Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2026 | 18.45 WIB

7 Alasan Mengapa Terlihat Konyol Bisa Bermanfaat bagi Otak Kamu Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang bersikap konyol / foto: Magnific/peshkovagalina

JawaPos.com - Pernahkah kamu sengaja melakukan sesuatu yang sedikit konyol—bercanda dengan teman, tertawa terlalu keras, membuat ekspresi wajah aneh, menari tanpa peduli terlihat bagus atau tidak, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu masuk akal?

Bagi sebagian orang, perilaku seperti itu mungkin terlihat kekanak-kanakan, tidak serius, bahkan memalukan. Kita hidup dalam lingkungan yang sering mengajarkan bahwa menjadi dewasa berarti harus selalu terlihat tenang, rasional, profesional, dan terkendali.

Namun, dari sudut pandang psikologi, kemampuan untuk terlihat konyol sesekali justru bisa memiliki manfaat psikologis.

Tentu saja, bukan berarti kamu harus bertingkah aneh setiap saat atau sengaja mempermalukan diri sendiri. Yang dimaksud adalah kemampuan untuk melepaskan kebutuhan agar selalu terlihat sempurna, serius, dan terkendali.

Menariknya, ketika seseorang berani sedikit "konyol", ada beberapa proses psikologis yang dapat bekerja di baliknya: stres bisa berkurang, hubungan sosial dapat menjadi lebih hangat, kreativitas lebih bebas, dan seseorang bisa menjadi lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat tujuh alasan mengapa terlihat konyol sesekali bisa bermanfaat bagi otak dan kesehatan psikologis kamu.

1. Terlihat Konyol Bisa Membantu Menurunkan Stres

Salah satu manfaat terbesar dari humor dan perilaku bermain-main adalah kemampuannya membantu seseorang keluar sejenak dari kondisi psikologis yang terlalu tegang.

Ketika sedang menghadapi pekerjaan, masalah keluarga, tekanan sosial, atau berbagai tuntutan kehidupan, otak dapat berada dalam kondisi kewaspadaan yang tinggi. Kita menjadi terlalu fokus pada apa yang salah, apa yang harus dilakukan berikutnya, dan bagaimana orang lain menilai kita.

Dalam kondisi seperti itu, melakukan sesuatu yang ringan dan konyol dapat menjadi semacam "jeda psikologis".

Misalnya, setelah bekerja berjam-jam, kamu tiba-tiba membuat suara lucu, bercanda dengan teman, menonton sesuatu yang membuat tertawa, atau menari sebentar di kamar.

Masalahmu memang belum hilang.

Tetapi hubunganmu dengan masalah tersebut bisa berubah.

Kamu tidak lagi berada dalam mode yang sepenuhnya serius.

Humor dapat membantu mengubah cara seseorang memandang situasi yang penuh tekanan. Sesuatu yang sebelumnya terasa sangat berat dapat terlihat sedikit lebih ringan ketika seseorang mampu menemukan sisi lucu di dalamnya.

Inilah salah satu alasan mengapa humor sering digunakan dalam interaksi sosial maupun dalam berbagai pendekatan psikologis.

Tertawa bukanlah solusi untuk semua masalah. Namun, kemampuan untuk berhenti sejenak dan tertawa dapat memberikan ruang psikologis agar otak tidak terus-menerus berada dalam mode tekanan.

Dengan kata lain, sedikit kekonyolan dapat menjadi tombol "pause" bagi pikiran yang terlalu serius.

2. Kamu Melatih Otak untuk Tidak Terlalu Takut terhadap Penilaian Orang Lain

Banyak orang sebenarnya ingin melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan, tetapi menahannya karena satu pertanyaan:

"Nanti orang lain menganggap aku bagaimana?"

Kita takut terlihat bodoh.

Takut salah.

Takut tidak keren.

Takut dianggap aneh.

Takut menjadi bahan pembicaraan.

Ketakutan terhadap penilaian sosial merupakan bagian yang cukup normal dari kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memang memiliki kecenderungan memperhatikan bagaimana dirinya diterima oleh kelompok.

Namun, jika kebutuhan untuk terlihat sempurna menjadi terlalu kuat, kehidupan bisa menjadi melelahkan.

Kamu mulai terlalu sering mengedit diri sendiri.

Sebelum berbicara, berpikir terlalu lama.

Sebelum mengunggah sesuatu, menghapusnya berkali-kali.

Sebelum melakukan sesuatu, membayangkan komentar orang lain.

Di sinilah kemampuan untuk terlihat sedikit konyol bisa menjadi latihan psikologis.

Misalnya, kamu menyanyi dengan suara yang biasa saja di depan teman dekat. Atau kamu melakukan gerakan tarian yang memang sengaja lucu. Atau kamu mengakui bahwa kamu tidak tahu sesuatu yang sebenarnya dianggap semua orang sudah tahu.

Ketika kamu melakukan itu dan ternyata tidak terjadi bencana apa pun, otak mendapatkan pengalaman baru:

"Ternyata aku bisa terlihat tidak sempurna dan tetap baik-baik saja."

Pengalaman seperti ini dapat membantu seseorang menjadi lebih toleran terhadap rasa malu dan ketidaknyamanan sosial.

Lambat laun, kamu bisa menjadi lebih bebas.

Bukan karena kamu tidak peduli sama sekali terhadap pendapat orang lain, melainkan karena pendapat orang lain tidak lagi sepenuhnya mengendalikan perilakumu.

3. Kekonyolan Bisa Membuka Ruang bagi Kreativitas

Ada alasan mengapa bermain dan humor sering berkaitan dengan kreativitas.

Ketika seseorang terlalu takut membuat kesalahan, pikirannya cenderung menjadi lebih kaku.

Ia hanya memilih jawaban yang dianggap aman.

Sebaliknya, ketika seseorang memberi dirinya izin untuk bermain-main, mencoba hal aneh, dan menghasilkan sesuatu yang "tidak masuk akal", otak memiliki ruang lebih besar untuk mengeksplorasi kemungkinan.

Bayangkan seorang penulis yang ingin membuat cerita.

Jika sejak awal ia berpikir:

"Ide ini terlalu aneh."

"Orang pasti tidak suka."

"Ini terdengar bodoh."

Mungkin banyak ide menarik akan mati sebelum sempat berkembang.

Sebaliknya, jika ia berkata:

"Coba saja dulu."

Maka ide yang awalnya terlihat konyol mungkin dapat berkembang menjadi sesuatu yang menarik.

Hal serupa terjadi dalam berbagai aktivitas kreatif.

Seorang desainer bisa menghasilkan konsep yang aneh sebelum menemukan desain yang bagus.

Seorang pengusaha bisa menghasilkan banyak ide buruk sebelum menemukan peluang yang menjanjikan.

Seorang ilmuwan bisa mengajukan hipotesis yang belum sempurna sebelum melakukan pengujian.

Karena itu, kekonyolan dalam tahap awal proses kreatif tidak selalu merupakan masalah. Kadang-kadang justru merupakan bagian dari proses menemukan sesuatu yang baru.

Kamu tidak perlu langsung menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Terkadang otak perlu diberi izin untuk bermain terlebih dahulu.

4. Humor Dapat Mempererat Hubungan Sosial

Pernah memperhatikan bagaimana dua orang yang baru saja bercanda bersama tiba-tiba terasa lebih dekat?

Humor memiliki fungsi sosial yang sangat kuat.

Ketika seseorang tertawa bersama kita, ada pengalaman emosional yang dibagikan. Kita tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga mengalami sesuatu bersama.

Itulah mengapa humor sering muncul dalam persahabatan, keluarga, hubungan romantis, bahkan lingkungan kerja.

Melakukan sesuatu yang sedikit konyol bersama orang lain juga dapat mengurangi jarak sosial.

Bayangkan dua rekan kerja yang awalnya sangat formal.

Kemudian salah satu dari mereka melakukan kesalahan kecil dan berkata sambil bercanda:

"Otak saya sepertinya masih loading."

Orang lain tertawa.

Situasi menjadi lebih santai.

Hubungan tidak lagi terasa terlalu kaku.

Dalam konteks yang tepat, humor dapat membuat seseorang terlihat lebih manusiawi. Kita melihat bahwa orang tersebut tidak selalu serius dan sempurna.

Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan pertemanan.

Ketika kamu dan teman bisa tertawa atas sesuatu yang tidak penting, sebenarnya kalian sedang membangun pengalaman bersama.

Dan pengalaman bersama merupakan salah satu bahan penting dalam hubungan sosial.

Namun ada perbedaan penting:

humor yang menghubungkan berbeda dengan humor yang merendahkan.

Bercanda bersama orang lain dapat mempererat hubungan. Sebaliknya, menjadikan seseorang sebagai bahan ejekan tanpa persetujuannya dapat merusak hubungan.

Jadi, manfaat kekonyolan paling besar biasanya muncul ketika semua pihak merasa aman dan dihargai.

5. Kamu Bisa Menjadi Lebih Fleksibel secara Mental

Orang yang terlalu terpaku pada bagaimana dirinya "seharusnya" terlihat dapat mengalami tekanan yang tidak perlu.

"Saya harus selalu terlihat pintar."

"Saya harus selalu tenang."

"Saya tidak boleh melakukan kesalahan."

"Saya harus selalu terlihat dewasa."

Masalahnya, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai standar tersebut.

Kadang kamu salah bicara.

Kadang kamu lupa.

Kadang kamu terlihat bodoh.

Kadang kamu melakukan sesuatu yang memalukan.

Dan itu manusiawi.

Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dalam situasi yang tepat dapat membantu seseorang menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi ketidaksempurnaan.

Misalnya, kamu salah menyebut sebuah kata ketika berbicara di depan orang lain.

Kamu bisa langsung panik dan memikirkan kesalahan itu selama berjam-jam.

Atau kamu bisa tertawa kecil dan berkata:

"Oke, itu bukan cara pengucapan yang saya rencanakan."

Kemudian lanjut berbicara.

Perbedaannya mungkin terlihat kecil.

Tetapi secara psikologis, kemampuan untuk kembali melanjutkan aktivitas setelah kesalahan adalah hal yang berharga.

Kamu tidak membiarkan satu kesalahan kecil menentukan seluruh pengalamanmu.

Dalam arti tertentu, menertawakan diri sendiri secara sehat adalah bentuk fleksibilitas mental.

6. Bermain dan Bertingkah Konyol Bisa Memberi Otak Kesempatan untuk Beristirahat

Tidak semua aktivitas yang bermanfaat bagi otak harus terlihat produktif.

Ini merupakan konsep yang sering dilupakan dalam kehidupan modern.

Kita terbiasa mengukur hari berdasarkan seberapa banyak pekerjaan yang selesai.

Belajar dianggap produktif.

Bekerja dianggap produktif.

Berolahraga dianggap produktif.

Membaca dianggap produktif.

Tetapi tertawa bersama teman selama 30 menit?

Menari sendirian di kamar?

Bermain dengan anak kecil?

Melakukan hal bodoh hanya karena menyenangkan?

Kadang kita menganggapnya sebagai pemborosan waktu.

Padahal manusia juga membutuhkan aktivitas yang tidak memiliki tujuan serius.

Bermain memberikan kesempatan untuk melepaskan diri dari tuntutan performa.

Ketika bermain, kamu tidak selalu mengejar hasil.

Kamu hanya mengalami aktivitas tersebut.

Itulah sebabnya aktivitas bermain sering terasa menyegarkan.

Setelah melakukan sesuatu yang menyenangkan dan tidak terlalu serius, seseorang dapat kembali mengerjakan tugas dengan kondisi mental yang lebih segar.

Jadi, tidak semua waktu yang terlihat "tidak produktif" benar-benar sia-sia.

Ada kalanya otak membutuhkan recovery, bukan tambahan pekerjaan.

Dan salah satu bentuk recovery sederhana adalah tertawa dan bermain.

7. Kamu Belajar Bahwa Harga Dirimu Tidak Harus Bergantung pada Kesempurnaan

Mungkin ini adalah manfaat yang paling dalam.

Banyak orang membangun harga dirinya berdasarkan bagaimana mereka terlihat di mata orang lain.

"Saya berharga kalau saya pintar."

"Saya berharga kalau saya sukses."

"Saya berharga kalau saya terlihat menarik."

"Saya berharga kalau orang lain mengagumi saya."

Masalahnya, semua hal tersebut dapat berubah.

Hari ini kamu berhasil.

Besok kamu gagal.

Hari ini orang memujimu.

Besok mereka mengkritikmu.

Kalau harga diri sepenuhnya bergantung pada penilaian eksternal, kondisi emosional akan mudah naik turun.

Kemampuan untuk sesekali terlihat konyol dapat menjadi latihan sederhana untuk melepaskan keterikatan tersebut.

Kamu melakukan sesuatu yang tidak sempurna.

Kamu menyadari bahwa kamu terlihat sedikit bodoh.

Kamu tertawa.

Dan kamu tetap merasa bahwa dirimu baik-baik saja.

Pesan psikologisnya cukup kuat:

"Aku tidak harus terlihat sempurna untuk tetap menghargai diriku sendiri."

Ini bukan berarti seseorang harus mengabaikan penampilan, reputasi, atau perilaku sosial.

Sebaliknya, ini tentang memiliki keseimbangan.

Kita boleh berusaha menjadi lebih baik tanpa harus membenci diri sendiri setiap kali melakukan kesalahan.

Kita boleh ingin terlihat profesional tanpa harus takut menjadi manusia.

Kita boleh serius ketika memang diperlukan, tetapi juga memberi diri sendiri izin untuk bersenang-senang.

Jadi, Haruskah Kamu Sengaja Terlihat Konyol?

Tidak.

Tujuannya bukan membuatmu menjadi orang yang selalu bertingkah aneh.

Yang lebih penting adalah memberikan ruang kepada diri sendiri untuk tidak selalu sempurna.

Ada perbedaan besar antara:

"Aku sengaja bertingkah konyol agar semua orang memperhatikanku."

dan

"Aku tidak takut terlihat sedikit konyol karena aku nyaman menjadi diriku sendiri."

Yang kedua jauh lebih sehat.

Kekonyolan yang bermanfaat biasanya muncul dari rasa aman, spontanitas, humor, dan kemampuan bermain.

Bukan dari keinginan untuk merendahkan diri atau mencari validasi dengan cara ekstrem.

Kamu bisa memulainya dari hal sederhana.

Tertawa ketika melakukan kesalahan kecil.

Membuat lelucon ringan dengan teman.

Menari ketika sedang sendirian.

Menyanyi tanpa memikirkan apakah suaramu bagus.

Mencoba hobi baru tanpa takut terlihat pemula.

Mengatakan "aku tidak tahu" ketika memang tidak tahu.

Atau sekadar membiarkan dirimu menikmati sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki manfaat praktis.

Kesimpulan: Otak Tidak Selalu Membutuhkan Keseriusan

Kehidupan memang membutuhkan keseriusan.

Kita perlu bekerja, belajar, membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab.

Tetapi manusia bukan mesin produktivitas.

Otak juga membutuhkan permainan, humor, hubungan sosial, kreativitas, dan kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan untuk selalu tampil sempurna.

Itulah mengapa terlihat konyol sesekali bukan selalu sesuatu yang buruk.

Justru, ketika dilakukan dalam konteks yang tepat, hal tersebut dapat membantu kita menghadapi stres, mengurangi ketakutan terhadap penilaian sosial, membuka kreativitas, mempererat hubungan, meningkatkan fleksibilitas mental, memberi ruang untuk pemulihan, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, mungkin menjadi dewasa bukan berarti berhenti melakukan hal-hal konyol.

Mungkin menjadi dewasa berarti tahu kapan harus serius dan kapan harus membiarkan diri sendiri bermain.

Karena terkadang, sedikit kekonyolan bukan tanda bahwa otakmu sedang tidak bekerja.

Justru sebaliknya.

Mungkin itu adalah cara otakmu mengambil napas.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore