Ilustrasi seorang pria sedang meneriaki pasangannya (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Bayangkan hidup dalam hubungan di mana setiap kata dan ingatan Anda terus dipertanyakan hingga Anda ragu akan kewarasan sendiri. Inilah yang dialami korban gaslighting, sebuah bentuk kekerasan emosional yang membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Memahami cara kerja gaslighting penting agar kita bisa mengenalinya dan melindungi kesehatan mental.
Gaslighting adalah kekerasan psikologis ketika seseorang memanipulasi korban untuk meragukan ingatan, persepsi, bahkan realitasnya. Istilah ini berasal dari drama tahun 1938 dan film 1944 berjudul "Gaslight", di mana seorang suami membuat istrinya yakin bahwa ia mengalami gangguan mental.
Gaslighting bisa membuat korban merasa bingung, cemas, dan tidak mampu mempercayai penilaian sendiri. Dalam banyak kasus, korban mulai merasa bergantung pada pelaku untuk memutuskan apa yang benar atau salah.
Teknik ini bertujuan melemahkan kepercayaan diri korban secara perlahan sehingga pelaku semakin mudah mengontrol. Proses ini sering dimulai tanpa disadari korban.
Apa Saja Bentuk Gaslighting?
Gaslighting muncul dalam berbagai cara. Countering terjadi ketika pelaku meragukan ingatan korban dengan komentar seperti "Kamu ingatannya jelek." Withholding muncul saat pelaku berpura-pura tidak mengerti pembicaraan, membuat korban kebingungan.
Ada juga Trivializing, di mana perasaan korban dianggap berlebihan atau tidak penting. Denial melibatkan penolakan tanggung jawab, misalnya berpura-pura lupa atau menyalahkan pihak lain.
Metode lain adalah Diverting, mengalihkan topik dengan mempertanyakan kredibilitas korban. Sementara Stereotyping memanfaatkan stereotip negatif berdasarkan gender, ras, atau usia untuk merendahkan korban.
Bagaimana Cara Gaslighting Bekerja?
Gaslighting umumnya berkembang perlahan. Awalnya pelaku membangun kepercayaan korban melalui fase "bulan madu" tanpa kekerasan. Lalu, pelaku mulai menanamkan keraguan, seperti menuduh korban pelupa atau tidak stabil.
Seiring waktu, korban mulai mempercayai pelaku dan meragukan diri sendiri. Ketika rasa percaya diri runtuh, korban akan lebih bergantung pada pelaku untuk mengingat peristiwa atau mengambil keputusan. Kondisi ini membuat korban sulit melepaskan diri karena merasa tidak mampu hidup tanpa pelaku.
Gaslighting dapat terjadi di berbagai situasi. Dalam hubungan intim, pelaku menanamkan gagasan bahwa pasangannya irasional agar lebih mudah dikendalikan.
Dalam hubungan orang tua dan anak, pelaku bisa meremehkan emosi anak dengan menyebut mereka "terlalu sensitif." Ada pula racial gaslighting, ketika kelompok ras atau etnis didiskreditkan melalui manipulasi.
Di tempat kerja, atasan bisa meremehkan perasaan atau pengalaman bawahan, bahkan memutarbalikkan fakta untuk melemahkan posisi karyawan. Institusi pun dapat melakukan hal serupa dengan menuduh pelapor masalah sebagai tidak kompeten.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
