alexametrics

Penelitian Ungkap Minuman Teh Pengaruhi Struktur Otak Manusia

24 Oktober 2019, 11:23:50 WIB

JawaPos.com – Teh umumnya menjadi minuman alternatif pengganti kopi yang diminum untuk memulai hari. Sebab, minuman teh dinggap bisa membangkitkan mood untuk memulai kegiatan karena mengandung kafein seperti kopi.

Baru-baru ini, penelitian mengungkapkan bukti dari minum teh bagi otak manusia. Terutama bagi struktur otak. Penelitian ini dilakukan dengan memerhatikan perilaku meminum minuman teh secara rutin.

Dilansir dari NDTV, Kamis (24/10), penelitian tersebut mengatakan, peminum teh memiliki struktur otak yang lebih baik dibanding yang tidak rutin. Bahkan, dengan rutin minum teh, bisa menghasilkan konektivitas fungsional dan struktural yang lebih besar di otak. Temuan ini dikatakan dalam penelitian, ‘Minum teh kebiasaan memodulasi efisiensi otak: bukti dari evaluasi konektivitas otak’ yang tertuang di jurnal anti penuaan dini (Aging).

Penelitian nini dilakukan pada peserta berusia 60 atau lebih. Sekelompok peserta diminta untuk mengisi kuesioner tentang kebiasaan minum teh. Mulai dari seberapa sering mereka mengonsumsi minuma teh hingga jenisnya. Mereka juga diminta memberikan rincian kesehatan psikologis, gaya hidup sehari-hari dan kesehatan mereka secara keseluruhan.

Setelah itu, para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan hasil kuesioner. Yakni peminum teh dan bukan peminum teh. Lalu mereka diminta untuk menjalani pemindaian MRI untuk dilihat struktur otaknya.

Hasilnya, para ilmuwan melihat perbedaan struktur otak yang signifikan antara peminum teh dan peminum non-teh. Penelitian ini difokuskan pada Default Mode Network (DMN), yang merupakan jaringan besar yang menghubungkan berbagai bagian otak.

Pengamatan dalam penelitian ini sebagian mendukung hipotesis bahwa minum teh memiliki efek positif pada struktur otak serta menimbulkan efisiensi yang lebih besar dalam konektivitas fungsional dan struktural. Minum teh meningkatkan efisiensi jaringan global yang ditemukan dalam struktur otak.

Namun, penelitian ini masih berskala sangat kecil, karena jumlah peserta hanya berjumlah 36 orang dan jumlah perempuan hanya enam. Karena itu, hasil penelitian ini harus diteliti lebih lanjut.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads