Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 08.35 WIB

Mengenal Gaslighting: Bentuk Kekerasan Psikologis yang Mengaburkan Realitas dan Sering Tidak Disadari Banyak Orang

Ilustrasi seorang pria sedang meneriaki pasangannya (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Bayangkan hidup dalam hubungan di mana setiap kata dan ingatan Anda terus dipertanyakan hingga Anda ragu akan kewarasan sendiri. Inilah yang dialami korban gaslighting, sebuah bentuk kekerasan emosional yang membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Memahami cara kerja gaslighting penting agar kita bisa mengenalinya dan melindungi kesehatan mental.

Gaslighting adalah kekerasan psikologis ketika seseorang memanipulasi korban untuk meragukan ingatan, persepsi, bahkan realitasnya. Istilah ini berasal dari drama tahun 1938 dan film 1944 berjudul "Gaslight", di mana seorang suami membuat istrinya yakin bahwa ia mengalami gangguan mental.

Gaslighting bisa membuat korban merasa bingung, cemas, dan tidak mampu mempercayai penilaian sendiri. Dalam banyak kasus, korban mulai merasa bergantung pada pelaku untuk memutuskan apa yang benar atau salah.

Teknik ini bertujuan melemahkan kepercayaan diri korban secara perlahan sehingga pelaku semakin mudah mengontrol. Proses ini sering dimulai tanpa disadari korban.

Apa Saja Bentuk Gaslighting?

Gaslighting muncul dalam berbagai cara. Countering terjadi ketika pelaku meragukan ingatan korban dengan komentar seperti "Kamu ingatannya jelek." Withholding muncul saat pelaku berpura-pura tidak mengerti pembicaraan, membuat korban kebingungan.

Ada juga Trivializing, di mana perasaan korban dianggap berlebihan atau tidak penting. Denial melibatkan penolakan tanggung jawab, misalnya berpura-pura lupa atau menyalahkan pihak lain.

Metode lain adalah Diverting, mengalihkan topik dengan mempertanyakan kredibilitas korban. Sementara Stereotyping memanfaatkan stereotip negatif berdasarkan gender, ras, atau usia untuk merendahkan korban.

Bagaimana Cara Gaslighting Bekerja?

Gaslighting umumnya berkembang perlahan. Awalnya pelaku membangun kepercayaan korban melalui fase "bulan madu" tanpa kekerasan. Lalu, pelaku mulai menanamkan keraguan, seperti menuduh korban pelupa atau tidak stabil.

Seiring waktu, korban mulai mempercayai pelaku dan meragukan diri sendiri. Ketika rasa percaya diri runtuh, korban akan lebih bergantung pada pelaku untuk mengingat peristiwa atau mengambil keputusan. Kondisi ini membuat korban sulit melepaskan diri karena merasa tidak mampu hidup tanpa pelaku.

Gaslighting dapat terjadi di berbagai situasi. Dalam hubungan intim, pelaku menanamkan gagasan bahwa pasangannya irasional agar lebih mudah dikendalikan.

Dalam hubungan orang tua dan anak, pelaku bisa meremehkan emosi anak dengan menyebut mereka "terlalu sensitif." Ada pula racial gaslighting, ketika kelompok ras atau etnis didiskreditkan melalui manipulasi.

Di tempat kerja, atasan bisa meremehkan perasaan atau pengalaman bawahan, bahkan memutarbalikkan fakta untuk melemahkan posisi karyawan. Institusi pun dapat melakukan hal serupa dengan menuduh pelapor masalah sebagai tidak kompeten.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore