Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 05.56 WIB

Dokter Beri Penjelasan Kemungkinan Penyebab Keracunan MBG Buat Masalah Saraf, Ginjal, hingga Jantung

Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya. (Sumut Pos) - Image

Feby br Purba, siswi keracunan MBG kembali mendapat perawatan medis karena racun jamur masuk ke saraf kepalanya. (Sumut Pos)

JawaPos.com - Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi menimbulkan masalah kesehatan mulai dari saraf, ginjal, hingga jantung. Dokter Spesialis Penyakit Dalam memberikan kemungkinan penyebab hal itu terjadi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi-Imunologi Klinik, Dr. dr. Sukamto Koesno, Sp.PD-KAI, FINASIM, menjelaskan, gangguan saraf setelah keracunan berat dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme tidak langsung. Muntah dan diare hebat, misalnya, dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, hingga penurunan kadar gula darah.

“Jalurnya tidak langsung: muntah dan diare hebat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan penurunan kadar gula darah,” ujar dr. Sukamto kepada JawaPos.com, Rabu (9/9).

Kondisi tersebut dapat menyebabkan aliran darah ke otak menurun dan memicu kejang. Salah satu bagian otak yang sangat rentan terhadap kekurangan oksigen dan glukosa adalah hipokampus.

Hipokampus merupakan bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan ingatan baru. Ketika pasokan oksigen dan glukosa terganggu, fungsi bagian tersebut dapat ikut terdampak sehingga gangguan memori mungkin terjadi.

dr. Sukamto mengatakan, masih terdapat sejumlah kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan apabila gangguan saraf atau memori berlangsung setelah keracunan makanan.

“Ada pula kemungkinan kekurangan vitamin B1 akibat muntah berkepanjangan, serta reaksi imun pasca-infeksi seperti ensefalitis autoimun yang khasnya justru muncul beberapa minggu setelah keluhan saluran cerna mereda,” katanya.

Namun, berbagai kemungkinan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab gangguan saraf pada korban. Menurut Sukamto, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi neurologis pasien secara objektif.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan neurokognitif formal, electroencephalography (EEG), MRI kepala, dan bila diperlukan analisis cairan otak.

“Semua ini masih kemungkinan yang harus dibuktikan dengan pemeriksaan neurokognitif formal, EEG, MRI kepala, dan bila perlu analisis cairan otak,” tegasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore