
Ilustrasi perawatan di RS PON Cibubur. (Istimewa)
JawaPos.com-Banyak pasien penyakit moyamoya datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah terlambat. Hal itu karena gejalanya kerap disalahartikan sebagai stroke biasa.
Hal ini ditegaskan oleh dr. Muhammad Kusdiansah, SpBS, ahli bedah saraf vaskular dari RS Pusat Otak Nasional (RS PON). Dia menyayangkan masih minimnya kesadaran terhadap penyakit langka ini.
“Pasien moyamoya seringkali datang dalam kondisi terlambat karena gejalanya menyerupai stroke biasa," ujar Muhammad Kusdiansah kepada wartawan, Selasa (27/5).
"Kami ingin mendorong deteksi dini, penanganan tepat waktu, dan pelatihan bagi dokter-dokter dari seluruh Indonesia agar layanan ini merata,” sambung dia.
Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan RS Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta dr Reza Aditya Arpandy SpS menerangkan bahwa moyamoya adalah kelainan genetik yang memengaruhi pembuluh darah otak. Penyakit ini khususnya menyerang arteri karotis interna.
Arteri menyempit dan bahkan dapat tersumbat, sehingga mengurangi aliran darah ke otak. Jika saat dipindai menggunakan CT Scan, pembuluh darah akan terlihat seperti kepulan asap. Itu sebabnya penyakit ini dinamai moyamoya (bahasa Jepang), yang berarti kepulan asap.
Namun, dr. Reza menyebut bahwa jumlah kasus moyamoya di Indonesia belum diketahui. "Tetapi diduga sama seperti laporan kasus negara lain, misalnya Jepang, 0,5 per 100 ribu orang," jelas dia.
Dia menerangkan, kasus moyamoya bahkan menyerang anak-anak. Di RS PON setidaknya sudah menangani 70 kasus penyakit ini dan ada yang menyerang anak berumur 3 tahun.
"Dia masuk dalam kondisi sudah stroke berulang," ucap dr. Reza.
Pusat Moyamoya dan Penyakit Serebrovaskular Kompleks diresmikan di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Pusat ini resmi diluncurkan sebagai pusat unggulan nasional untuk diagnosis, tata laksana, pelatihan, dan riset penyakit pembuluh darah otak yang kompleks, khususnya moyamoya.
Kolaborasi ini menggandeng Far East Neurosurgical Institute dari Jepang yang dipimpin Prof. Rokuya Tanikawa, pelopor bedah bypass otak dan ahli moyamoya terkemuka di dunia.
Peresmian pusat ini dirangkaikan dengan Workshop Internasional Bypass Pembuluh Darah Otak dan Penanganan Kasus Kompleks Bedah Saraf yang diikuti oleh hampir 100 peserta dari berbagai institusi di Indonesia.
Hadir pula para pakar bedah saraf dari delapan negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Hong Kong, Thailand, Malaysia, Filipina, Meksiko, Portugal, dan Kolombia.
Mereka berbagi teknik bedah terkini dan turut memperkuat pelatihan nasional yang digelar bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf Indonesia.
Direktur Utama RS PON, dr. Adin Nulkhasanah, Sp.N, MARS, menambahkan bahwa pembentukan pusat ini tidak hanya untuk pelayanan medis, tetapi juga untuk membuka jalur kolaborasi riset dan inovasi global.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
