
Ilustrasi HIV. (Pexels)
JawaPos.com - Peningkatan temuan kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo tidak serta-merta menunjukkan penularan kasus yang semakin masif. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan kenaikan angka tersebut justru mencerminkan semakin efektifnya upaya deteksi dini sehingga lebih banyak orang mengetahui status HIV dan dapat segera menjalani pengobatan.
Dalam keterangannya, Kemenkes mengimbau masyarakat agar tidak salah menafsirkan data maupun memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV). Sebab, semakin luas cakupan layanan tes HIV di rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga layanan berbasis komunitas membuat semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan dan ditangani lebih awal.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. Mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni, dikutip Selasa (28/7).
Ia menegaskan bahwa HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui terapi ARV.
"HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diminum secara teratur, sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tetap berkontribusi bagi masyarakat," ucap. Andi.
Data Sebaran HIV di Sidoarjo
Adapun berdasarkan data Kemenkes, situasi HIV Kabupaten Sidoarjo sejak 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.183 kasus HIV kumulatif pada kelompok usia 0–24 tahun. Menurut Kemenkes, peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berjalan seiring dengan semakin luasnya akses pemeriksaan HIV.
"Dengan demikian, peningkatan angka penemuan kasus tidak dapat dimaknai secara langsung sebagai peningkatan penularan, melainkan juga mencerminkan semakin efektifnya upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah bersama berbagai mitra," tulis Kemenkes.
Pada kelompok usia 0–10 tahun ditemukan 117 kasus HIV dan seluruhnya merupakan penularan dari ibu ke anak atau penularan vertikal. Dari jumlah tersebut, 32 anak masih hidup dan menjalani terapi antiretroviral (ARV), 35 anak meninggal, sedangkan 50 anak berstatus lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi pengingat pentingnya memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), mulai dari skrining HIV pada ibu hamil hingga memastikan keberlanjutan terapi bagi ibu dan bayinya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022