Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Tes DNA selama ini dikenal masyarakat luas sebagai alat untuk mencocokkan hubungan darah, misalnya antara orang tua dan anak. Namun, sebenarnya pemeriksaan ini punya banyak fungsi lain yang tak kalah penting.
Salah satu tokoh publik, Ridwan Kamil, diketahui menjalani tes DNA hari ini untuk membuktikan klaim Lisa Mariana yang mengaku mempunyai anak dari mantan Gubernur Jawa Barat tersebut.
Namun, fungsi tes DNA bukan cuma sebatas urusan silsilah keluarga. Tes ini bisa jadi alat deteksi dini penyakit, jadi panduan pengobatan yang lebih akurat, sampai membantu pasangan yang ingin punya anak.
Dengan perkembangan teknologi medis, tes DNA kini bisa dilakukan lewat sampel air liur, darah, atau jaringan tubuh lainnya, dan hasilnya membuka banyak informasi penting tentang tubuh seseorang.
Berikut ini tujuh jenis tes DNA beserta fungsinya yang perlu diketahui masyarakat luas, terutama dalam konteks kesehatan dan perencanaan masa depan, dikutip dari laman Ciputra Hospital, Kamis (7/8).
1. Tes Pralahir (Prenatal Test)
Tes ini dilakukan saat janin masih dalam kandungan, dan bertujuan mendeteksi kemungkinan kelainan genetik atau kromosom sedini mungkin. Biasanya disarankan untuk ibu hamil dengan risiko tinggi, seperti yang punya riwayat penyakit keturunan atau hamil di usia matang. Tes ini membantu orang tua dan dokter dalam merencanakan penanganan medis lebih awal bila diperlukan.
Selain itu, tes pralahir bisa jadi sumber ketenangan batin bagi calon orang tua. Dengan mengetahui kondisi janin secara detail, mereka bisa menyiapkan segala hal, termasuk mental, jika ternyata dibutuhkan perhatian medis khusus.
2. Tes Diagnostik
Jenis tes ini dilakukan saat seseorang sudah menunjukkan gejala penyakit tertentu. Tujuannya untuk memastikan apakah gejala itu terkait dengan kelainan genetik tertentu atau bukan. Dengan kata lain, ini adalah alat bantu diagnosa yang bisa menghindarkan pasien dari kesalahan penanganan medis.
Sebagai contoh, pada kasus penyakit langka atau kronis yang sulit diidentifikasi, tes DNA bisa menjadi kunci diagnosis. Ini memungkinkan dokter menyusun perawatan yang lebih tepat sasaran sesuai kondisi pasien.
3. Uji Pembawa (Carrier Screening)
Uji pembawa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki gen pembawa penyakit keturunan, walau orang itu sendiri tampak sehat. Ini penting terutama bagi pasangan yang ingin menikah atau punya anak, untuk menghindari risiko menurunkan penyakit ke generasi berikutnya.
Jika kedua pasangan ternyata membawa gen yang sama, anak mereka berisiko 25% mewarisi penyakit tersebut secara penuh.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
