
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang menggunakan vape (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Fenomena vaping atau penggunaan rokok elektrik semakin populer terutama di kalangan anak muda. Dikemas dengan berbagai varian rasa, membuatnya terlihat lebih menarik dan modern.
Banyak orang menganggap vaping sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok biasa karena satu dan lain hal. Padahal, faktanya vape juga mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang terkandung dalam cairan vape (liquid).
Fenomena vaping juga menimbulkan kekhawatiran sosial, terutama karena tren ini dianggap populer di kalangan pelajar dan mahasiswa. Secara tidak langsung, tren ini akan menormalisasi perilaku merokok sejak dini.
Jika dibiarkan tanpa edukasi yang tepat, generasi muda akan mengidap berbagai penyakit serius di masa depan. Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya vape agar tidak terjadi dampak buruk bagi kesehatan.
Zat Berbahaya yang Terkandung dalam Vape
Dikutip dari Halodoc, menurut American Heart Association (AHA) baik rokok ataupun vape, tidak ada yang lebih baik untuk dipilih. Hal ini karena terdapat zat-zat berbahaya yang terkandung di dalam vape.
Beberapa zat berbahaya terkandung dalam rokok maupun produk seperti vape. Salah satunya adalah nikotin, yaitu zat adiktif yang dapat menimbulkan kecanduan dan ketergantungan. Selain itu, terdapat pula asetaldehida dan formaldehida, dua senyawa tersebut bersifat karsinogenik yang berpotensi memicu kanker.
Vaping juga bisa mengandung acrolein, diacetyl, dan diethylene glycol, yakni bahan kimia berbahaya yang dapat merusak saluran pernapasan serta meningkatkan risiko penyakit paru-paru.
Bahkan, pada beberapa jenis cairan vape ditemukan THC (tetrahydrocannabinol), zat psikoaktif dalam ganja yang dapat menimbulkan efek “tinggi” dan memengaruhi fungsi otak.
Dampak Negatif dari Vape
Dikutip dari Alodokter, nikotin yang dalam vape dapat merangsang otak melepaskan hormon dopamin dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan efek kecanduan dan ketergantungan.
Pendapat jika opsi vape sebagai alternatif untuk berhenti merokok justru tidak benar, karena keduanya sama-sama berisiko tinggi menyebabkan kecanduan sehingga membahayakan kesehatan.
Vape bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit kanker, karena ditemukan kandungan formaldehida yang dapat bersifat karsinogenik. Kandungan diasetil pada vape dapat menyebabkan munculnya penyakit bronchiolitis obliterans (BO), atau yang lebih dikenal sebagai paru-paru popcorn (popcorn lung).
Jika vape digunakan oleh ibu yang sedang hamil, risiko terjadinya gangguan pada janin sangat tinggi. Zat-zat berbahaya akan mempengaruhi tumbuh kembang janin seperti gangguan perkembangan otak dan sistem saluran pernapasan.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
