Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 November 2023 | 06.54 WIB

Bahaya Polusi Bagi Ibu Hamil, Perkembangan Janin Terancam, BB Lahir Rendah hingga Prematur

Ilustrasi Ibu Hamil - Image

Ilustrasi Ibu Hamil

JawaPos.com – Paparan polusi memiliki efek yang sangat bahaya bagi ibu hamil. Bukan hanya bisa menyebabkan masalah kesehatan pada si ibu, tapi polusi yang terhirup bisa mempengaruhi perkembangan janin di dalam kandungan. Bahkan gangguan perkembangan ini bisa berlanjut ketika lahir.

Diungkapkan Ketua Ketua Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Dampak Polusi Udara (KP2RDPU) dr. Agus Dwi Susanto, ibu hamil dan anak merupakan salah satu kelompok yang sensitif terhadap polusi udara. Perubahan fisik pada ibu hamil sudah menjadi stressor bagi tubuh inflamasi. Nantinya, stres akibat polusi udara dapat memperparah komplikasi kehamilan seperti preeklampsia dan inflamasi intrauterin.

Selain komplikasi kehamilan, polusi juga bisa menyebabkan perkembangan janin terganggu. Calon bayi bisa bisa memiliki berat badna lahir rendah (BBLR), lahir prematur, hingga panjang lahir pendek.

Lalu, setelah lahir pun polusi yang terpapar waktu dalam kanudngan masih memberikan efek. Seperti gampang kena infeksi saluran napas, lalu tekanan darahnya mudah naik yang berisiko terkena hipertensi.

“Jadi bukan hanya pilek, sakit tenggorokan, tapi sebenarnya (polusi, Red) bisa masuk ke pembuluh darah bumil lalu masuk ke janin. Setelah lahir, kognitifnya pun bisa terganggu,” papar Agus dalam Forum Menuju Indonesia Emas 2045: Dampak Kualitas Udara terhadap Masalah Stunting Manusia Indonesia, Kamis (24/11).

Sementara itu, Dokter Anak dan pengajar di FKUI, dr.Farida Soesanti mengungkapkan, masalah polusi udara memang sudah sangat mendesak untuk dibenahi. Sebab, berdasarkan penelitiannya, kondisi PM2.5 pada 2023 melonjak naik sebanyak 12,5 kali dibandingkan beberapa tahun ke belakang yang hanya 8 kali.

“Paparan PM2.5 meningkatkan resiko peningkatan tekanan darah pada bayi. Semakin tinggi paparan polusi, semakin rendah berat badan lahir dan semakin pendek panjang badan lahir bayi, maka bayi berisiko untuk terkena stunting. Bukannya kita jadi generasi emas, malah generasi cemas, we have to do something,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama,  Co-Founder Bicara Udara Novita Natalia mengatakan, mengingat bahayanya polusi udara bagi ibu hamil dan anak maka diperlukan  adanya kebijakan yang harus diambil. Diungkapkannya, paparan para ahli perlu ditanggapi oleh para pemangku kebijakan sehingga tercipta dialog yang sehat dalam forum antara peneliti dan pemangku kebijakan.

“Hal ini menjadi penting karena sinergitas antara kedua aktor tersebut merupakan kunci untuk membuat sebuah kebijakan penanganan polusi udara yang efektif,” ujar Novita.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore