Ketua Umum IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso. Foto: Istimewa
JawaPos.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), meminta pemerintah tetap memperhatikan hak anak, untuk mendapatkan pendidikan pascabencana banjir bandang, yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Status tanggap darurat tak menggugurkan kewajiban negara menghadirkan pendidikan untuk anak.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan bencana banjir bandang yang terjadi di berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga wilayah lain dalam beberapa pekan terakhir tidak boleh membuat hak dasar anak, termasuk hak atas pendidikan, terabaikan.
“Anak-anak tetap punya hak untuk mendapatkan pendidikan walaupun berada di daerah bencana. Tentu saja, pemenuhannya dilakukan setelah aspek keamanan mereka terpenuhi, seperti tersedianya tempat pengungsian yang layak,” kata Piprim dalam konferensi pers daring, Selasa (16/12).
Menurutnya, pada fase darurat seperti sekarang, kegiatan belajar tidak harus dilakukan di ruang kelas formal. Pendidikan dapat dilaksanakan secara sederhana di tenda-tenda pengungsian dengan pola yang disesuaikan kondisi anak dan situasi bencana.
“Konsep belajarnya bisa lebih adaptif. Jadwal lebih singkat, durasinya pendek, dan materi difokuskan pada kemampuan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta penguatan life skill,” tuturnya.
IDAI juga menilai momen anak-anak berada di pengungsian bisa dimanfaatkan untuk edukasi penting lainnya, seperti penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Anak-anak dapat diajarkan cara mencegah penyakit menular, termasuk diare, serta memastikan imunisasi dasar seperti campak tetap terpenuhi.
“Pendidikan anak itu tidak harus selalu di kelas. Di tenda darurat pun pendidikan bisa berjalan, tentu dengan pola yang disesuaikan dengan kondisi psikologis dan fisik anak,” kata Piprim.
Ia menambahkan, setelah fase tanggap darurat terlewati dan anak-anak memasuki masa pemulihan, proses belajar yang tertinggal dapat dilakukan secara bertahap melalui program remedial. Namun demikian, beban belajar anak tetap harus disesuaikan karena mereka baru saja mengalami peristiwa bencana.
“Pemulihan pendidikan harus dilakukan perlahan, dengan tetap memperhatikan kondisi anak-anak yang terdampak bencana,” pungkasnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data korban akibat jiwa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Hingga Minggu (14/12), total korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.016 orang.
Angka ini bertambah seiring ditemukannya korban baru dalam operasi pencarian yang masih terus berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, penambahan jumlah korban meninggal terjadi setelah tim gabungan berhasil menemukan sepuluh jenazah dalam proses pencarian terbaru.
“Per hari ini hasil pencarian dan pertolongan bertambah 10 jasad yang ditemukan,” ujarnya saat konferensi pers.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
