
Ilustrasi seseorang yang mengalami masalah jantung. (Freepik)
JawaPos.com - Kesadaran untuk mendeteksi gangguan jantung kini bisa dimulai dari langkah sederhana, yakni dengan memeriksa denyut nadi sendiri alias MENARI.
Memeriksa denyut nadi sendiri dinilai efektif untuk mendeteksi awal masalah irama jantung yang sering kali tidak disadari penderitanya.
Momentum ini juga diperkuat melalui kampanye Pulse Day 2026 yang bertepatan dengan penyelenggaraan APHRS Summit di Selandia Baru.
Berbagai kegiatan edukasi digelar, mulai dari pemeriksaan denyut nadi massal hingga kampanye media sosial global, yang juga diikuti sejumlah negara melalui aksi komunitas seperti cek nadi gratis dan aktivitas interaktif lainnya.
“Melalui Pulse Day 2026, kami berharap awareness yang berusaha kami bangun dapat bertransformasi menjadi aksi nyata, dimulai dari langkah sederhana seperti MENARI, demi jantung yang lebih sehat,” ujar Advisory Board PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRS, Jumat (13/2).
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan irama jantung, khususnya fibrilasi atrium yang menjadi salah satu kelainan paling umum di dunia, termasuk Indonesia.
Kondisi ini berbahaya karena dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan risiko kematian dua kali lipat.
Sayangnya, sekitar 50 persen kasus tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan tersebut.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat dapat melakukan metode MENARI, yaitu dengan meraba denyut nadi secara mandiri.
Caranya, letakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, lalu hitung denyut selama 30 detik dan kalikan dua untuk mendapatkan jumlah denyut per menit.
Denyut normal berada di kisaran 60–100 kali per menit. Namun, keteraturan irama juga harus diperhatikan.
Menurut Prof. Yoga, tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain denyut yang tidak teratur, terasa hilang, terlalu cepat di atas 100 kali per menit, atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit.
Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan jika disertai gejala seperti pusing, nyeri dada, sesak napas, hingga pingsan.
Ia menambahkan, pemeriksaan nadi secara mandiri merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi gangguan irama jantung, meski bukan untuk menegakkan diagnosis.
Jika ditemukan ketidakteraturan, pemeriksaan lanjutan seperti elektrokardiogram (EKG) sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti lansia atau penderita penyakit jantung.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022