Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Agustus 2026 | 16.04 WIB

Teknologi Jantung Canggih Buka Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Indonesia

RSCM berhasil melakukan implantasi LVAD CoreHeart 6 pertama di Asia. Teknologi ini membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung. (Istimewa) - Image

RSCM berhasil melakukan implantasi LVAD CoreHeart 6 pertama di Asia. Teknologi ini membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung. (Istimewa)

JawaPos.com - Indonesia kembali mencatat pencapaian penting dalam pengembangan layanan kesehatan berteknologi tinggi. Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6, perangkat bantu jantung yang disebut sebagai LVAD berukuran paling kecil di dunia.

Tindakan tersebut menjadi implantasi pertama menggunakan teknologi CoreHeart 6 di Asia. Keberhasilan ini membuka peluang terapi baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang selama ini menghadapi keterbatasan pilihan pengobatan, terutama karena sulitnya memperoleh donor jantung dan terbatasnya tenaga medis dengan kompetensi transplantasi.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, menyebut teknologi LVAD menjadi lompatan penting dalam penanganan gagal jantung kronis. Menurutnya, perangkat tersebut dapat menjadi alternatif bagi pasien stadium akhir yang selama ini sangat bergantung pada transplantasi jantung.

"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Kemenkes Dorong Transfer Teknologi

Azhar menilai keberhasilan tim RSCM melakukan implantasi CoreHeart 6 menunjukkan kemampuan tenaga medis Indonesia dalam menguasai teknologi kesehatan berkelas dunia. Menurutnya, penguasaan teknologi tersebut harus dikembangkan lebih luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan semakin banyak pasien.

Ia menekankan bahwa pengetahuan mengenai LVAD tidak boleh hanya dikuasai oleh satu tim medis. Transfer pengetahuan dan pelatihan kepada tenaga kesehatan lain menjadi bagian penting agar layanan serupa dapat berkembang di berbagai daerah.

"Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," katanya.

Kementerian Kesehatan juga ingin rumah sakit nasional tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi medis dari luar negeri. Pemerintah mendorong agar rumah sakit Indonesia dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi sekaligus pusat pendidikan dan inovasi layanan kesehatan.

"Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan," ujarnya.

Menurut Azhar, kemampuan Indonesia dalam melakukan prosedur implantasi LVAD juga membuka peluang pengembangan layanan kesehatan bagi pasien dari negara lain. Ia berharap keberhasilan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap layanan kesehatan Indonesia di tingkat regional.

Editor: Edy Pramana
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore