Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 September 2023 | 18.48 WIB

Upaya Preventif Cegah Penyakit Jantung: Program Rehabilitasi Jantung Cegah Kekambuhan hingga 25 Persen

DIPANTAU KETAT: Seorang pasien melakukan terapi untuk prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular di RS Husada Utama. - Image

DIPANTAU KETAT: Seorang pasien melakukan terapi untuk prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular di RS Husada Utama.

Perlu pendekatan komprehensif untuk menangani penyakit jantung. Dengan begitu, penderita tidak mengalami kambuhan berulang. Salah satunya mengenalkan layanan prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular (PRK).

---

SELAMA ini, belum banyak orang yang tahu tentang layanan PRK di sejumlah rumah sakit. Padahal, layanan rehabilitasi medik jantung tersebut berperan penting dalam kesembuhan pasien penyakit jantung pembuluh darah.

’’Layanan PRK ini 25 persen dapat mencegah kambuh dari penyakit jantung. Layanan itu bisa untuk penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga penyakit jantung bawaan. Kecuali stroke,” jelas dr Dyana Sarvasti SpJP(K).

Dokter spesialis jantung Rumah Sakit Husada Utama (RSHU) itu mengatakan, selama ini masyarakat awam lebih mengenal rehabilitasi medik yang di dalamnya disupervisi oleh kedokteran fisik dan rehabilitasi. Rehabilitasi medis membantu kesembuhan pasien patah tulang hingga stroke.

”Sementara, layanan PRK di dalamnya disupervisi langsung oleh pendidikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang memiliki keahlian khusus,” katanya.

Dyana menuturkan, rehabilitasi jantung adalah program latihan dan edukasi yang dibuat secara khusus untuk pasien jantung. Program tersebut didesain untuk meningkatkan kesehatan jantung. Khususnya, setelah mengalami serangan jantung maupun setelah menjalani tindakan intervensi atau operasi jantung.

”Program rehabilitasi jantung di antaranya latihan olahraga, dukungan emosional, dan edukasi tentang perubahan gaya hidup untuk menurunkan risiko penyakit jantung,” ujarnya.

Tujuan program tersebut adalah membantu pasien meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup. Selain itu, juga menurunkan risiko terjadinya masalah pada jantung di kemudian hari dan mencegah perburukan kondisi.

”Dalam layanan prevensi dan rehabilitasi kardiovaskular (PRK) ada tiga fase,” jelasnya.

Pada fase pertama, lanjut dia, pasien masih dirawat di rumah sakit. Tujuan perawatan itu adalah agar pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Layanan tersebut ditujukan kepada pasien pasca terserang penyakit jantung atau operasi jantung.

Pada fase 2, program untuk pasien yang sudah pulang ke rumah. Namun, mereka harus datang ke rumah sakit untuk mengikuti program. Tujuannya, mereka bisa melakukan kegiatan sehari-hari dan kembali bekerja.

Pada fase 2 tersebut, pasien akan bertemu dengan dokter dari berbagai bidang. Mulai dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, ke dokteran fisik dan rehabilitasi medik, psikiater atau psikolog, hingga dokter spesialis gizi klinik.

”Biasanya butuh waktu 4–6 minggu untuk layanan PRK,” lanjutnya.

Layanan pada fase 3 khusus pasien yang sudah tuntas latihan di fase 2. Pasien diharapkan mampu melakukan olahraga dan pola hidup sehat. Pada fase tersebut, pasien tidak lagi disupervisi, tetapi sudah dilepas di lingkungannya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore