Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Mei 2021 | 22.02 WIB

Tak Sadar Hipertensi, Jika Tak Minum Obat Maka Organ Makin Rusak

Ilustrasi pengecekan tekanan darah. - Image

Ilustrasi pengecekan tekanan darah.

JawaPos.com - Hipertensi atau tekanan darah tinggi sering tak disadari seseorang karena tak ada gejala spesifik yang dirasakan. Seseorang bisa saja baru mengetahui dirinya terkena hipertensi setelah adanya komplikasi atau kerusakan organ.

Hipertensi disebut sebagai silent killer karena sering terjadi tanpa keluhan. Sehingga penderita tidak mengetahui dirinya hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Sebagian besar penderita tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan.

"Kerusakan organ target akibat komplikasi hipertensi akan tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati," kata Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia Esti Nurjadin dalam keterangan resmi baru-baru ini.

Baca Juga: Pasien Hipertensi Rentan Kena Covid-19, Hanya Separo Rutin Minum Obat

Dalam rangkaian kegiatan menyambut Hari Hipertensi Sedunia pada Mei setiap tahunnya, Yayasan Jantung Indonesia bersama-sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengadakan webinar yang membahas mengenai hipertensi dan gaya hidup sehat dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana mencegah dan mengendalikan hipertensi. Menurutnya, hipertensi yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia tapi juga generasi milenial.

"Sayangnya hingga saat ini, masih banyak yang belum menyadari tentang bahaya hipertensi," ungkapnya.

Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan erat dengan pola hidup, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, rendahnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi sayur dan buah, serta tingginya konsumsi gula garam lemak. Kemajuan teknologi yang membuat semua serba mudah membuat orang kurang melakukan aktivitas fisik.

"Tuntutan pekerjaan dan kurangnya istirahat dapat menyebabkan timbulnya stres”, ujar Esti.

Hipertensi adalah keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih dan diastolik mencapai mmHg atau lebih. Sampai saat ini hipertensi masih merupakan momok di masyarakat, tetapi sebenarnya bisa dicegah dengan rajin memeriksa tekanan darah secara berkala.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang juga hadir dalam webinar itu, hipertensi termasuk salah dari dari 5 penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia. Salah satu major reformation yang akan dilakukan adalah bisa mengurangi prevalensi penyakit hipertensi dari hulu ke hilir dengan lebih banyak menitikberatkan di hulu.

"Kami memprioritaskan untuk mengedukasi masyarakat bagaimana cara menghindari risiko hipertensi, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati," ujar Menkes Budi.

Hal senada diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Cut Putrie Arianie. Hal utama, kata fia, harus dilakukan juga adalah meningkatkan awareness masyarakat untuk melakukan deteksi dini secara berkala untuk pencegahan dan mengendalikan hipertensi.

"Terapkan gaya hidup CERDIK yaitu Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin melakukan aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres," ujar dr. Cut Putrie Arianie.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore