Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 September 2026 | 21.08 WIB

‘Detak Kedua’ Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut dengan LVAD Pertama di Indonesia

(Kiri - Kanan) Ibu Risa Amalia- Istri Pasien, Bapak Choir Syairfuddin Siregar- Pasien, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, dan dr. Dion Haryadi dalam pemasangan LVAD Pertama di Rumah Sakit Swasta Indonesia. (IST) - Image

(Kiri - Kanan) Ibu Risa Amalia- Istri Pasien, Bapak Choir Syairfuddin Siregar- Pasien, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, dan dr. Dion Haryadi dalam pemasangan LVAD Pertama di Rumah Sakit Swasta Indonesia. (IST)

JawaPos.com – Penggunaan alat pompa jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD) bukanlah hal baru di dunia kedokteran. Selain transpalansi jantung, LVAD menjadi salah satu solusi bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang tidak bisa lagi dengan terapi obat.

LVAD sendiri merupakan pompa jantung mekanis yang ditanamkan di dalam tubuh untuk membantu ventrikel (bilik) kiri mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Perangkat yang digunakan di SHKJ adalah teknologi generasi terbaru HeartMate 3 LVAD dengan Full MagLev Flow Technology.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah SHKJ, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, menjelaskan, LVAD bukan sekadar prosedur, melainkan pilihan terapi yang membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut di Indonesia. 

Bagi pasien penerima LVAD, keberadaan alat ini difungsikan sebagai destination therapy atau terapi final jangka panjang. Karena, program transplantasi jantung sendiri di Indonesia masih dalam tahap pengembangan.

"Ada suara paling menenangkan yang pernah saya dengar sebagai dokter jantung, yaitu detak yang kembali stabil setelah nyaris berhenti. Dalam sebulan terakhir, saya mendengarnya dua kali," kata dr. Paskah dalam bincang Penanaman LVAD Pertama di Indoensia yang dilakukan RS Siloam Kebun Jeruk, di Jakarta, baru-baru ini.

Meski begitu, dr. Paskah menggarisbawahi bahwa ada kondisi khusus di mana LVAD tidak dapat dipasang. Jika gagal jantung sudah terjadi di kedua sisi yakni bilik kiri dan kanan sekaligus, maka LVAD tidak bisa menjadi opsi.

“Pada kondisi demikian, transplantasi jantung tetap menjadi satu-satunya opsi final," paparnya.

Ketika disinggung tentang tingkat keberhasilan, dr. Paskah membeberkan bahwa risiko kematian dalam satu tahun pertama pascaoperasi baik untuk LVAD maupun transplantasi jantung berada di kisaran 10–15 persen. 

Namun, setelah melewati tahun pertama, angka kematian pasien pengguna LVAD menyusut menjadi 4–5 persen per tahun. 

"Jika pasien gagal jantung lanjut hanya mengandalkan obat-obatan tanpa pertolongan LVAD atau transplantasi, angka kematiannya sangat tinggi, bisa mencapai 50–70 persen dalam satu tahun setelah diagnosis," tegasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore