Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Juli 2026 | 05.43 WIB

Jangan Abaikan! Ini 9 Tanda Tubuh Kebanjiran Hormon Kortisol Akibat Stres Kronis

Tanda kecanduan stres dan kebiasaan tidak sehat akibat kortisol tinggi. (Magnific) - Image

Tanda kecanduan stres dan kebiasaan tidak sehat akibat kortisol tinggi. (Magnific)

JawaPos.com - Stres merupakan bagian normal dari dinamika kehidupan sehari-hari. Namun, ketika stres berubah menjadi kronis, tubuh Anda akan dipaksa bekerja terlalu keras tanpa henti. Kondisi ini memicu pelepasan kortisol, hormon kunci dalam respons stres tubuh, secara berlebihan. Jika kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu lama, tubuh akan mulai mengirimkan sinyal-sinyal peringatan yang sering kali menjadi lampu kuning sebelum Anda mengalami kelelahan mental total atau burnout.

Ketika kadar kortisol seseorang sudah mencapai titik puncaknya, tubuh akan menunjukkan serangkaian perubahan fisik dan psikologis yang signifikan. Sinyal-sinyal ini tidak boleh disepelekan karena berdampak langsung pada kualitas hidup jangka panjang. Berikut adalah sembilan gejala nyata saat tubuh Anda mulai kewalahan akibat ledakan hormon kortisol:

1. Gangguan Tidur yang Polanya Berantakan

Secara alami, kortisol mengikuti ritme harian yang stabil: meningkat di pagi hari untuk membantu Anda terbangun, dan menurun di malam hari agar Anda bisa beristirahat. Namun, saat stres kronis melanda, kadar kortisol tetap tinggi di malam hari.

Kondisi ini membuat otak tetap dalam mode waspada meskipun fisik Anda sudah sangat kelelahan. Akibatnya, Anda akan kesulitan untuk mulai tidur, sering terbangun di tengah malam, atau terbangun terlalu pagi dan tetap merasa lelah sepanjang hari.

2. Tubuh dan Pikiran Selalu Merasa Tegang

Alih-alih hanya merasakan stres sesekali, orang dengan kortisol tinggi akan mendapati sistem saraf mereka bersiap menghadapi bahaya setiap saat. Bahkan masalah kecil sekalipun bisa terasa sangat mengganggu dan membuat mereka sulit rileks.

Secara internal, gejala ini memicu pikiran yang berpacu (racing thoughts) dan kecemasan berlebih. Secara fisik, ketegangan ini kerap ditandai dengan keringat dingin berlebih serta napas yang terasa pendek atau dangkal.

Terkait kondisi yang intens ini, Dr. Natasha Malkani, MD, seorang dokter spesialis endokrinologi di Cedars-Sinai, memberikan saran penting. "Gejala-gejala ini cenderung cukup dramatis, dan jika pasien mengalaminya, mereka harus meminta dokter mereka untuk memeriksa kadar kortisol mereka untuk membantu diagnosis," ujarnya.

3. Perubahan Kulit Menjadi Lebih Rapuh

Tingginya kadar kortisol secara kronis dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam membangun dan memperbaiki jaringan sel. Seiring berjalannya waktu, kulit Anda bisa menjadi lebih tipis, sensitif, dan rapuh.

Dampaknya, luka kecil, goresan, memar, atau noda pada kulit akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Perubahan fisik yang terlihat jelas ini sering kali memicu rasa tidak percaya diri hingga kecemasan sosial pada penderitanya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore