Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Maret 2025 | 05.41 WIB

5 Mitos vs Fakta Seputar Glaukoma yang Sebabkan Kebutaan, Tak Bisa Disembuhkan?

Ilustrasi seorang pasien menjalani pemeriksaan mata Poli Mata RSUD  Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. (Dok/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi seorang pasien menjalani pemeriksaan mata Poli Mata RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur. (Dok/Jawa Pos)

JawaPos.com-Glaukoma yang sering disebut sebagai "pencuri penglihatan" menjadi penyebab kedua terbanyak kebutaan di Indonesia. Banyak mitos yang beredar terkait penyakit ini.

Apalagi hingga kini, belum ada obat maupun tindakan yang dapat menyembuhkannya. Sehingga, deteksi dini glaukoma menjadi kunci untuk mencegahnya.

  1. Dr. Iwan Soebijantoro, SpM(K), konsultan oftalmologi JEC Eye Hospitals and Clinics, mengatakan, bahwa 80 persen kasus glaukoma tidak memiliki gejala, dan kebanyakan pasien baru terdiagnosis secara tidak sengaja saat melakukan tes kesehatan atau pemeriksaan mata berkala.

’’Namun, jika muncul gejala seperti sakit kepala hebat, pandangan tiba-tiba kabur, mual, muntah, dan nyeri mata hebat, masyarakat perlu waspada," ucapnya kepada wartawan, Kamis (13/3). "Pasien dengan glaukoma akut memiliki waktu 2 x 24 jam untuk segera menurunkan tekanan bola mata. Jika terlambat, kelainan yang terjadi akan menjadi permanen,” sambungnya 

Adapun mitos yang banyak beredar di masyarakat seputar glaukoma, kata dr. Iwan adalah sebagai berikut.

  1. Mitos: Glaukoma hanya menyerang orang tua.

Fakta: Glaukoma dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak muda dan bayi yang lahir dengan glaukoma kongenital. Faktor risiko seperti riwayat keluarga dan penyakit tertentu seperti diabetes juga bisa meningkatkan kemungkinan terkena glaukoma lebih awal.

  1. Mitos: Sering menggunakan gadget atau membaca dalam gelap menyebabkan glaukoma.

Fakta: Penggunaan gadget dalam waktu lama memang bisa menyebabkan mata lelah, tetapi tidak secara langsung menyebabkan glaukoma. Penyakit ini lebih berkaitan dengan tekanan bola mata yang meningkat dan kerusakan saraf optik.

  1. Mitos: Jika terkena glaukoma, pasti akan buta.

Fakta: Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, banyak penderita glaukoma dapat mempertahankan penglihatannya selama bertahun-tahun. Pemeriksaan mata rutin adalah kunci utama untuk mencegah kebutaan akibat glaukoma.

  1. Mitos: Glaukoma bisa disembuhkan dengan obat herbal atau terapi alternatif.

Fakta: Hingga saat ini, belum ada obat herbal atau metode alternatif yang terbukti secara ilmiah bisa menyembuhkan glaukoma. Pengobatan yang dianjurkan dokter, seperti obat tetes mata, laser, atau operasi, merupakan langkah medis yang terbukti efektif dalam mengendalikan penyakit ini.

  1. Mitos: Glaukoma bukan penyakit keturunan.

Fakta: Glaukoma memiliki faktor genetik yang signifikan. Jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan glaukoma, risikonya untuk terkena penyakit ini menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, individu dengan riwayat keluarga glaukoma sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore