
Orang yang berjalan kaki dengan cepat menurunkan risiko diabetes. (Freepik)
JawaPos.com – Penelitian baru oleh Sun Life mengungkapkan biaya tersembunyi dari hidup dengan diabetes tipe 2 serta dampaknya pada keuangan dan kesehatan mental di Asia, menyoroti kebutuhan mendesak akan pendidikan, pencegahan, dan akses terhadap perawatan.
Penelitian ini mengikuti peningkatan kasus diabetes yang bersifat endemik dalam beberapa dekade terakhir, dengan lebih dari 540 juta orang hidup dengan kondisi ini di seluruh dunia. Lebih dari 90 juta di antaranya berada di Asia Tenggara, di mana jumlah orang dewasa dengan diabetes diperkirakan akan melonjak menjadi 152 juta pada tahun 2045, yang menghadirkan tantangan kesehatan masyarakat yang serius. Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling umum, mencakup sekitar 90 persen dari kasus global .
Penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun jumlah kasus terus meningkat, hanya sedikit orang yang secara aktif mengambil langkah untuk menurunkan risiko mereka terkena diabetes atau mempelajari lebih lanjut tentang kondisi ini. Bagi mereka yang menderita diabetes, dampaknya tidak hanya bersifat fisik.
Selain dampak fisik dari diabetes, kondisi ini memiliki biaya finansial yang signifikan, mencegah banyak orang mendapatkan perawatan kesehatan yang sesuai. Sepertiga (37 persen) dari mereka yang hidup dengan diabetes di Indonesia melaporkan dampak finansial yang 'parah' atau signifikan dalam hidup mereka, dengan 81 persen tidak mampu secara konsisten membiayai perawatan yang sesuai.
Kekhawatiran finansial terkait diabetes bahkan lebih dominan dibandingkan kekhawatiran kesehatan. Sebanyak 74 persen non-diabetesi merasa 'sangat khawatir' atau 'khawatir' akan beban finansial yang mungkin terjadi akibat diagnosis diabetes tipe 2, yang menyoroti perlunya perlindungan asuransi kesehatan.
Penelitian ini juga mengungkapkan dampak kesehatan mental yang tersembunyi dari penyakit ini. Sebanyak 63 persen penderita diabetes melaporkan dampak negatif pada kesehatan mental mereka setelah diagnosis.
Hal ini diperburuk oleh dampak sosial yang dialami di rumah dan di tempat kerja; 70 persen penderita diabetes merasa dihakimi oleh keluarga dan teman setelah didiagnosis dan 74 persen menghadapi penilaian atau prasangka di tempat kerja terkait kondisi mereka.
Kah Jing Lee selaku Chief Client Officer Sun Life Indonesia mengatakan bahwa beban fisik, mental, dan finansial dari diabetes bisa sangat besar. Jumlah penderita diabetes yang tidak mampu membiayai perawatan yang konsisten menunjukkan kebutuhan mendesak akan akses yang terjangkau ke pengobatan.
"Sebagai perusahaan asuransi, kami berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan diabetes tipe 2 sedini mungkin melalui habituasi gaya hidup aktif dan sehat bagi generasi muda serta didukung dengan penyediaan akses olahraga bagi komunitas masyarakat yang membutuhkan," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/11).
Sedikit Orang Lakukan Pencegahan
Risiko diabetes terus meningkat di Indonesia, namun hanya 47 persen dari populasi yang menjalani pemeriksaan tahunan untuk diabetes tipe 2 dan 36 persen belum pernah melakukan pemeriksaan, yang menyebabkan diagnosis tak terduga dan kasus yang seharusnya bisa dicegah.
Hanya sebagian kecil yang secara konsisten melakukan langkah pencegahan seperti menjaga pola makan sehat, memantau berat badan dan gula darah, serta rutin berolah raga. Satu dari lima orang tidak memastikan anak-anak mereka mengonsumsi makanan sehat, dan 27 persen tidak mendorong anak-anak mereka untuk berolah raga.
Banyak orang kesulitan memahami informasi gizi. Sebanyak 31 persen kesulitan mengidentifikasi gula dan lemak tersembunyi dalam pola makan mereka, sementara 23 persen kesulitan memahami dampak makanan tertentu pada kadar gula darah mereka.
Olah raga teratur, pola makan sehat, dan skrining dini memiliki kekuatan untuk mengurangi risiko diabetes, namun bergantung pada peningkatan kesadaran. Sejak 2012, Sun Life telah mengalokasikan lebih dari USD 53 juta untuk memerangi diabetes secara global melalui kemitraan strategis yang mendukung komunitas yang paling rentan.
Kurang Aktivitas Fisik Tingkatkan Risiko

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
