seseorang yang menjalani hidup dengan baik / foto: Magnific/benzoix
Kita bisa memiliki banyak hal, tetapi tetap merasa kosong.
Kita bisa terlihat bahagia di depan orang lain, tetapi diam-diam merasa lelah.
Kita bisa mencapai sesuatu yang selama ini kita impikan, tetapi setelah mendapatkannya, muncul pertanyaan baru:
"Setelah ini, lalu apa?"
Psikologi menunjukkan bahwa kualitas hidup manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh bagaimana kita memahami diri sendiri, mengelola emosi, membangun hubungan, menghadapi kegagalan, dan memberikan makna pada kehidupan.
Menjalani hidup dengan baik bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, hidup yang baik adalah kemampuan untuk tetap bertumbuh meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (11/10), jika kamu ingin menjalani hidup dengan lebih tenang, dewasa, dan bermakna, ada setidaknya enam hal yang layak kamu pelajari lebih dalam.
1. Pelajari Dirimu Sendiri Sebelum Terlalu Sibuk Memahami Orang Lain
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan manusia adalah menghabiskan terlalu banyak waktu memahami dunia luar, tetapi terlalu sedikit waktu memahami dirinya sendiri.
Kita tahu apa yang orang lain sukai.
Kita tahu bagaimana membuat orang lain senang.
Kita tahu apa yang sedang populer.
Kita tahu standar kesuksesan yang diberikan lingkungan.
Tetapi ketika ditanya:
"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan dalam hidup?"
Tidak sedikit orang yang kesulitan menjawabnya.
Dalam psikologi, kemampuan memahami pikiran, emosi, nilai, kebutuhan, dan pola perilaku diri sendiri berkaitan dengan self-awareness atau kesadaran diri.
Kesadaran diri bukan sekadar mengetahui kelebihan dan kekurangan.
Lebih dalam dari itu, kesadaran diri berarti mampu bertanya:
Mengapa aku bereaksi seperti ini?
Mengapa aku sangat takut terhadap penolakan?
Mengapa aku selalu merasa harus menyenangkan orang lain?
Mengapa keberhasilan orang lain membuatku merasa tertinggal?
Apa yang sebenarnya aku butuhkan?
Apakah keputusan yang kuambil benar-benar keinginanku, atau hanya karena tekanan sosial?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin tidak nyaman.
Namun justru dari ketidaknyamanan tersebut kita mulai mengenal diri sendiri.
Tidak semua keinginan harus diikuti
Ada perbedaan antara apa yang kita inginkan dan apa yang benar-benar kita butuhkan.
Kita mungkin ingin dipuji, tetapi sebenarnya membutuhkan penghargaan terhadap diri sendiri.
Kita mungkin ingin memiliki banyak uang, tetapi sebenarnya membutuhkan rasa aman.
Kita mungkin ingin selalu terlihat sukses, tetapi sebenarnya membutuhkan penerimaan.
Kita mungkin mengejar seseorang, bukan karena benar-benar mencintainya, tetapi karena takut sendirian.
Memahami perbedaan ini sangat penting.
Sebab jika kita tidak mengenal diri sendiri, kita mudah menjalani kehidupan berdasarkan standar orang lain.
Kita mengejar pekerjaan karena orang lain menganggapnya bergengsi.
Kita membeli sesuatu karena ingin terlihat berhasil.
Kita mempertahankan hubungan karena takut dianggap gagal.
Kita mengejar pencapaian karena ingin membuktikan bahwa diri kita cukup berharga.
Padahal, hidup yang baik tidak selalu sama dengan hidup yang terlihat hebat dari luar.
Luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri
Sesekali, berhentilah dari kesibukan dan tanyakan:
"Kalau tidak ada yang melihat, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin aku jalani?"
Pertanyaan sederhana ini bisa membuka banyak hal.
Mungkin kamu akan menyadari bahwa selama ini kamu terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting bagimu.
Dan semakin kita mengenal diri sendiri, semakin mudah bagi kita untuk menentukan apa yang pantas diperjuangkan dan apa yang sebaiknya dilepaskan.
2. Pelajari Cara Mengelola Emosi, Bukan Menekan Emosi
Banyak orang mengira menjadi kuat berarti tidak boleh sedih.
Tidak boleh menangis.
Tidak boleh takut.
Tidak boleh kecewa.
Tidak boleh marah.
Padahal, emosi adalah bagian normal dari pengalaman manusia.
Masalahnya bukan karena kita memiliki emosi negatif.
Masalah muncul ketika kita tidak tahu bagaimana memahami dan mengelolanya.
Ada perbedaan besar antara mengelola emosi dan menekan emosi.
Menekan emosi berarti mencoba menghilangkan atau mengabaikan apa yang sedang kita rasakan.
Mengelola emosi berarti menyadari perasaan tersebut, memahami penyebabnya, lalu memilih respons yang lebih sehat.
Misalnya, kamu sedang marah kepada seseorang.
Respons impulsif mungkin berupa membalas pesan dengan kasar.
Tetapi pengelolaan emosi membuatmu berhenti sejenak dan bertanya:
"Apa sebenarnya yang membuatku marah?"
Mungkin bukan sekadar perkataan orang tersebut.
Mungkin kamu merasa tidak dihargai.
Mungkin kamu merasa diabaikan.
Mungkin kejadian itu mengingatkanmu pada pengalaman lama.
Dengan memahami sumber emosi, kita tidak lagi menjadi budak dari reaksi sesaat.
Emosi bukan musuh
Rasa takut bisa memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Kesedihan bisa menunjukkan bahwa sesuatu memiliki arti bagi kita.
Kemarahan bisa menunjukkan bahwa batas kita telah dilanggar.
Kecemasan bisa menjadi sinyal bahwa kita merasa tidak memiliki kendali.
Emosi tidak selalu memberikan instruksi yang harus langsung kita ikuti.
Tetapi emosi dapat memberikan informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.
Karena itu, ketika sedang merasakan sesuatu yang kuat, jangan buru-buru bertanya:
"Bagaimana caranya supaya aku tidak merasa seperti ini?"
Cobalah bertanya:
"Apa yang sedang coba disampaikan oleh perasaan ini kepadaku?"
Pertanyaan tersebut mengubah hubungan kita dengan emosi.
Kita tidak lagi harus memusuhi perasaan sendiri.
Kita belajar mendengarkannya tanpa harus selalu mematuhinya.
Beri jeda sebelum bereaksi
Salah satu keterampilan psikologis yang sangat penting adalah kemampuan memberikan jarak antara emosi dan tindakan.
Kamu boleh marah.
Tetapi tidak harus langsung membalas.
Kamu boleh kecewa.
Tetapi tidak harus langsung mengambil keputusan besar.
Kamu boleh sedih.
Tetapi tidak harus menyimpulkan bahwa hidupmu akan selalu buruk.
Perasaan bisa datang dengan cepat.
Tetapi tindakan tetap bisa dipilih.
Dan sering kali, kedewasaan bukan tentang tidak memiliki emosi yang kuat, melainkan tentang kemampuan untuk tidak membiarkan emosi sesaat menentukan seluruh hidup kita.
3. Pelajari Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Kamu Kendalikan
Banyak penderitaan manusia berasal dari satu kesalahan sederhana:
kita mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Kita tidak bisa mengendalikan pendapat semua orang.
Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana seseorang memperlakukan kita.
Kita tidak bisa memastikan hubungan akan bertahan selamanya.
Kita tidak bisa menjamin semua rencana berjalan sesuai harapan.
Kita tidak bisa menghapus masa lalu.
Dan kita tidak bisa memastikan bahwa semua orang akan memahami niat baik kita.
Namun sering kali kita menghabiskan begitu banyak energi untuk memikirkan hal-hal tersebut.
Akibatnya, kita kelelahan.
Dalam psikologi, kemampuan membedakan antara hal yang berada dalam kendali dan hal yang berada di luar kendali sangat membantu seseorang menghadapi tekanan kehidupan.
Cobalah membagi masalah menjadi dua kategori.
Hal yang bisa kamu kendalikan
Kamu bisa mengendalikan:
pilihanmu,
tindakanmu,
cara berbicara,
batas yang kamu buat,
bagaimana kamu menggunakan waktu,
bagaimana kamu merespons kegagalan,
siapa yang kamu izinkan dekat denganmu,
dan apakah kamu mau belajar dari pengalaman.
Hal yang tidak bisa kamu kendalikan
Kamu tidak bisa sepenuhnya mengendalikan:
pendapat orang lain,
masa lalu,
keputusan orang lain,
perubahan keadaan,
hasil akhir dari semua usaha,
dan bagaimana orang lain menafsirkan dirimu.
Perbedaan ini terlihat sederhana.
Tetapi menerapkannya dalam kehidupan membutuhkan latihan.
Misalnya, kamu sudah melakukan yang terbaik dalam sebuah pekerjaan, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Kamu bisa mengevaluasi usaha.
Kamu bisa memperbaiki kesalahan.
Kamu bisa belajar.
Tetapi kamu tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubah apa yang sudah terjadi.
Menerima hal tersebut bukan berarti menyerah.
Justru sebaliknya.
Penerimaan membuat energi kita kembali kepada sesuatu yang memang bisa kita lakukan.
Jangan habiskan energi untuk mengetuk pintu yang tidak terbuka
Ada hubungan yang harus dilepaskan.
Ada kesempatan yang memang tidak menjadi milik kita.
Ada orang yang tidak akan pernah memahami kita.
Ada masa lalu yang tidak bisa diperbaiki.
Ada hal-hal yang harus kita terima bukan karena kita menyukainya, tetapi karena kita menyadari bahwa melawannya terus-menerus hanya membuat kita semakin lelah.
Hidup menjadi lebih ringan ketika kita belajar mengatakan:
"Aku tidak bisa mengendalikan semuanya. Tetapi aku masih bisa memilih bagaimana aku menjalaninya."
4. Pelajari Cara Membuat Batasan yang Sehat
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi orang baik berarti selalu tersedia untuk orang lain.
Harus selalu membantu.
Harus selalu mengerti.
Harus selalu memaafkan.
Harus selalu berkata "iya".
Padahal, kebaikan tanpa batas dapat berubah menjadi pengorbanan diri yang tidak sehat.
Memiliki batasan bukan berarti menjadi egois.
Batasan adalah cara memberi tahu diri sendiri dan orang lain tentang apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak.
Misalnya:
"Aku tidak bisa membicarakan masalah ini sekarang. Kita bisa membahasnya ketika aku sudah lebih tenang."
Atau:
"Aku memahami kamu membutuhkan bantuan, tetapi saat ini aku tidak sanggup melakukannya."
Kalimat seperti itu mungkin terasa sulit diucapkan, terutama bagi orang yang terbiasa mencari penerimaan.
Namun mengatakan "tidak" bukan berarti kamu orang jahat.
Kamu tidak harus membuat semua orang menyukaimu
Salah satu tanda kedewasaan emosional adalah menyadari bahwa menjadi manusia yang baik tidak sama dengan menjadi manusia yang selalu disukai.
Akan ada orang yang kecewa ketika kamu menetapkan batas.
Akan ada orang yang menganggapmu berubah.
Akan ada orang yang mengatakan kamu terlalu sensitif.
Dan itu tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.
Kadang-kadang, orang lain tidak menyukai batasan kita karena sebelumnya mereka mendapatkan terlalu banyak akses kepada kita.
Belajar menetapkan batas berarti memahami bahwa waktu, energi, perhatian, dan kapasitas emosional kita juga memiliki batas.
Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang.
Kita tidak harus menjelaskan semua keputusan.
Kita tidak harus selalu tersedia.
Dan kita tidak harus menghancurkan diri sendiri hanya untuk membuktikan bahwa kita peduli.
Batasan juga berlaku terhadap diri sendiri
Ini bagian yang sering dilupakan.
Batasan bukan hanya untuk orang lain.
Kita juga perlu menetapkan batas terhadap diri sendiri.
Misalnya:
berhenti bekerja ketika tubuh sudah terlalu lelah,
berhenti membandingkan diri setelah menyadari media sosial membuat kita tertekan,
berhenti mengejar seseorang yang terus menunjukkan bahwa ia tidak menginginkan kita,
berhenti mengulang kesalahan yang sama tanpa belajar darinya,
dan berhenti menuntut kesempurnaan dari diri sendiri.
Menjaga diri bukan tanda kelemahan.
Itu adalah bentuk tanggung jawab.
5. Pelajari Cara Menghadapi Kegagalan dan Ketidakpastian
Kalau ada satu hal yang tidak bisa dihindari dalam hidup, itu adalah kegagalan.
Kita akan ditolak.
Kita akan salah.
Kita akan kehilangan sesuatu.
Kita akan membuat keputusan buruk.
Kita akan mengalami hari-hari ketika usaha kita terasa sia-sia.
Dan terkadang, kita akan melakukan segala sesuatu dengan benar tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Di sinilah kemampuan untuk menghadapi kegagalan menjadi sangat penting.
Banyak orang menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.
Padahal, kegagalan adalah sebuah peristiwa, bukan identitas.
"Aku gagal dalam sesuatu" berbeda dengan:
"Aku adalah orang gagal."
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama memberikan ruang untuk belajar.
Kalimat kedua menyerang identitas diri.
Jangan jadikan satu kegagalan sebagai kesimpulan tentang seluruh hidup
Kamu gagal dalam sebuah hubungan bukan berarti kamu tidak layak dicintai.
Kamu gagal dalam pekerjaan bukan berarti kamu tidak kompeten.
Kamu kehilangan sebuah kesempatan bukan berarti hidupmu selesai.
Kamu membuat keputusan buruk bukan berarti kamu adalah orang buruk.
Manusia terlalu sering menggunakan satu pengalaman untuk membuat kesimpulan permanen.
Padahal hidup jauh lebih kompleks daripada itu.
Satu bab yang buruk tidak menentukan keseluruhan cerita.
Belajar hidup dengan ketidakpastian
Tidak semua pertanyaan akan segera memiliki jawaban.
Kadang-kadang kita harus mengambil keputusan tanpa mengetahui hasil akhirnya.
Haruskah aku bertahan?
Haruskah aku pergi?
Apakah keputusan ini benar?
Apakah semuanya akan baik-baik saja?
Kita ingin kepastian.
Tetapi kehidupan tidak selalu memberikannya.
Karena itu, salah satu kemampuan penting dalam menjalani hidup adalah belajar mengatakan:
"Aku belum tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku akan menghadapi apa pun yang datang."
Ini bukan kepastian.
Ini adalah kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri untuk beradaptasi.
Dan sering kali, itulah bentuk keberanian yang sebenarnya.
6. Pelajari Apa yang Membuat Hidupmu Bermakna
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:
"Bagaimana caranya agar aku bahagia?"
Tetapi:
"Untuk apa aku menjalani hidup ini?"
Kebahagiaan penting.
Tetapi kebahagiaan tidak selalu hadir setiap saat.
Ada hari ketika kita bahagia.
Ada hari ketika kita sedih.
Ada hari ketika kita bosan.
Ada hari ketika kita kehilangan arah.
Jika kita menjadikan perasaan bahagia sebagai satu-satunya ukuran kehidupan yang baik, kita akan kecewa ketika kehidupan menjadi sulit.
Karena itu, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada kesenangan sesaat: makna.
Makna bisa ditemukan dalam banyak hal.
Bagi seseorang, makna mungkin berasal dari keluarga.
Bagi orang lain, dari pekerjaan yang bermanfaat.
Bagi sebagian orang, dari menciptakan sesuatu.
Ada yang menemukan makna melalui persahabatan, pembelajaran, pelayanan, kreativitas, atau kontribusi kepada orang lain.
Tidak ada satu formula universal.
Yang penting adalah menemukan sesuatu yang membuat kehidupan terasa layak dijalani.
Hidup yang bermakna tidak selalu terlihat luar biasa
Kadang-kadang kita terlalu terpengaruh oleh gambaran kesuksesan yang besar.
Rumah besar.
Karier tinggi.
Perjalanan ke berbagai negara.
Bisnis yang sukses.
Pengikut yang banyak.
Tetapi kehidupan yang bermakna tidak selalu terlihat spektakuler.
Mungkin makna hidup seseorang adalah membesarkan anak dengan penuh kasih.
Mungkin seseorang menemukan makna dengan merawat orang tuanya.
Mungkin seseorang merasa hidupnya berarti ketika mengajar orang lain.
Mungkin seseorang hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik daripada dirinya yang kemarin.
Itu semua valid.
Kehidupan tidak harus mengesankan bagi semua orang untuk menjadi berarti bagi kita.
Tanyakan tiga hal ini
Jika kamu sedang kehilangan arah, cobalah bertanya:
Apa yang penting bagiku?
Siapa yang ingin aku bantu atau bahagiakan?
Orang seperti apa yang ingin aku menjadi?
Pertanyaan tersebut menggeser fokus dari sekadar "apa yang ingin aku dapatkan?" menjadi "siapa yang ingin aku menjadi?"
Dan perubahan perspektif ini dapat membuat kehidupan terasa jauh lebih bermakna.
Pada Akhirnya, Hidup yang Baik Bukan Hidup yang Sempurna
Mungkin setelah membaca enam hal ini, kamu menyadari bahwa menjalani hidup dengan baik bukanlah sebuah tujuan yang bisa dicapai sekali lalu selesai.
Kita akan terus belajar.
Kita akan kembali bingung.
Kita akan mengalami hari buruk.
Kita akan membuat kesalahan.
Kita akan kehilangan kendali.
Kita akan kembali takut.
Dan itu semua bagian dari menjadi manusia.
Hidup yang baik bukan kehidupan tanpa kesedihan.
Bukan kehidupan tanpa kegagalan.
Bukan kehidupan tanpa konflik.
Bukan kehidupan yang selalu tenang.
Hidup yang baik adalah kehidupan di mana kita semakin mengenal diri sendiri, semakin mampu memahami emosi, semakin bijak memilih apa yang perlu diperjuangkan, semakin berani membuat batasan, semakin mampu menerima ketidakpastian, dan semakin memahami apa yang benar-benar bermakna bagi kita.
Jadi, jika kamu ingin menjalani hidup dengan lebih baik, jangan hanya bertanya:
"Bagaimana caranya agar hidupku menjadi lebih mudah?"
Cobalah bertanya:
"Bagaimana caranya agar aku menjadi lebih siap menghadapi kehidupan?"
Karena kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi.
Tetapi kita bisa terus belajar memilih bagaimana kita meresponsnya.
Kamu tidak harus memiliki seluruh jawaban hari ini.
Kamu hanya perlu terus mengenal dirimu.
Terus belajar.
Terus memperbaiki diri.
Terus melepaskan hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan.
Dan terus membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai yang benar-benar kamu percaya.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang mengetahui semua jawaban.
Kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan meskipun kita belum mengetahui seluruh jalan di depan kita.
Dan mungkin, itulah salah satu bentuk hidup yang baik:
bukan hidup yang sempurna,
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022