Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Juni 2022 | 14.48 WIB

Durasi Serangan Migrain 4 hingga 72 Jam

PEREMPUAN LEBIH RENTAN: Perubahan hormon pada masa sebelum dan sesudah menstruasi bisa menjadi salah satu faktor pemicu migrain. (Foto Ilustrasi Diperagakan Septi Diajeng. Dite Surendra/Jawa Pos) - Image

PEREMPUAN LEBIH RENTAN: Perubahan hormon pada masa sebelum dan sesudah menstruasi bisa menjadi salah satu faktor pemicu migrain. (Foto Ilustrasi Diperagakan Septi Diajeng. Dite Surendra/Jawa Pos)

Kepala berdenyut pada satu sisi dan dibarengi mual. Kemudian, pandangan seperti ada kilatan cahaya. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, bisa jadi Anda terkena migrain.

---

MIGRAIN masuk daftar nyeri kepala primer. Yang dimaksud nyeri kepala primer adalah nyeri tanpa ada penyakit yang mendasarinya. Balitbangkes Kementerian Kesehatan mencatat, migrain memiliki prevalensi sebesar 22,4 persen di Indonesia.

Dokter spesialis akupunktur klinik Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya, Jakarta, Newanda Mochtar menyatakan bahwa migrain merupakan nyeri kepala tipe kronis dengan gejala keluhan yang sama, berulang-ulang, dan menyerang usia produktif. Migrain berisiko menurunkan produktivitas kerja hingga 80 persen, berpotensi memengaruhi kualitas hidup, perekonomian, serta pendidikan.

Serangan nyeri kepala migrain bersifat spesifik, paroksismal atau mendadak, dan kerap dibarengi adanya kilatan cahaya di depan mata. Newanda mengungkapkan, migrain hanya dapat diobservasi dokter yang memeriksa. Baik sebelum ataupun sesudah serangan.

’’Durasi serangan migrain bisa berlangsung 4 hingga 72 jam,’’ paparnya. Dengan karakteristik berdenyut. Intensitasnya bisa sedang sampai berat. Tak sedikit pasien juga sensitif terhadap cahaya dan suara.

Namun, kelompok studi nyeri kepala Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dan American Headache Society (AHS) pada 2013 menyatakan, tidak harus ada nyeri kepala berdenyut, nyeri kepala unilateral, dan ada tidaknya gejala dalam setiap serangan.

Apa saja penyebab migrain? Newanda menyampaikan beberapa faktor. Pertama, ketidakseimbangan neurotransmitter otak, perubahan hormon pada perempuan, termasuk sebelum dan sesudah menstruasi, kehamilan, dan menopause.

Selain itu, dia menambahkan bahwa obat-obatan hormonal seperti kontrasepsi oral dan terapi pengganti hormon bisa memperburuk keadaan migrain. ’’Makanan seperti keju, asin, makanan yang diproses, pemanis aspartam dan monosodium glutamate, serta minuman beralkohol dan berkafein juga memicu migrain,” paparnya.

Pencetus migrain 60 persen faktor genetik. Lalu, 40 persen pencetus migrain lainnya adalah faktor lingkungan. Karena itu, Newanda menjelaskan bahwa dalam pendekatan penanganannya diperlukan kesinambungan. Baik terhadap individu maupun keluarga atau lingkungannya.

BEBERAPA FAKTOR RISIKO MIGRAIN

Riwayat keluarga dengan migrain

Usia (mulai dewasa muda hingga puncaknya ketika usia 30-an)

Lebih sering terjadi pada perempuan

Perubahan hormonal. Biasanya sebelum dan setelah menstruasi pada perempuan




*) Dokter Newanda Mochtar SpAk, Spesialis akupunktur klinik RS Pondok Indah-Bintaro Jaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore