
Ilustrasi intermittent fasting. (Freepik/drobotdean)
JawaPos.com - Apakah Anda sedang menjalani diet yang menerapkan waktu makan dan puasa dalam periode tertentu secara bergantian atau disebut dengan intermittent fasting?
Apabila iya, tentu Anda telah familiar dengan mitos-mitos yang berkembang tentang intermittent fasting, mulai dari berbahaya untuk kesehatan reproduksi, mampu menyembuhkan penyakit diabetes tipe 2, sampai dengan berdampak negatif terhadap kesehatan otak.
Dilansir JawaPos.com dari Health Line, dibahas seputar mitos dan fakta tersebut yang perlu diketahui para pelaku intermittent fasting berdasarkan pendapat para ahli. Jadi, Anda tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah kabar yang berkembang tentang intermittent fasting termasuk mitos atau fakta. Silakan cek ulasan di bawah ini agar Anda tidak salah paham lagi terkaitnya.
1. Berbahaya untuk Kesehatan Reproduksi
Secara umum, ahli diet, penelitian, dan ulasan tahun 2021 menunjukkan bahwa pembatasan kalori yang terjadi saat puasa berbahaya pada kesuburan seseorang, khususnya hormon estrogen.
Namun, hal tersebut dibantah oleh Destini Moody, RD yang mengatakan bahwa intermittent fasting tidak memengaruhi kadar hormon seks selama pelaku diet ini menjaga asupan kalori yang cukup selama jendela makannya.
Bahkan berdasarkan studi tahun 2024 yang dilakukan terhadap 90 orang dewasa yang mengalami obesitas menunjukkan bahwa intermittent fasting tidak berdampak negatif pada hormon seks mereka, melainkan menurunkan testosteron dan meningkatkan kadar SHBG (Sex Hormone Binding Globulin) pada penderita PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) yang mampu memperbaiki kondisinya.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan seorang ahli diet bernama Allie Echeverria, MS, RD, LD yang mengatakan bahwa intermittent fasting adalah cara yang tepat untuk mengatur hiperandrogenisme yang dialami oleh perempuan penderita PCOS.
Senada dengan hal tersebut, Courtney Pelitera, MS, RD, CNSC, seorang ahli diet yang terdaftar dalam Top Nutrition Coaching mengatakan bahwa masih sedikit bukti yang menunjukkan bahwa hormon seks wanita dan pria dipengaruhi oleh puasa intermittent yang dijalaninya.
2. Menghilangkan Massa Otot
Memang benar seseorang yang sedang menjalani diet atau intermittent fasting akan mengalami kehilangan massa otot. Namun, Pelitera mengungkapkan bahwa asupan protein yang cukup dan latihan kekuatan mampu mempertahankan massa otot bagi pelaku diet intermittent fasting.
3. Memengaruhi Kualitas Pola Makan
Terkait hal ini Moody menjelaskan bahwa seseorang yang terbiasa menjalani pola makan buruk sebelum intermittent fasting akan tetap buruk, namun tidak lebih buruk ketika telah menjalani diet ini, hanya periode waktu makan saja yang berubah.
Demikian sebaliknya, ketika seseorang terbiasa memiliki pola makan yang sehat, maka diet intermittent fasting tidak akan mengubahnya menjadi pola makan yang buruk.
4. Penyebab Gangguan Makan

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
