Ilustrasi diabetes. (Magnific/Rawpixel.com)
JawaPos.com - Penderita diabetes harus mengkonsumsi obat atau suntik insulin seumur hidup tidak sepenuhnya benar. Gaya hidup dan mengatur pola makan yang baik bisa meningkatkan harapan lepas dari obat-obatan.
Praktisi Kesehatan, dr. Kelvin Candiago mengatakan, kasus diabetes tipe 2 erat kaitannya dengan gaya hidup. Fenomena saat ini banyak orang usia produktif, bahkan usia 20 tahunan terjangkit diabetes.
Terkadang pasien merasa sudah menjalani gaya hidup sehat dengan berolahraga rutin, hingga mengurangi minuman manis. Namun, mereka tidak menyadari tidak menjaga pola makan, sering begadang, kurang bergerak hingga jadwal makan yang tidak teratur.
Kebiasaan ini tanpa disadari memicu resistensi insulin bila dilakukan dalam jangka waktu panjang. Sehingga tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal, membuat gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan.
Kondisi ini menjadi semakin relevan mengingat jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta penyandang diabetes dan menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah kasus terbanyak.
"Yang ditakuti dari diabetes itu komplikasinya. Padahal sebelum itu terjadi, mereka sudah mengalami diabetes yang panjang dulu. Karena diabetes itu menyerang pembuluh darah, dan mereka nggak merasakan gejala apa-apa," kata dr. Kelvin, Kamis (24/9).
Founder mGanik ini menjelaskan, 90-95 persen penderita diabetes adalah tipe 2, yang biasanya dipicu oleh gaya hidup. Dengan begitu tidak heran banyak anak muda yang menderita penyakit ini.
Namun perlu dipahami bahwa diabetes tipe 2 sebenarnya bisa dicegah, bahkan dihentikan dengan memperbaiki pola hidup, pola makan dan aktivitas sehari-hari.
"Trik yang biasanya saya sampaikan ke pasien, paling nggak disetiap makanan, jumlah karbohidrat atau tambahan gulanya dikurangi. Perbanyak protein, cukupi serat, karbohidratnya dibatasi. Kalau mau snack atau dessert, taruh di akhir saja biar nggak berlebihan," imbuhnya.
Harapan untuk lepas dari obat ini bukan tanpa dasar ilmiah. Sejak 2019, American Diabetes Association (ADA) sudah memperkenalkan istilah Diabetes Remission atau Remisi Diabetes.
Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah pasien dapat kembali terkontrol dalam periode tertentu tanpa bantuan obat penurun gula darah. Salah satu indikator yang digunakan adalah HbA1c, yaitu pemeriksaan yang menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan terakhir.
Pasien dikategorikan mencapai remisi apabila HbA1c berada dibawah 6,5 persen secara konsisten selama minimal tiga bulan, tanpa bantuan obat penurun gula darah.
dr. Kelvin melakukan 3 pendekatan untuk membantu pasien, yakni Medikasi, Nutrisi dan Monitoring.
Pendekatan ini dijalankan berdasarkan kondisi masing-masing pasien, yaitu dengan mengikuti perkembangan HbA1c, memberi arahan dalam mengatur pola makan, sampai monitoring rutin. Bagi dr. Kelvin, yang terpenting bukan seberapa besar perubahan yang dilakukan oleh penderita diabetes, namun konsistensinya.
"Jangan putus asa, karena pasti ada jalannya. Percaya saja harus kasih perubahan di pola makan, ikutin saran-saran dari dokternya. Dengan perubahan sedikit tapi konsisten itu pasti sangat bermanfaat," tutupnya.