Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Oktober 2026 | 03.40 WIB

7 Hal yang Dapat Terjadi Jika Kamu Menjadi Lebih Tua daripada Kakakmu Menurut Psikologi, Apa Saja?

seseorang yang menjadi kakak yang baik / foto: Magnific/tirachardz

 

JawaPos.com - Bayangkan sebuah situasi yang terdengar aneh: kamu tiba-tiba menjadi lebih tua daripada kakakmu.

Selama bertahun-tahun, kamu mungkin terbiasa dengan identitas sebagai adik. Kakak adalah sosok yang lebih tua, lebih dahulu lahir, atau setidaknya dianggap memiliki posisi yang lebih senior dalam keluarga. Namun, bagaimana jika keadaan berubah dan secara usia kamu justru menjadi lebih tua darinya?

Situasi seperti ini memang terdengar seperti sesuatu yang hanya terjadi dalam film atau cerita fiksi. Namun, dari sudut pandang psikologi, kondisi tersebut menarik karena usia bukan hanya angka. Usia juga berhubungan dengan identitas, peran sosial, hierarki keluarga, ekspektasi, dan cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Jika seseorang tiba-tiba memiliki usia yang lebih tua daripada kakaknya, perubahan terbesar mungkin bukan pada tubuhnya, melainkan pada cara ia dan orang-orang di sekitarnya memahami hubungan mereka.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat tujuh hal yang mungkin terjadi secara psikologis.

1. Identitasmu sebagai "adik" bisa mulai berubah

Sejak kecil, posisi dalam keluarga sering menjadi bagian dari identitas seseorang.

Jika kamu adalah adik, mungkin ada banyak pengalaman yang secara tidak sadar membentuk identitas tersebut. Kamu terbiasa dipanggil "adik", terbiasa melihat kakak sebagai orang yang lebih dulu mengambil keputusan, dan mungkin juga terbiasa meminta bantuan atau nasihat kepadanya.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan saudara dapat menjadi salah satu lingkungan penting bagi pembentukan identitas. Anak belajar mengenai dirinya melalui interaksi dengan saudara: siapa yang lebih tua, siapa yang lebih bertanggung jawab, siapa yang lebih mandiri, dan siapa yang biasanya membutuhkan bantuan.

Ketika urutan tersebut berubah, kamu bisa mengalami semacam ketidaksesuaian antara identitas lama dan keadaan baru.

Secara sederhana, pikiranmu mungkin mengatakan:

"Aku tetap adiknya, tetapi sekarang aku lebih tua."

Kontradiksi seperti ini dapat membuat seseorang mempertanyakan kembali identitasnya.

Kamu mungkin mulai berpikir:

"Apakah aku masih boleh merasa seperti adik?"

"Apakah sekarang aku harus bersikap seperti kakak?"

"Apakah kakakku masih lebih berpengalaman dariku?"

"Kalau aku lebih tua, apakah tanggung jawabku juga berubah?"

Menariknya, perubahan angka usia tidak otomatis menghapus pola hubungan yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Jika selama puluhan tahun kakak terbiasa menjadi pihak yang memberi nasihat dan kamu menjadi pihak yang menerima nasihat, perubahan usia tidak akan langsung menghapus kebiasaan tersebut.

Artinya, urutan kelahiran dan usia kronologis tidak selalu sama dengan urutan psikologis.

Kamu mungkin lebih tua secara angka, tetapi secara emosional tetap merasa sebagai adik.

2. Hubungan dengan kakak bisa menjadi lebih kompleks

Saudara kandung biasanya memiliki sejarah yang sangat panjang.

Kalian mungkin pernah bertengkar ketika kecil, bermain bersama, saling mengejek, saling membantu, atau bahkan mengalami berbagai masalah keluarga bersama-sama.

Karena itu, hubungan saudara tidak hanya ditentukan oleh siapa yang lebih tua.

Jika kamu menjadi lebih tua daripada kakakmu, hubungan tersebut bisa memasuki fase baru.

Ada kemungkinan muncul rasa canggung.

Misalnya, sebelumnya kakakmu mungkin merasa memiliki posisi tertentu karena dia lebih tua. Dia mungkin terbiasa mengatakan:

"Aku lebih tua, jadi dengarkan aku."

Ketika usia kalian berubah, pernyataan seperti itu kehilangan dasar faktualnya.

Namun, bukan berarti rasa senioritas tersebut langsung hilang.

Di sinilah psikologi hubungan interpersonal menjadi menarik. Manusia tidak hanya menggunakan fakta objektif untuk menentukan posisi sosial. Kita juga menggunakan kebiasaan, pengalaman, status, dan persepsi.

Jadi meskipun kamu lebih tua, kakakmu mungkin tetap merasa sebagai kakak.

Sebaliknya, kamu mungkin juga tetap memperlakukannya sebagai kakak.

Hal ini dapat menghasilkan hubungan yang unik: secara biologis kamu lebih tua, tetapi secara sosial kalian tetap mempertahankan pola kakak-adik.

Pada hubungan saudara yang sehat, perubahan ini bahkan bisa menjadi bahan bercanda.

Kamu mungkin mengatakan:

"Sekarang aku yang lebih tua."

Dan kakakmu mungkin menjawab:

"Tetap saja kamu adikku."

Candaan semacam ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang penting: identitas keluarga tidak selalu mengikuti angka usia.

3. Kamu mungkin mengalami perubahan rasa tanggung jawab

Salah satu konsekuensi psikologis yang mungkin muncul adalah meningkatnya rasa tanggung jawab.

Dalam banyak budaya, orang yang lebih tua sering diasosiasikan dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Kakak sering dianggap sebagai orang yang harus lebih dulu dewasa, lebih banyak membantu keluarga, atau menjadi contoh bagi adiknya.

Jika kamu tiba-tiba lebih tua daripada kakak, ekspektasi tersebut bisa terasa membingungkan.

Kamu mungkin mulai berpikir:

"Kalau sekarang aku lebih tua, apakah aku harus menjadi orang yang lebih bertanggung jawab?"

Padahal, usia tidak otomatis menentukan kematangan psikologis.

Seseorang yang berusia lebih muda bisa saja lebih matang dalam mengambil keputusan dibandingkan seseorang yang lebih tua.

Karena itu, penting untuk membedakan antara usia kronologis dan kematangan psikologis.

Usia kronologis adalah berapa lama seseorang telah hidup.

Sementara kematangan psikologis berkaitan dengan berbagai hal seperti:

kemampuan mengendalikan emosi,

kemampuan mengambil keputusan,

empati,

tanggung jawab,

kemampuan menghadapi konflik,

dan kemampuan memahami konsekuensi tindakan.

Jadi, menjadi lebih tua daripada kakak tidak otomatis berarti kamu harus menjadi "pemimpin" dalam hubungan tersebut.

Tanggung jawab seharusnya tetap ditentukan oleh kondisi, kemampuan, dan kesepakatan masing-masing.

Namun, perubahan usia dapat membuatmu merasakan tekanan internal untuk menjadi lebih dewasa.

4. Kamu bisa mengalami krisis identitas kecil

Perubahan mendadak pada posisi seseorang dalam keluarga dapat memunculkan kebingungan mengenai identitas.

Dalam psikologi, identitas merupakan gambaran seseorang mengenai siapa dirinya dan bagaimana ia menempatkan dirinya dalam lingkungan sosial.

Selama bertahun-tahun, kamu mungkin memiliki cerita tentang dirimu sendiri:

"Aku adalah adiknya."

Kalimat sederhana tersebut sebenarnya dapat memiliki banyak arti.

Mungkin kamu terbiasa menjadi orang yang lebih muda.

Mungkin kamu merasa lebih bebas karena tidak memiliki tanggung jawab seperti kakak.

Mungkin kamu bahkan menggunakan posisi sebagai adik untuk mendapatkan perlindungan.

Ketika usia berubah, cerita tersebut menjadi tidak sepenuhnya cocok dengan realitas baru.

Inilah yang dapat menyebabkan semacam identity dissonance, yaitu ketidaknyamanan ketika gambaran mengenai diri sendiri tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan.

Kamu mungkin merasa:

"Aku tahu aku lebih tua sekarang, tetapi rasanya aneh."

Perasaan tersebut normal.

Otak manusia menyukai konsistensi. Kita cenderung nyaman ketika sesuatu tetap sesuai dengan pola yang sudah kita kenal.

Karena itu, perubahan sederhana dalam urutan usia bisa terasa lebih besar secara psikologis daripada yang terlihat dari luar.

5. Persaingan antara saudara bisa berubah

Hubungan saudara kadang memiliki unsur kompetisi.

Bukan selalu kompetisi yang buruk. Saudara bisa saling memotivasi dalam pendidikan, pekerjaan, olahraga, kehidupan sosial, atau pencapaian lainnya.

Namun, usia juga dapat menjadi salah satu aspek yang dibandingkan.

Contohnya:

siapa yang lebih tua,

siapa yang lebih cepat mandiri,

siapa yang lebih sukses,

siapa yang lebih dulu menikah,

siapa yang lebih dulu memiliki pekerjaan,

atau siapa yang dianggap lebih dewasa.

Jika posisi usia berubah, pola perbandingan juga dapat berubah.

Kamu mungkin merasa memiliki "keunggulan" tertentu karena sekarang lebih tua.

Sebaliknya, kakakmu mungkin merasa kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari identitasnya.

Namun, penting untuk berhati-hati.

Jika perubahan usia dijadikan dasar untuk menentukan siapa yang "lebih hebat", hubungan saudara justru dapat menjadi lebih kompetitif.

Dalam hubungan saudara yang sehat, usia sebaiknya tidak menjadi ukuran utama nilai seseorang.

Kamu tetap bisa lebih tua tanpa harus menjadi lebih pintar.

Kakakmu tetap bisa lebih muda tanpa kehilangan pengalaman hidupnya.

Bahkan, seseorang yang lebih muda bisa memberikan nasihat kepada seseorang yang lebih tua.

Dengan kata lain:

usia menentukan kronologi, bukan kualitas manusia.

6. Kamu mungkin mulai melihat kakakmu dengan cara yang berbeda

Perubahan posisi usia juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang orang lain.

Ketika kakak selalu lebih tua, ada kemungkinan kamu secara tidak sadar menempatkannya dalam posisi tertentu.

Kamu mungkin melihatnya sebagai:

orang yang lebih berpengalaman,

orang yang lebih dewasa,

orang yang harus melindungimu,

atau orang yang menjadi contoh.

Ketika kamu menjadi lebih tua, persepsi tersebut bisa mengalami perubahan.

Kamu mungkin mulai menyadari bahwa kakakmu sebenarnya juga memiliki kelemahan.

Kamu mungkin berpikir:

"Ternyata dia tidak selalu tahu jawabannya."

Atau:

"Selama ini aku menganggap dia lebih dewasa hanya karena dia kakakku."

Ini dapat menjadi bagian dari proses de-idealization, yaitu proses ketika seseorang mulai melihat orang yang sebelumnya dianggap sangat superior sebagai manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pada masa kanak-kanak, kakak bisa terlihat seperti sosok yang sangat besar dan berkuasa.

Ketika dewasa, hubungan saudara biasanya menjadi lebih horizontal.

Jika kemudian usia bahkan berubah sehingga kamu lebih tua, proses tersebut bisa menjadi semakin kuat.

Kakak tidak lagi hanya dilihat sebagai "orang yang lebih tua", tetapi sebagai individu dengan pengalaman hidupnya sendiri.

Ironisnya, perubahan tersebut justru bisa membuat hubungan kalian menjadi lebih dewasa.

7. Pada akhirnya, hubungan kalian mungkin menjadi lebih setara

Ini mungkin merupakan dampak yang paling menarik.

Ketika perbedaan usia tidak lagi menjadi dasar utama hubungan, kalian bisa mulai membangun hubungan yang lebih egaliter.

Kamu tidak harus selalu menjadi adik.

Kakakmu juga tidak harus selalu menjadi pihak yang lebih senior.

Kalian bisa menjadi dua orang dewasa yang saling menghargai.

Dalam hubungan seperti ini, pertanyaan "siapa yang lebih tua?" menjadi kurang penting.

Yang lebih penting adalah:

siapa yang lebih memahami situasi,

siapa yang memiliki pengalaman tertentu,

siapa yang membutuhkan bantuan,

siapa yang mampu memberikan dukungan,

dan bagaimana kalian saling menghormati.

Hubungan saudara yang sehat pada akhirnya bukan tentang siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah.

Hubungan tersebut lebih banyak berkaitan dengan kedekatan, kepercayaan, pengalaman bersama, dan rasa saling memiliki.

Bahkan jika kamu lebih tua daripada kakakmu, kemungkinan besar sebagian besar sejarah hubungan kalian tetap tidak berubah.

Dia tetap pernah menjadi kakakmu ketika kalian kecil.

Kamu tetap pernah menjadi adiknya.

Kenangan itu tidak bisa diubah hanya karena angka usia berubah.

Jadi, Apakah Menjadi Lebih Tua dari Kakak Akan Mengubah Kepribadianmu?

Belum tentu.

Perubahan usia tidak otomatis mengubah kepribadian seseorang.

Kepribadian terbentuk melalui kombinasi faktor biologis, pengalaman, lingkungan, hubungan sosial, dan perkembangan sepanjang hidup.

Namun, perubahan posisi dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.

Kamu mungkin menjadi lebih percaya diri.

Kamu mungkin merasa lebih bertanggung jawab.

Kamu mungkin merasa bingung.

Atau justru kamu tidak merasakan perubahan apa pun.

Semuanya bergantung pada bagaimana kamu memaknai situasi tersebut.

Hal terpenting adalah memahami bahwa usia dan peran keluarga bukanlah hal yang sama.

Seseorang dapat lebih tua tetapi tetap menjadi adik.

Seseorang dapat lebih muda tetapi tetap menjadi sosok yang sangat dihormati.

Dan seseorang dapat kehilangan status "lebih tua" tanpa kehilangan kedekatan emosionalnya dengan saudaranya.

Kesimpulan

Jika kamu menjadi lebih tua daripada kakakmu, perubahan paling menarik kemungkinan bukan terjadi pada tubuhmu, melainkan pada identitas dan dinamika hubungan kalian.

Kamu mungkin mengalami perubahan dalam cara melihat diri sendiri sebagai adik, merasakan tanggung jawab yang berbeda, mempertanyakan identitas, menghadapi perubahan dalam kompetisi saudara, dan akhirnya membangun hubungan yang lebih setara.

Namun, psikologi mengingatkan kita bahwa urutan kelahiran hanyalah salah satu bagian kecil dari hubungan saudara.

Menjadi lebih tua tidak otomatis membuat seseorang lebih matang.

Menjadi lebih muda tidak otomatis membuat seseorang kurang bijaksana.

Dan menjadi adik tidak berarti selamanya harus berada dalam posisi yang lebih rendah.

Pada akhirnya, hubungan antara saudara dibentuk bukan hanya oleh tanggal lahir, tetapi oleh puluhan tahun pengalaman, kenangan, konflik, kasih sayang, dan cara keduanya saling memperlakukan.

Jadi, jika suatu hari kamu secara ajaib menjadi lebih tua daripada kakakmu, mungkin hal paling aneh bukanlah melihat angka usiamu.

Hal yang paling aneh justru ketika kamu menyadari:

"Aku memang sekarang lebih tua darinya, tetapi di dalam hubungan ini, aku masih tetap adiknya."***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore