
Foto kiri: Joe Hasei, profesor bedah ortopedi di Universitas Okayama. Kanan: Foto yang diambil di Okayama pada 13 Juli 2026 memperlihatkan anak-anak mengenakan headset realitas virtual di ruang bermain di bangsal anak Rumah Sakit Universitas Okayama. (Kyodo)
JawaPos.com - Anak-anak yang harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit Jepang kini bisa "keluar" dari bangsal dan menjelajahi kebun binatang melalui teknologi virtual reality (VR). Program tersebut memberi kesempatan bagi pasien yang sulit meninggalkan rumah sakit untuk berinteraksi dengan orang lain sekaligus mengurangi rasa terisolasi selama menjalani pengobatan.
Lebih dari 30 rumah sakit di Jepang, termasuk Okayama University Hospital, mengikuti program yang ditujukan bagi anak-anak, remaja, serta pasien dewasa muda yang menjalani perawatan kanker dan penyakit serius lainnya. Dilansir dari Kyodo, Senin (14/9), program ini juga diharapkan memberikan sesuatu yang dapat dinantikan pasien selama menjalani perawatan hingga setelah mereka keluar dari rumah sakit.
Pada pertengahan Juli, sebanyak 15 anak berusia 4 hingga 16 tahun berkumpul di ruang bermain bangsal anak Okayama University Hospital. Mereka mengenakan perangkat VR untuk melakukan perjalanan virtual ke Tennoji Zoo di Osaka.
Melalui dunia metaverse, anak-anak tersebut seolah berada di area sabana Afrika di kebun binatang. Jerapah dan zebra tampak berkeliaran dengan latar belakang gedung pencakar langit Abeno Harukas.
Ruang virtual tersebut dikembangkan bersama oleh Kintetsu Real Estate Co. yang berbasis di Osaka dan pengembang metaverse asal Tokyo, Cluster Inc. Ruang tersebut sebelumnya telah digunakan untuk berbagai acara dan kegiatan.
Dengan mendengarkan penjelasan dari penjaga kebun binatang, para peserta dapat melihat kuda nil berenang bersama ikan di dalam tangki besar hingga singa mengaum dari atas batu.
Anak-anak juga dapat mengendalikan avatar mereka menggunakan pengontrol dan bergerak bebas mengelilingi kebun binatang sambil bersemangat menunjukkan berbagai hal yang mereka temukan.
Meski para peserta tidak dapat berbicara menggunakan suara di dalam metaverse, mereka tetap bisa berkomunikasi melalui pesan obrolan dan reaksi seperti tanda "suka".
Takeru Kuwahara, 10, siswa kelas empat sekolah dasar yang telah dirawat di rumah sakit sejak Maret, mengaku awalnya tidak nyaman berada di sekitar hewan. Namun, pengalaman virtual tersebut justru membuatnya merasa lebih tenang.
"Saya bisa melihat mereka tanpa khawatir karena ini VR," katanya. "Saya jadi ingin mengunjungi berbagai tempat, seperti taman hiburan."
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022