Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 03.02 WIB

Bukan Hanya Kontak Fisik, Perbedaan Definisi Selingkuh Bisa Picu Konflik Hubungan

gambar ilustrasi konflik hubungan dari magnific

JawaPos.com - Perselingkuhan sering dianggap sebagai pelanggaran kepercayaan dalam hubungan romantis. Namun, tidak semua orang memiliki definisi yang sama mengenai tindakan yang dapat dikategorikan sebagai selingkuh.

Sebagian menganggap hubungan fisik dengan orang lain sebagai batas utama, sedangkan yang lain merasa kedekatan emosional, pesan bernada romantis, atau perilaku menggoda juga dapat menjadi bentuk pengkhianatan.

Menurut pembahasan mengenai perselingkuhan di Psychology Today, perbedaan persepsi tersebut berkaitan dengan cara setiap pasangan memahami komitmen dan eksklusivitas dalam hubungan.

Tidak adanya kesepakatan yang jelas tentang batasan hubungan dapat membuat satu pihak menganggap suatu tindakan sebagai hal biasa, sementara pasangannya merasa terluka atau dikhianati.

Salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan pandangan ini adalah batasan pribadi. Ada orang yang menganggap menyukai unggahan seseorang di media sosial sebagai tindakan wajar, tetapi ada pula yang merasa tidak nyaman jika pasangannya terus memberikan perhatian kepada orang yang berpotensi menjadi pasangan romantis.

Hal serupa dapat terjadi pada percakapan pribadi, hubungan dekat dengan teman, hingga komunikasi yang sengaja dirahasiakan.

Perselingkuhan tidak selalu berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap pasangan. Penelitian yang dibahas oleh psikolog Dylan Selterman menunjukkan bahwa alasan seseorang tidak setia dapat mencakup faktor situasional, keinginan memperoleh pengakuan, dan ketertarikan terhadap pengalaman baru.

Artinya, tindakan tersebut tidak selalu menjadi bukti bahwa hubungan utama sedang bermasalah, meskipun dampaknya terhadap kepercayaan tetap perlu diperhatikan. 

Perbedaan definisi selingkuh dapat memicu konflik ketika pasangan tidak pernah membicarakan ekspektasi masing-masing.

Karena itu, komunikasi terbuka menjadi langkah penting untuk menjelaskan perilaku apa yang dianggap dapat diterima, mana yang menimbulkan ketidaknyamanan, serta batasan apa yang perlu dihormati bersama.

Kesepakatan tersebut sebaiknya dibangun melalui percakapan yang jujur, bukan hanya asumsi bahwa pasangan pasti memiliki pandangan yang sama.

Pada akhirnya, tidak ada satu daftar perilaku yang secara otomatis menentukan batas perselingkuhan bagi semua pasangan.

Konteks hubungan, kesepakatan bersama, keterbukaan, dan kepercayaan turut memengaruhi penilaian tersebut.

Memahami perbedaan pandangan bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti pasangan, melainkan membantu kedua pihak memperjelas batasan dan menentukan cara menjaga hubungan yang sehat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore