Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02.16 WIB

Ingin Memperdalam Hubungan Kamu dengan Alam? Lakukan 3 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan alam / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, hubungan manusia dengan alam sering kali menjadi sesuatu yang terlupakan.

Hari-hari kita dipenuhi layar, pekerjaan, notifikasi, kendaraan, gedung, dan berbagai tuntutan yang membuat perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Kita mungkin tinggal tidak jauh dari pepohonan atau taman, tetapi belum tentu benar-benar hadir bersama alam.

Padahal, alam bukan hanya tempat untuk berlibur.

Bagi banyak orang, berada di tengah pepohonan, mendengar suara air, melihat langit, atau berjalan di ruang terbuka dapat memberikan perasaan yang berbeda dibandingkan ketika menghabiskan waktu di lingkungan yang penuh aktivitas manusia.

Dalam psikologi, kedekatan seseorang dengan alam sering dikaitkan dengan konsep nature connectedness atau keterhubungan dengan alam. Konsep ini menggambarkan sejauh mana seseorang merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan sekadar seseorang yang sesekali mengunjungi alam.

Menariknya, hubungan tersebut tidak selalu harus dibangun melalui perjalanan jauh ke gunung, pantai, atau hutan.

Kamu bisa mulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara sadar.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), terdapat tiga cara yang bisa kamu coba jika ingin memperdalam hubunganmu dengan alam.

1. Belajar Benar-Benar Memperhatikan Alam di Sekitarmu

Kita sering berada di alam tanpa benar-benar melihat alam.

Ketika berjalan di taman, misalnya, pikiran mungkin justru sibuk memikirkan pekerjaan. Saat duduk di teras rumah, perhatian mungkin tertuju pada ponsel. Bahkan ketika sedang berada di pegunungan, seseorang bisa saja sibuk mengambil foto tanpa sempat menikmati suasana di sekitarnya.

Karena itu, langkah pertama untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam adalah melatih perhatian.

Cobalah berjalan keluar selama beberapa menit dan sengaja mengurangi distraksi.

Perhatikan warna daun.

Dengarkan suara burung.

Rasakan perubahan udara di kulit.

Amati bentuk awan.

Perhatikan bagaimana cahaya matahari jatuh di permukaan tanah.

Cium aroma tanah setelah hujan.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan latihan untuk mengarahkan kembali perhatian kepada lingkungan sekitar.

Dalam psikologi, pendekatan seperti ini memiliki kaitan dengan mindfulness, yaitu kemampuan untuk memberikan perhatian terhadap pengalaman yang sedang berlangsung tanpa terlalu larut dalam penilaian atau pikiran lainnya.

Ketika berada di alam, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk merasa tenang.

Cukup perhatikan.

Jika ada suara kendaraan, sadari suara tersebut. Jika angin terasa dingin, rasakan. Jika pikiranmu tiba-tiba memikirkan pekerjaan, sadari bahwa pikiran itu muncul, kemudian perlahan kembalikan perhatian kepada lingkungan.

Dengan cara tersebut, aktivitas sederhana seperti berjalan di taman dapat berubah menjadi pengalaman yang jauh lebih bermakna.

Jangan hanya mencari tempat yang indah

Salah satu kesalahpahaman tentang hubungan dengan alam adalah menganggap bahwa kita harus pergi ke tempat yang luar biasa indah.

Padahal, keterhubungan dengan alam dapat dibangun dari lingkungan yang sangat dekat.

Satu pohon di depan rumah.

Tanaman di balkon.

Langit sore dari jendela.

Taman kecil di sekitar tempat tinggal.

Suara hujan.

Bahkan perubahan cahaya matahari sepanjang hari.

Semakin sering kamu melatih perhatian terhadap hal-hal tersebut, semakin mudah kamu menyadari bahwa alam sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh.

Masalahnya sering kali bukan ketiadaan alam, melainkan perhatian kita yang terlalu sibuk.

2. Luangkan Waktu di Alam Secara Rutin, Bukan Hanya Saat Sedang Stres

Banyak orang baru mencari alam ketika sudah merasa sangat lelah.

Ketika pekerjaan menumpuk, mereka pergi berlibur. Ketika pikiran terasa penuh, mereka mencari tempat yang tenang. Ketika mengalami kejenuhan, mereka baru menyadari bahwa selama berminggu-minggu mereka hampir tidak pernah berada di ruang terbuka.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Namun, jika ingin memperdalam hubungan dengan alam, cobalah mengubahnya dari aktivitas yang bersifat sesekali menjadi bagian dari rutinitas.

Misalnya, berjalan kaki di taman selama 20–30 menit beberapa kali dalam seminggu.

Atau duduk di luar rumah pada pagi hari.

Bisa juga menyempatkan diri untuk merawat tanaman, berkebun, berjalan di ruang terbuka, atau sekadar menikmati matahari pagi.

Kuncinya bukan durasinya, melainkan konsistensi.

Hubungan yang kuat dengan seseorang biasanya tidak terbentuk hanya karena satu pertemuan yang sangat berkesan. Hubungan tumbuh karena adanya interaksi berulang.

Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan alam.

Semakin sering kamu menghabiskan waktu di lingkungan alami, semakin familiar kamu terhadap perubahan-perubahannya.

Kamu mulai mengenali pohon tertentu.

Menyadari bahwa ada burung yang sering muncul pada waktu tertentu.

Menyadari bahwa udara terasa berbeda setelah hujan.

Melihat tanaman yang perlahan tumbuh.

Menyaksikan perubahan warna langit dari pagi hingga sore.

Pada titik tertentu, alam tidak lagi terasa seperti latar belakang.

Ia menjadi sesuatu yang kamu kenali.

Buat ritual kecil dengan alam

Kamu tidak harus membuat jadwal yang rumit.

Buatlah ritual sederhana yang realistis.

Misalnya:

berjalan kaki tanpa menggunakan earphone selama 15 menit setiap pagi;

menikmati kopi atau teh di luar rumah;

merawat satu atau dua tanaman;

menghabiskan waktu di taman setiap akhir pekan;

sesekali berjalan tanpa tujuan tertentu sambil mengamati lingkungan;

melihat langit selama beberapa menit sebelum tidur;

menyempatkan diri berada di ruang terbuka setelah menyelesaikan pekerjaan.

Ritual kecil seperti ini dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih konsisten.

Yang terpenting, jangan menjadikan alam hanya sebagai "obat" ketika kamu sedang mengalami masalah.

Cobalah hadir juga ketika keadaanmu sedang baik.

Nikmati alam ketika kamu sedang bahagia.

Nikmati ketika sedang penasaran.

Nikmati ketika tidak sedang membutuhkan apa-apa.

Dengan begitu, hubunganmu dengan alam menjadi lebih utuh.

3. Berhenti Melihat Alam Hanya sebagai "Sesuatu di Luar Dirimu"

Ini mungkin bagian yang paling dalam.

Ada perbedaan antara menikmati alam dan merasa menjadi bagian dari alam.

Kamu bisa menikmati pemandangan gunung tanpa merasa memiliki hubungan dengan gunung tersebut.

Kamu bisa mengambil foto hutan tanpa merasa memiliki keterkaitan dengan kehidupan di dalamnya.

Kamu bisa berjalan di pantai tanpa pernah memikirkan bahwa manusia juga merupakan bagian dari sistem alam yang jauh lebih besar.

Dalam perspektif psikologi lingkungan, keterhubungan dengan alam bukan hanya tentang seberapa sering seseorang mengunjungi tempat alami. Ada dimensi psikologis yang lebih dalam: bagaimana seseorang memandang hubungan antara dirinya dengan dunia alami.

Cobalah mengubah cara pandang.

Ketika melihat pohon, jangan hanya melihatnya sebagai objek yang membuat tempat terlihat indah.

Perhatikan bahwa pohon tersebut merupakan makhluk hidup yang tumbuh, berubah, dan memiliki perannya sendiri dalam lingkungan.

Ketika melihat sungai, jangan hanya melihat air yang mengalir.

Pikirkan bahwa sungai merupakan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan.

Ketika melihat langit, sadari bahwa kamu tidak sedang melihat sesuatu yang "terpisah" dari kehidupanmu.

Kamu berada di bawah langit yang sama, menghirup udara dari lingkungan yang sama, dan bergantung pada sistem alami yang sama.

Perubahan perspektif semacam ini dapat membuat hubungan dengan alam terasa lebih personal.

Cobalah menggunakan pertanyaan reflektif

Saat berada di alam, sesekali tanyakan kepada dirimu sendiri:

"Apa yang sebenarnya sedang aku lihat?"

Bukan sekadar warna atau bentuk, tetapi kehidupan yang ada di baliknya.

Kemudian tanyakan:

"Apa hubungan benda atau makhluk ini dengan kehidupan manusia?"

Dan yang lebih dalam:

"Apa yang akan terjadi jika bagian dari alam ini tidak lagi ada?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu menggeser cara pandang dari sekadar menikmati pemandangan menjadi memahami keterhubungan.

Pada akhirnya, hubungan yang lebih dalam dengan alam bukan hanya membuat kita merasa lebih dekat dengan pepohonan, sungai, atau langit.

Hubungan itu juga dapat mengubah cara kita memperlakukan lingkungan.

Jika sesuatu terasa dekat dengan kita, biasanya kita lebih peduli terhadap keberadaannya.

Alam Tidak Harus Menjadi Pelarian dari Kehidupan

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Memperdalam hubungan dengan alam tidak berarti kamu harus meninggalkan kehidupan modern.

Kamu tidak harus pindah ke desa.

Tidak harus tinggal di tengah hutan.

Tidak harus mendaki gunung setiap minggu.

Tidak harus menjadi seseorang yang selalu melakukan aktivitas luar ruangan.

Hubungan dengan alam bisa dibangun dalam kehidupan yang sangat biasa.

Di antara pekerjaan.

Di sela perjalanan.

Di halaman rumah.

Di taman kota.

Bahkan melalui beberapa menit ketika kamu berhenti melihat layar dan mulai memperhatikan langit.

Yang paling penting adalah kualitas perhatianmu.

Dua puluh menit berada di taman sambil benar-benar memperhatikan lingkungan bisa terasa sangat berbeda dibandingkan dua jam berada di taman sambil terus-menerus menatap layar.

Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari tempat yang sempurna.

Mulailah dari tempat yang tersedia.

Pada Akhirnya, Alam Mengajarkan Kita untuk Melambat

Salah satu alasan manusia dapat merasa nyaman ketika berada di alam mungkin berkaitan dengan perubahan ritme perhatian.

Kehidupan modern sering mendorong kita untuk bergerak cepat.

Membalas pesan.

Mengejar target.

Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Mengonsumsi informasi tanpa henti.

Sementara itu, alam bergerak dengan ritme yang berbeda.

Pohon tidak tumbuh dalam semalam.

Matahari tidak terburu-buru terbit.

Awan bergerak tanpa memikirkan produktivitas.

Sungai mengalir tanpa membutuhkan notifikasi.

Ketika kita menghabiskan waktu bersama alam, kita berkesempatan untuk sejenak keluar dari ritme kehidupan yang serba cepat tersebut.

Kita belajar bahwa tidak semua hal harus segera terjadi.

Tidak semua waktu harus diisi.

Tidak semua keheningan harus digantikan oleh suara.

Dan tidak setiap menit harus digunakan untuk menghasilkan sesuatu.

Mungkin inilah salah satu hadiah terbesar dari membangun hubungan dengan alam: kita kembali belajar untuk hadir.

Mulai dari Tiga Kebiasaan Sederhana

Jika tiga cara di atas terasa terlalu banyak, sederhanakan.

Mulai saja dengan tiga kebiasaan:

Pertama, perhatikan.
Ketika berada di luar, benar-benar lihat dan dengarkan lingkunganmu.

Kedua, ulangi.
Luangkan waktu di alam secara rutin, meskipun hanya sebentar.

Ketiga, rasakan keterhubungan.
Jangan melihat alam hanya sebagai tempat yang indah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang juga menopang keberadaanmu.

Tidak perlu menunggu liburan.

Tidak perlu menunggu akhir pekan.

Tidak perlu menunggu sampai hidup menjadi lebih tenang.

Kamu bisa memulainya hari ini.

Keluar sebentar.

Letakkan ponsel.

Tarik napas.

Lihat langit.

Perhatikan satu pohon.

Dengarkan suara di sekitarmu.

Dan untuk beberapa menit, tidak perlu melakukan apa pun selain benar-benar hadir.

Mungkin alam tidak membutuhkan kita untuk datang dengan cara yang istimewa.

Mungkin yang dibutuhkan hanyalah kesediaan kita untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa selama ini, kita sebenarnya sudah menjadi bagian darinya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore