Ilustrasi kebiasaan parenting yang membedakan keluarga kaya dan biasa dalam mendidik anak. (freepik/ senivpetro)
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak keluarga mapan tampak memiliki kondisi finansial yang solid, rumah nyaman, pendidikan anak terjamin, dan pola hidup yang tertata. Sekilas, semuanya terlihat aman. Namun di balik gambaran tersebut, tersimpan sebuah vulnerability gap atau celah kerentanan yang kerap luput dari perhatian.
Hal ini terjadi karena kemapanan sering disamakan dengan keamanan finansial, padahal keduanya tidak selalu sejalan.
Semakin tinggi tingkat kemapanan sebuah keluarga, semakin rumit pula risiko yang dihadapi. Mulai dari besarnya potensi risiko finansial, ketergantungan pada satu sumber penghasilan utama, tuntutan gaya hidup, hingga pengelolaan aset antar generasi. Tanpa perlindungan yang dirancang secara tepat, kondisi mapan justru dapat menjadi rapuh saat menghadapi situasi yang tidak terduga.
Data Financial Resilience Index Sun Life Indonesia 2025 menunjukkan bahwa 71 persen keluarga Indonesia memiliki aspirasi untuk membangun kekayaan keluarga. Untuk mendukung aspirasi tersebut sekaligus membantu mengelola risiko yang semakin kompleks, Sun Life Indonesia memiliki solusi perlindungan yang dirancang untuk menjaga kesinambungan keuangan keluarga, bahkan ketika risiko tak terduga muncul.
Solusi tersebut mencakup perlindungan pengganti penghasilan bagi pencari nafkah utama, perlindungan waris yang bersifat likuid dan bebas pajak, serta perencanaan lintas generasi yang terstruktur dan berkelanjutan.
Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya vulnerability gap pada keluarga Indonesia seperti dilansir dari rilis Sun Life Indonesia, Jumat (19/12).
1. Ketergantungan pada Satu Pencari Nafkah Utama
Banyak keluarga masih menggantungkan stabilitas keuangannya pada satu figur berpenghasilan tinggi. Ketika seluruh pendapatan keluarga bergantung pada satu orang, risiko finansial menjadi jauh lebih besar.
Jika terjadi sesuatu pada figur tersebut, dampaknya tidak hanya mengganggu arus keuangan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup keluarga dan rencana jangka panjang, termasuk pendidikan anak.
Sayangnya, tidak sedikit keluarga yang belum menyiapkan skema perlindungan pengganti penghasilan yang mampu menjaga standar hidup mereka.
2. Kenaikan Gaya Hidup Sejalan dengan Penghasilan
Kemapanan sering diiringi dengan meningkatnya biaya hidup, mulai dari sekolah berstandar premium, cicilan aset bernilai besar, perjalanan rutin, hingga kebutuhan menjaga gaya hidup. Kondisi ini menuntut dana darurat dan proteksi finansial yang sebanding dengan tingkat pengeluaran tersebut.
Namun pada praktiknya, banyak keluarga belum menghitung secara akurat biaya hidup sesungguhnya. Akibatnya, saat risiko muncul, perlindungan dan cadangan dana yang tersedia tidak memadai untuk menopang gaya hidup yang sudah terbentuk.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022