
Ilustrasi polusi udara. (freepik)
JawaPos.com - Kita perlu menyadari dan menerima fakta bahwa kadar polusi udara di perkotaan saat ini sangat buruk dan kesehatan kita akan sangat terpengaruh oleh polusi tersebut.
Polusi udara yang disebabkan oleh asap kendaraan, asap pabrik, dan kurangnya tanaman untuk menyerap karbon dioksida, diakui telah menyebabkan berbagai macam penyakit.
Dilansir dari Agensi Lingkungan Eropa, World Health Organization (WHO) menyediakan bukti-bukti paparan polusi udara terhadap diabetes tipe 2, obesitas, peradangan, alzheimer dan demensia.
Agensi Penelitian Kanker Internasional telah menklasifikasi polusi udara tipe PM 2.5 sebagai penyebab utama kanker.
Sebuah studi global menemukan paparan polusi udara berlebihan dan terlalu sering dapat menyebabkan kerusakan pada semua organ pada tubuh kita.
Anak-anak bahkan lebih rentan terhadap polusi udara karena tubuh mereka, organ dan sistem imunitas, masih berkembang.
Maka dari itu, anak-anak yang terpapar polusi udara secara kronis lebih rentan terhadap penyakit-penyakit pada masa tua mereka.
Polusi udara PM 2.5 adalah sejenis polusi udara yang paling signifikan terhadap kematian prematur. Pada tahun 2021, 97 persen populasi perkotaan telah terekspos polusi udara tersebut, dan angka jauh lebih tinggi daripada yang diinginkan oleh WHO.
Dilansir dari National Institute of Environmental Health Sciences, paparan polusi udara berhubungan dengan stres oksidasi dan peradangan pada sel-sel manusia. Reaksi tersebut dapat menyebabkan penyakit kronis dan kanker.
Sudah ada banyak penelitian yang menemukan paparan singkat dalam tingkat tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, asma, penyakit jantung, dan sebagainya.
Ditemukan juga dalam sebuah penelitian, tingkat kematian akibat polusi udara berkurang setelah beberapa pabrik bertenaga kerja batu bara berhenti. Hal tersebut karena PM 2.5 dari batu bara tinggi akan kandungan sulfur dioksida, karbon, dan zat besi.
Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh paparan polusi udara tinggi adalah kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, diabetes melitus, obesitas, gangguan reproduksi, gangguan saraf, dan gangguan pada sistem imunitas. Tentunya, polusi udara dapat mempengaruhi siapa pun, namun mayoritas penderita biasanya tinggal di perkotaan.
Dilansir dari laman WHO, pada tahun 2019, ditemukan polusi udara memakan 6.7 juta korban jiwa. Dan 85 persen dari korban-korban tersebut menderita penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, asma, dan diabetes.
Kadar polusi udara dapat dikurangi, akan tetapi membutuhkan bantuan dari semua orang di muka bumi ini untuk ikut berkontribusi atas kesehatan publik.
WHO menuliskan polusi udara kebanyakan berasal dari asap knalpot dari transportasi tenaga bensin, gas-gas dari pembakaran sampah, agrikultur, pabrik-pabrik, dan penggunaan energi tidak efisien dari rumah tangga.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
