Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Mei 2025 | 16.08 WIB

Mindset Kualitas Dokter Lebih Baik, Pemicu Masih Banyak Masyarakat Indonesia Berobat ke Luar Negeri

Komisaris Utama BMHS Ivan Rizal Sini (kanan) bersama mantan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi (dua dari kanan) di Jakarta (24/5). (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Komisaris Utama BMHS Ivan Rizal Sini (kanan) bersama mantan Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi (dua dari kanan) di Jakarta (24/5). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sampai saat ini jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, cukup besar. Bahkan diprediksi Rp 180 triliun devisa Indonesia mengalir ke luar negeri gara-gara masyarakatnya berobat ke luar negeri. Fenomena ini jadi salah satu bahasan dalam diskusi kesehatan Ibu dan Anak yang diselenggarakan RS Bunda Grup (BMHS) di Jakarta pada Sabtu (24/5).

Komisaris Utama BMHS Ivan Rizal Sini menjelaskan alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri banyak. "Tidak 100 persen benar dan tidak 100 persen salah," katanya. Dia menegaskan bahwa layanan kesehatan di Indonesia sudah banyak kemajuan. 

Diantara kemajuan layanan kesehatan di Indonesia adalah keseimbangan kompetensi dokter dan perawat. Tetapi masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki mindset atau pola pikir, jika berobat di Indonesia dokter yang bagus itu di mana. 

"Tetapi kalau berobat ke luar negeri, mindset seperti itu tidak ada," katanya. Dengan kata lain masyarakat Indonesia tidak lagi mempertanyakan kualitas dokter saat memilih berobat ke luar negeri. Masyarakat Indonesia mempunyai mindset bahwa semua dokter di luar negeri kualitasnya bagus. 

Menurut Ivan untuk mengubah mindset seperti itu tidak gampang. Di satu sisi rumah sakit di Indonesia harus terus meningkatkan kualitas pelayanannya. "Tidak boleh ada layanan yang berhenti dari improve," jelasnya. Kemudian para tenaga kesehatan harus selalu upgrade kompetensi. Selain itu pemerintah atau negara harus ikut terlibat lewat kewenangan membuat regulasinya. 

Acara tersebut juga menghadirkan mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Lestari Priansari Marsudi. Dia mengupas mengenai kesehatan keluarga, khususnya ibu dan anak. Dia menekankan kesehatan ibu dan anak sangat strategis. "Saya berbicara kesehatan ibu dan anak secara general," katanya. 

Dia menceritakan secara demografi di 2023, populasi perempuan di dunia mencapai 49 persen lebih. Sisanya laki-laki. Kemudian populasi anak-anak (usia 0-14 tahun) mencapai 26 persen. Angka tersebut hampir sama dengan kondisi di Indonesia. Yaitu populasi perempuan sebanyak 49,8 persen dan anak-anak 24,4 persen. 

"Maka kalau bicara tentang ibu dan anak itu sudah mendominasi (populasi)," tuturnya. Maka upaya menjaga kesehatan anak-anak dan ibu sangat penting. Karena ketahanan sebuah negara, terkait dengan ketahanan kesehatan masyarakatnya. Lalu dengan menjaga kesehatan ibu dan anak, berarti sudah menjaga kesehatan separuh lebih populasi. 

Retno mengatakan untuk di Indonesia, masih ada sejumlah persoalan kesehatan ibu dan anak. Diantaranya adalah angka kematian ibu hamil. Dia mengungkapkan angka kematian ibu hamil di Indonesia masih 170 orang/100.000 orang. Sementara itu target di SDGs adalah 70 orang/100.000 orang. "Harus kerja keras menurunkan angka kematian ibu hamil," kata dia. 

Masalah lainnya adalah soal stunting. Dia menjelaskan dari tahun ke tahun, angka stunting di Indonesia menurun. Sekarang sudah di 19 persenan. Sementara target pemerintah di angka 14 persen. Sekali lagi retno mengatakan perlu kolaborasi banyak pihak untuk mengatasinya. (wan) 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore