh pembuluh darah baru di retina (neovaskularisasi) yang mudah pecah dan mengalami pendarahan.
Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi diabetes mencapai 8,5 persen atau jauh meningkat dibandingkan temuan sebelumnya Riskesdas 2013 yang masih 6,9 persen. Data Kementerian Kesehatan memaparkan, pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia; dengan estimasi mencapai 10 juta orang. Bahkan, diabetes (dengan komplikasi) menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia (setelah stroke dan penyakit jantung koroner). Persentase kematian akibat diabetes di Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di dunia, setelah Srilanka.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=HErkwnb5Lds

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
