Bubuk MSG (dok. freepik)
Melansir Medical News Today, MSG pertama kali ditemukan pada tahun 1908 oleh Profesor Kikunae Ikeda dari Jepang. Ia mengekstrak glutamat dari rumput laut kombu, melarutkannya dalam air, lalu menambahkan natrium hidroksida hingga terbentuk MSG. Dari sinilah muncul istilah rasa kelima, yakni umami, yang melengkapi rasa manis, asin, asam, dan pahit.
Sebagai asam amino alami, glutamat banyak terdapat dalam makanan sehari-hari, mulai dari sayuran seperti wortel, kubis, dan bawang, hingga sumber protein seperti keju, telur, ikan teri, dan udang. Selain secara alami, MSG juga bisa dihasilkan melalui proses fermentasi dari bahan nabati maupun hewani, seperti molase, tebu, bit gula, kacang-kacangan, jamur, hingga rumput laut.
Sejak awal penemuannya, MSG banyak digunakan di Asia karena kemampuannya memperkaya cita rasa makanan. Penggunaannya kemudian meluas ke negara Barat, meskipun awalnya disambut dengan skeptisisme. Kini, MSG hadir tidak hanya di masakan restoran, tetapi juga dalam makanan olahan seperti makanan beku, sup kalengan, saus salad, hingga susu formula bayi.
Selain di dunia kuliner, MSG juga memiliki peran dalam pertanian. Produk bernama AuxiGro yang mengandung MSG digunakan sebagai pupuk, pestisida, sekaligus pemicu pertumbuhan tanaman agar hasil panen lebih optimal.
Salah satu anggapan keliru yang sering ditemui adalah bahwa MSG mengandung garam berlebihan. Padahal, kadar natrium dalam MSG hanya sekitar 12 persen, jauh lebih rendah dibandingkan garam dapur yang mencapai 40 persen. Beberapa penelitian bahkan menilai MSG dapat menjadi alternatif pengganti garam untuk menekan asupan natrium dan menurunkan risiko hipertensi.
Mitos lain menyebutkan bahwa makanan yang mengandung MSG juga pasti mengandung gluten. Kenyataannya, gluten adalah protein dari gandum yang berbeda dari glutamat. Glutamat berperan sebagai neurotransmitter penting dan digunakan tubuh untuk memproduksi asam amino lain, sehingga tidak berkaitan dengan masalah intoleransi gluten.
Banyak pula yang beranggapan bahwa jika label kemasan tidak mencantumkan MSG, maka produk tersebut bebas MSG. Faktanya, MSG dapat terbentuk secara alami dari bahan makanan tertentu. Jadi, meskipun tidak ada tambahan MSG buatan, makanan tetap bisa mengandung MSG alami dari bahan bakunya.
Ada pula mitos bahwa tubuh tidak mampu memproses MSG dengan baik. Nyatanya, tubuh manusia memiliki banyak reseptor glutamat, baik di saluran pencernaan maupun sistem saraf. Penelitian menunjukkan bahwa glutamat dari MSG diproses tubuh sama halnya dengan glutamat dari makanan alami. Bahkan, beberapa studi menemukan konsumsi MSG dapat meningkatkan sensitivitas reseptor glutamat dalam usus.
Kontroversi "Chinese Restaurant Syndrome"
Kontroversi besar terkait MSG muncul di Amerika Serikat pada tahun 1968, ketika Dr. Robert Ho Man Kwok melaporkan gejala seperti mati rasa, rasa terbakar di leher, kelemahan, dan jantung berdebar setelah makan di restoran Cina. Media kemudian mengaitkan gejala ini dengan penggunaan MSG, sehingga lahirlah istilah “Chinese restaurant syndrome”.
Namun, sejumlah penelitian lanjutan tidak menemukan bukti konsisten yang menghubungkan MSG dengan gejala tersebut. Survei besar yang dilakukan terhadap lebih dari 3.000 orang menunjukkan kurang dari 2 persen responden yang melaporkan keluhan serupa setelah mengonsumsi MSG.
Kini, istilah “Chinese restaurant syndrome” dianggap bermuatan rasisme dan xenofobia, karena menstigmatisasi kuliner Asia. Para ahli lebih memilih istilah yang netral, yaitu “MSG symptom complex”, untuk menggambarkan kemungkinan reaksi tubuh terhadap MSG, meskipun kasusnya sangat jarang dan tidak konsisten.
Risiko Kesehatan
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022