Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Juli 2026 | 15.24 WIB

Obesitas pada Perempuan Bisa Pengaruhi Kesehatan Reproduksi, Tingkatkan Risiko Infertilitas hingga Komplikasi Kehamilan

Ilustrasi pasien obesitas. (ist) - Image

Ilustrasi pasien obesitas. (ist)

JawaPos.com - Obesitas pada perempuan tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Kondisi ini berisiko menyebabkan gangguan siklus menstruasi, ovulasi, infertilitas, hingga meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan.

"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi," ujar Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, dalam diskusi media bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women's Health yang diselenggarakan Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7).

"Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan," sambungnya.

Oleh karena itu, dr. Cynthia menilai bahaa obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu sesuai evaluasi dokter.

Menurutnya, salah satu contoh hubungan erat antara obesitas dan kesehatan reproduksi adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan nama tersebut mencerminkan pemahaman bahwa kondisi ini bukan hanya berkaitan dengan ovarium, melainkan juga gangguan endokrin dan metabolik yang kompleks.

PMOS menjadi penyebab tersering gangguan ovulasi. Sekitar 35–50 persen perempuan dengan kondisi tersebut juga mengalami obesitas, yang dapat memperparah gejala sekaligus meningkatkan risiko komplikasi reproduksi maupun metabolik.

"Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang," jelas dr. Cynthia.

Ia menegaskan obesitas perlu mendapat perhatian serius karena dampaknya dapat dirasakan sejak usia remaja hingga masa pascamenopause. Di Indonesia sendiri, sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas. Prevalensi obesitas pada perempuan juga lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen.

Dalam kesempatan yang sama, Novo Nordisk Indonesia menyoroti bahwa pengelolaan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan multidisiplin yang dipersonalisasi, meliputi perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi farmakologis sesuai indikasi medis, hingga bedah bariatrik pada pasien tertentu. Perubahan gaya hidup tetap menjadi fondasi utama yang dapat dilengkapi dengan terapi medis sesuai penilaian dokter.

Salah satu terapi yang kini berkembang adalah GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA), yang bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Sesuai indikasi medis, terapi ini dapat membantu pengelolaan berat badan sebagai pelengkap perubahan gaya hidup, sekaligus mendukung quality weight loss dengan menurunkan massa lemak sambil mempertahankan massa otot serta berpotensi mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore