Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Januari 2024 | 23.49 WIB

Tangisan Si Kecil Tak Selalu Berarti ASI Ibu Kurang

Ilustrasi bayi menangis (ANTARA/Pexels/Antoni Shkraba) - Image

Ilustrasi bayi menangis (ANTARA/Pexels/Antoni Shkraba)

JawaPos.com - Menangis merupakan tanda bahaya dari bayi untuk berbagai kondisi, termasuk saat menginginkan ASI dan merasa tak nyaman, demikian dikatakan para pakar kesehatan dalam sebuah diskusi belum lama ini di Jakarta, dikutip dari ANTARA.

Hanya saja, terkadang ibu termasuk yang baru kali pertama menyusui langsung mengartikan tangisan ini dengan asupan ASI darinya yang tak cukup dan runtuhlah sudah kepercayaan dirinya untuk menyusui.

Ini salah satunya diakui Ketua Kelompok Kerja Penurunan Angka Kematian Ibu dan Stunting Perkumpulan Obstetri Dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG, Subsp. Obginsos(K), MPH. Nilai ASI cukup atau tidak bukan karena bayi menangis atau mengalami kuning seperti yang dikhawatirkan sebagian ibu.


Saat ibu melihat bayi masih buang air kecil dan air besar secara teratur semisal dua hingga tiga jam sekali setiap hari, maka hampir sulit dikatakan bahwa ASI ibu tak cukup sehingga beralih ke makanan tambahan lain, termasuk air.

Namun, saat bayi tak berkemih dalam enam atau 12 jam, barulah membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.

Baca Juga: Samsung Bagikan Android 14 dan One UI 6 ke Pengguna Galaxy A72, Dicek Yuk!

Bayi yang menangis bisa juga karena mengalami kolik atau kondisi bayi menangis selama lebih dari tiga jam dalam sehari. Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus dokter spesialis gastrohepatologi anak Prof dr Badriul Hegar Sjarif, SpA(K), PhD kondisi ini sebenarnya disebabkan imaturitas pada saluran cernanya. Bayi mengalami kolik dikatakan normal sampai usianya lima bulan.

Saat menghadapi bayi yang kolik, ibu bisa melakukan berbagai cara termasuk menggendong buah hatinya tetapi sebaiknya tak terburu-buru mengganti ASI.


Di sisi lain, ibu juga perlu membekali diri dengan pengetahuan seputar menyusui misalnya dengan menghadiri konseling laktasi. Merujuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) konseling harus diberikan baik pada periode antenatal atau kehamilan dan postnatal hingga 24 bulan atau lebih.

Konseling laktasi diberikan sebagai perawatan berkelanjutan oleh tenaga kesehatan terlatih atau konselor laktasi terlatih, yang di antaranya menerangkan kondisi menyusui, tantangan dan meningkatkan kemampuan serta kepercayaan diri ibu.

Merujuk studi yang dilakukan peneliti dari Universitas Indonesia, diketahui edukasi tentang menyusui dari petugas kesehatan, ibu mengikuti kelas hamil dan rutin melakukan perawatan antenatal menjadi faktor pendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan,selain faktor lainnya.

Ini didapatkan setelah peneliti mewawancarai 30 orang di Kota Padang, meliputi staf dinas kesehatan, bidan di puskesmas, ahli gizi puskesmas, ibu yang berhasil menyusui eksklusif hingga 6 bulan, ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif minimal 6 bulan, suami dari ibu menyusui dan anggota keluarga yang mendampingi ibu menyusui. Hasil studi ini masih dalam proses publikasi di jurnal ilmiah kesehatan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore