Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Januari 2022 | 22.54 WIB

Ganggu Kesehatan, Bahaya Pembakaran Sampah Masih Minim Edukasi

Times of India - Image

Times of India

JawaPos.com - Kebiasaan membakar sampah rumah tangga secara terbuka memang masih ditemui di tengah masyarakat. Padahal, membakar sampah secara terbuka menjadi salah satu penyebab polusi udara yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

Dilansir metropolitantransferstation, Selasa (11/1), sebenarnya, aksi pembakaran sampah yang dilakukan manusia justru akan dirasakan balik oleh masyarakat. Setidaknya ada beberapa efek buruk dari pembakaran sampah. Mulai dari gangguan pernapasan hingga meningkatkan suhu.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran bisa membuat kesulitan bernapas. Asap bercampur bahan partikulat tersuspensi (SPM) yang pada akhirnya menyebabkan masalah pernapasan. Belum lagi jika sampah yang dibakar adalah produk karet atau bahan berbahaya lainnya, yang bisa melepaskan bau ke udara. Dalam jangka panjang, bisa menyebabkan masalah pernapasan yang lebih serius jika seirng terpapar asap hasil pembakaran sampah.

Pembakaran sampah di ruang terbuka menghambat sirkulasi alami oksigen. Hal itu akan menghambat keseimbangan ekologi suatu daerah. Pembakaran sampah juga berkontribusi pada peningkatan suhu atmosfer. Jika saat ini semua orang bicara soal pemanasan global, maka pembakaran sampah adalah salah satu faktor yang terkait langsung dengannya.

Selain pernapasan, asap juga bisa menyebabkan iritasi mata. Tetap terpapar dalam waktu yang lebih lama bahkan dapat menyebabkan masalah mata yang parah.

Merkuri pun dapat terlepas dan bercampur dengan tanah, air, dan udara. Ini adalah elemen beracun. Jika terpapar ke atmosfer, maka bukan tidak mungkin berpotensi masuk ke dalam rantai makanan. Dengan demikian, air dan makanan menjadi beracun.

Diungkapkan, Prigi Arisandi, Direktur Ecological Observation & Wetland Conservation (Ecoton), sebuah Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah, ada dua hal yang bisa dilakukan agar pembakaran sampah tidak lagi menjadi kebiasaan masyarakat. Yaitu edukasi kepada masyarakat serta peran dari pemerintah dalam mengelola sampah.

Sebab, jika dilihat secara nasional, setiap tahun masyarakat menghasilkan 8 juta ton sampah plastik. Sementara hanya 3 juta ton yang dikelola oleh pemerintah.

“Artinya, ada 5 juta ton sampah yang terabaikan. 2,6 juta ton sampah dibuang ke sungai, sisanya 2,4 juta ton akan dibakar. Jadi, perilaku membakar sampah itu terjadi di mana-mana,” ujar Prigi dalam video yang diunggah akun instagram Bicara Udara.

Oleh karena itu, Prigi mengatakan perlu peran dari masyarakat melalui berbagai macam komunitas yang secara mandiri dapat aktif untuk memberikan informasi dan edukasi mengenai lingkungan. Khususnya tentang pengelolaan sampah.

"Bagaimana masyarakat harus mendapatkan edukasi melalui sekolah dan dunia pendidikan, bahwa membakar sampah mengeluarkan bahan-bahan kimia (yang berdampak buruk),” ujar Prigi.

Sedangkan yang kedua, lanjut Prigi, perlu adanya upaya dan aksi nyata dari pemerintah untuk menyediakan sarana pengelolaan sampah yang baik dan memadai. Sebab, menurutnya, saat ini regulasi pengelolaan sampah dari pemerintah masih belum optimal.

“Memang untuk mewujudkan masyarakat yang berpartisipasi dan berkontribusi pada lingkungan dibutuhkan akses informasi. Dari tersedianya informasi ini, kami yakin lambat laun akan tercipta masyarakat yang kritis, mandiri, dan memperjuangkan lingkungan yang sehat dan bebas pencemaran,” pungkasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore